Socialize

Budaya Membuka Diri



Oleh : Roni Haldi, Lc
Penghulu di KUA Kec Susoh, Aceh Barat Daya


Harianindonesiapost.com-Pernah saya mendapati sebuah penyampaian dari Dr. Muhammad Abu Musa yang menyampaikan, "Abd al-Qaher al-Jarjani adalah seorang penyair (asy'ari), tetapi dia membuka diri terhadap ilmu al-Jahez (al-Mu'tazili), dan tidak ada yang membaca ilmu al-Jahez seperti yang telah dibaca oleh Abd al-Qaher. Kemudian al-Zamakhshari (al-Mu'tazili) yang sangat terkenal memegang teguh pemahaman mu'tazilahnya, tapi beliau sangat kuat membaca apa yang ditulis oleh Abd al-Qaher yang asy'ari. Jadi dia membaca ilmu Abd al-Qaher (al-Ash'ari), dan tidak ada yang membaca ilmu Abd al-Qaher seperti yang al-Zamakhshari baca."

Perbedaan antara Mu'tazilah dan Asy'ariyah tidak pernah melarang bahkan sampai masuk pada wilayah mengharamkan aktivitas keilmuan. Karena semakin tinggi budaya orang atau sekelompok orang, semakin saling menerima satu sama lain. Semakin tinggi keilmuan seseorang atau sekelompok orang, semakin saling berlapang menghargai satu dengan yang lain. Tetapi itu dilarang di zaman kita dan sering dilanggar tak dianggap penting. 

Kelemahan budaya membuka diri mengarah - pasti - pada prilaku tidak pantas berwujud doktrin ketidakbolehan bahkan naik meningkat pada keharaman berinteraksi ilmiah dengan sesiapa atau kelompok apa yang berseberangan pemahaman. Lebih banyak tidak boleh daripada bolehnya. Lebih banyak diharamkan daripada dihalalkan. Aneh memang bagi sesiapa saja yang terbuka merdeka menggunakan akal karunia tertinggi Allah Taala. Tapi begitu lah kenyataan yang ada. 

Kelemahan budaya membuka diri terhadap ilmu ternyata juga mengakibatkan efek buruk pada akhlak dengan sesama saudara se-iman. Asal terdengar nama seseorang atau dari kelompok yang berbeda pemahaman ilmu dengannya, maka jangan diharap ada ruang dialog berbingkai keilmuan. Yang tersisa hanya sedikit ruang kecil lagi sempit diisi oleh kebencian. Padahal beda hanya pada tataran pemahaman bukan yang lain, namun bisa merengsek mengoyak persaudaraan se-iman.

Mari petik hikmah pembacaan dua tokoh asy'ariyah dan mu'tazilah dalam membudayakan membuka diri terhadap keilmuan. Agar substansi perbedaan tak merambah merusak persaudaraan se-iman.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel