PALEMBANG ANTARA DUNIA MELAYU DAN TANAH JAWI



Oleh: Hardiansyah
Sejarawan. Tinggal di Bengkulu 

Harianindonesiapost.com-Palembang adalah daerah istimewa dari segi sejarah dan budaya, seolah menjadi wadah akulturasi berbagai macam warisan budaya leluhur masa lalu dari berbagai bangsa. Menjelma sebagai "Riverstate", Palembang telah sejak masa lalu terkenal dalam jalur rempah dan jalur dagang nusantara. Pengaruh Sriwijaya yang mewujud sebagai sebuah kekuatan maritim utama di nusantara sangat lekat dengan daerah di Sumatera selatan ini. Walaupun kemudian pasca Sriwijaya runtuh, daerah ini seolah terlupakan.

Sriwijaya, Sungai Musi, empek empek, dan Jembatan Ampera menjadi sebuah icon yang memiliki relasi kuat. Jika disebut salah satunya orang akan "notice" bahwa itu adalah ciri yang lekat dari Palembang, sebagaimana ketika disebut Raflesia Arnoldi orang akan segera terpaut kepada Bengkulu. Namun bukan itu yang hendak disentuh, ada satu hal istimewa yang terlupa namun sangat penting.

Sebagai daerah di Sumatera bagian selatan, Palembang terserap dalam dunia Melayu di satu sisi namun tak lepas pula dari pengaruh Jawa di sisi yang lain. Diceritakan dalam Sejarah Melayu seorang Raja bernama Seri Tribuana yang membuat kota di Ujung tanah, negeri Zir bad (di bawah angin) bernama Singapura. ia juga diceritakan membangun dan membina kota Malaka.

Dalam cerita tutur Jawa, Palembang memiliki tempat yang istimewa karena m,erupakan tempat kelahiran tokoh raja pertama Islam Demak, Raden Fatah. Raden Patah adalah anak dari Prabu Brawijaya dari Majapahit dengan seorang wanita Cina. Dalam babad tanah Jawi dikisahkan bahwa Raden Patah berhasil mendirikan kerajaan Demak.

Husni Rahim dalam penelitiannya mengungkapkan sesuatu yang unik bahwa kesultanan Palembang yang muncul kira - kira abad ke 16 menisbahkan dirinya sebagai turunan dari Jawa yang lepas dari pengaruh Melayu. Jika dalam pengaruh Melayu mereka mengaitkan hubungannya denfgan Raja Iskandar Zulkarnain, maka dalam pengaruh Jawa ini tokoh Kiai Geding Suro dinisbatkan sebagai cucu Nabi Muhammad.

Lingkaran budaya melayu dan budaya Jawa tercermin dalam kehidupan keraton dan masyarakat. Setidaknya ada beberapa hal :

Pertama, penggunaan istilah Penghulu mirip istilah yang dipakai di Jawa yaitu menunjukkan pejabat agama. Sedangkan di daerah melayu, istilah penghulu biasanya menunjukkan identitras sebagai pemimpin adat

kedua : Istilah ilir dan ulu adalah istilah khas melayu dimana orang jawa biasanya menggunakan istilah dengan menggunakan mata angin. Lor, Wetan, Kidul, kulon

Ketiga : Bahasa yang dipergunakan masayarakat Palembang adalah bahasa melayu dan sastra yang berkembang adalah sastra Melayu yang lekat dengan hikayat, sjair dan pantun. sedangkan bahasa yang digunakan dalam keraton adalah bahasa kromo inggil

Keempat : Sistem pencalag Lima yang digunakan oleh Majapahit digunakan pula oleh palembang dengan sedikit perubahan

Kelima :Lembaga pendidukan agama di Palembang dikeola oleh para birokrat agama melalui pengajian di masjid dan di rumahpejabat agama. Pesantren dalam catatan Husni Rahim baru muncul pada abad ke 20. sehingga tidak sama seperti di Jawa, di dunia Melayu ;embaga pendidika n selalu dsigabungkan dengan pusat kota.

Lalu bagaimana dengan gelar - gelar yang muncul hingga saat ini 
seperti Mas Agus, Kiagus, Kemas ?

Mas Agus berarti berharga banyak. gelar ini diberikan pasda anak laki - laki dari hasil perkawinan seorang Pangeran atau Raden dengan seorang perempuan dari golongan raktyat. Istri dan anak dari seorang Masagus diberi gelar Masayu. sedangkan istri dan anak dari Raden dan pangeran disebut Denayu.

Kemas adalah gelar yang diberikan kepada anak laki - laki dari perkawinan seorang Masayu dengan seorang pria dari masyarakat kebanyakan.

Kiagus adalah gelar yang diberikan kepada anak laki - laki dari mantri dan turunan raden dengan rakyat kebanyakan.

Dilihat dari pola ini nampak Palembang lebih mirip alam Melayu yang egaliter dimana kaum bangsawan bebas menikah dengan siapapun termasuk rakyat dibandingkan dengan Jawa yang lebih rigid dalam mengatiur perjodohan kaum bangsawan. (Sudono Syueb/ed)

Wallahu'alambishawab

Post a Comment

0 Comments