Al Imam al Ghazali: Sunnah Shahabat bukan Hujjah



Bukhori at-Tunisi
(Penulsi buku, Konsep Teologi Ibn Taimiyah)

Harianindonesiapost.com-Shahabat Nabi adalah orang-orang yang istimewa. Bahkan dijamin masuk syurga, karena Allah ridla dengan mereka, dan mereka pun dengan rela hati, menjalankan semua perintah Allah dan Rasulnya. Mereka menyaksikan langsung kehidupan Rasul saw. saat menerima wahyu, dipraktikan dan diterapkan dalam kehidupan sosial mereka, sehingga terbentuk ummat terbaik (khairu ummah).

Karena istimewanya mereka, sumber agama pun harus melalui mereka sebagai jalur mata rantai (sanad) asal-muasal ajaran Agama. Jika tidak, maka tertolaklah ajaran tersebut. Dari mereka, ajaran agama diketahui dan disandarkan asal-usulnya kepada yang punyak hak membuat syariat (syari’, شارع), yaitu Allah dan Rasul-Nya.

Bagaimana pasca Nabi wafat, lalu ada Shahabat Nabi melakukan sesuatu, baik qaul, fi’liyah, dan taqrir, baik dalam bentuk fatwa atau pendapt pribadi yang betul-betul murni belum pernah diucapkan, dilakukan, atau memperoleh persetujuan Nabi saw? Apakah bisa dijadikan sumber tasyri’? atau dalam bahasa laiinya, Apakah qaul Shahabi, fiqhus Shahabi, atau sunnah Shahabi bisa dijadikan hujjah?

Ada dua pendapat: 1. Menerima Sunnah Shahabat sebagai Hujah; 2. Menolah Sunnah Shahabat sebagai hujjah.

Yang menerima, sudah mafhum semua. Karena itu, akan dijelaskan di belakang. Sedang yang menolak, alasannya akan dipaparkan terlebih dahulu.

Ada dua konsekuensi dari pendapat antara dapat dan tidak dapatnya Sunnah Shahabat menjadi hujjah. Yaitu antara tertutup dan terbukanya pentasyrian hukum baru, baik di ranah ubudiyah dan ranah mu’amalah. Pada akhirnya, ijtihad bukan hanya dalam muamalah saja, namun ijtihad meliputi urusan ubudiyah dan mu’amalah. Tergantung pilihan.

Sunnah Shahabat, apa itu?

Sunnah Shahabat adalah: Perkataan, perbuatan, persetujuan Shahabat Nabi pasca Nabi Muhmmad wafat, yang sama sekali tidak disandarkan kepada Nabi saw. Ia murni “qauliyah”, “fi’liyah”, atau “taqrir” Shahabat; sama sekali tidak bersumber dari Nabi. Para ahli menyebut dengan berbagai macam istilah: Sunnah Shahabat (سنة الصحابي), Fiqih Shahabat (فقه الصحابي), Fatwa Shahabat (فتوى الصحابي), Qaul Shahabat (قول الصحابي), Fi’l[us] Shahabat (فعل الصحابي), atau Taqrir Shahabat (تقرير الصحابي). Bila disandarkan dengan “Hadits”, maka “Hadits” yang sampai kepada “shahabat” atau “disandarkan” kepada Shahabat, dan tidak sampai (maushul) kepada Nabi, dan “berhenti” (maquf) sampai Shahabat disebut dengan “Hadits Mauquf” (حديث موقوف).

Karena itu, “Sunnah Shahabat” berbeda sama sekali dengan “Sunnah Nabi” atau “Hadits Nabi”, karena “Sunnah Shahabat” murni “produk” Shahabat atas ijtihadnya sendiri, yang sama sekali tidak pernah “dinyatakan”, “dilakukan”, atau “disetujui” oleh Nabi. Karena itu, “Sunnah Shahabat” adalah murni produk Shahabat, bukan “produk” Nabi.

Apakah Sunnah Shahabat bisa dijadikan “hujjah”, atau “dalil”? ada dua kelompok besar: 1. Sunnah Shahabat bisa menjadi hujjah; 2. Sunnah Shahabat tidak bisa dijadikan hujjah. Untuk yang pertama sudah “jamak” dan banyak diketahui khalayak. Untuk yang kedua, jarang diketahui khalayak, dan tidak umum. [biasanya] untuk yang kedua hanya berlaku di kalangan kelompok modernis, puritan, “pemurnian”, atau “taqdisi”.

al-Ghazali: Menolak

Adalah Hujjatul Islam, pioner kelompok Ahlus Sunnah wa al Jama’ah, menolak bahwa Sunnah Shahabat sebagai hujjah. Ia tidak bisa dijadikan “dalil” penetapan suatu hukum agama. Al Ghazali tidak sendirian, ada Imam Ibn Hazm, faqih, ulama Ushul, ahli Kalam, ahli muqaranah adyan, sering disebut orang sebagai tokoh madzhab Zhahiri (“tekstualis”), juga menolak Sunnah Shahabat sebagai Hujah. Ulama kenamaan asal Yaman, Imam al-Syaukani, penyusun Tafsir Fath al-Qadir, juga menolak Sunnah Shahabat sebagai hujjah. Sekarang yang dibahas adalah penolakan al Ghazali terhadap Sunnah Shahabat sebagai hujjah. Al Ghazali berkata:

وقد ذهب قوم الى ان مذهب الصحابي حجة مطلقا, وقوم الى انه حجة ان خالف القياس, وقوم الى ان الحجة في قول ابي بكر وعمر خاصة لقوله صلعم: "اقتدوا باللذين من بعدي", و قوم الى ان الحجة في قول الخافاء الراشدين اذا اتفقوا". والكل باطل عندنا, فان من يجوز عليه الغلط و السهو و لم تثبت عصمته عنه فلا حجة في قوله, فكيف يحتج بقولهم مع جواز الخطأ, وكيف تدعى عصمتهم من غير حجة متواترة, وكيف يتصور عصمة قوم يجوز عليهم الاختلاف, وكيف يختلف المعصومان, كيف وقد اتفقت الصحابة على جواز مخالفة الصحابة, فلم ينكر ابو بكر وعمر على من خالفهما بالاجتهاد بل اوجبوا في مسائل الاجتهاد على مجتهد ان يتبع اجتهاد نفسه. فانتفاء الدليل على العصمة, ووقوع اختلاف بينهم وتصريحهم بجواز مخالفتهم, فيه ثلاثة ادلة قاطعة. ...  

(Satu golongan berpendapat bahwa madzhab Shahabi secara mutlak dapat dijadikan hujjah. Sedang kelompok lainnya berpendapat bahwa madzhab Shahabi dapat dijadikan hujjah manakala bertentangan dengan qiyas; sedang kelompok lainnya berpendapat bahwa yang dapat dijadikan hujjah hanya “qaul”-nya Abu bakar dan Umar, berdasarkan sabda Nabi saw., “Ikutilah dua orang [shabatku] ini! Setelah aku [tidak ada]; sedang kelompok yang lain berpendapat bahwa yang dapat dijadikan hujjah adalah kesepakatan Khulafaur Rasyidin”. 
Menurut kami [al Ghazali] semuanya bathil [keliru]. Sungguh orang yang pada dirinya boleh melakukan kesalahan, lupa, dan kemaksumannya tidak ditetapkan [secara syar’i], maka pendapatnya tidak dapat dijadikan hujjah. Bagaimana mengklaim kemaksuman mereka tanpa dasar hujjah yang mutawatir; bagaimana pula suatu kaum dipersepsikan sebagai kelompok yang maksum, padahal di antara mereka [sering] terjadi ikhtilaf [perbedaan pendapat]; bagaimana pula [menetapkan] kemaksuman kepada dua orang tokoh [Abu Bakar dan Umar]; bagaimana pula [dapat dijadikan hujjah], padahal ada kesepakatan di antara mereka untuk mentoleransi [jawaz] pendapat yang berbeda dengan mereka [para shahabat]; Abu Bakar dan Umar juga tidak ingkar terhadap orang yang ijtihadnya berbeda dengan ijtihad mereka berdua; bahkan mereka menganjurkan untuk mengikuti ijtihad mereka sendiri dalam masalah-masalah ijtihadiyah, [jika mereka punya ijtihad sendiri]. Tidak adanya dalil kemaksuman mereka, terjadinya perbedaan pendapat mereka, mentoleransi adanya pendapat yang berbeda dengan pendapat shahabat, merupakan tiga dalil pokok [bahwa Qaul Shahabat tidak dapat dijadikan hujjah...).

Ada tiga alasan pokok, mengapa al-Ghazali menolak kehujjahan Sunnah Shahabat sebagai hujjah:
1. ‘Ishmah (عصمة), kemasksuman. 
‘Ishmah (عصمة), secara etimologis artinya adalah “terjaga”, “terlindungi”, “terpelihara”. Orang yang memiliki sifat ‘Ishmah (عصمة),  dia terpelihara dari dosa dan salah, sehingga bebas dari sifat buruk, tercela, dan hina. Sifat ma’sum (معصوم), hanya dimiliki oleh nabi dan rasul, sehingga terpelihara dari sifat salah, tercela, dosa, untuk menjaga otentisitas kerasulannya sebagai “penyampai” wahyu Tuhan, agar terpelihara kebenarannya. Kema’shuman bagi nabi dan rasul adalah wajib, “harga mati”, yang tidak boleh ditawar-tawar, sebab bila tidak ma’sum, maka kebenaran wahyu yang disampaikan, akan diragukan, karena tidak meyakinkan. Sesuatu yang tidak meyakinkan, tentu akan menimbulkan ketidakpastian dan kegoncangan. Hanya yang pasti benar dan tidak meragukan yang dapat meyakinkan akal fikiran dan hati, karena pasti benarnya.
Walau terjadi perbedaan pendapat, apakah Nabi itu ma’shum hanya dalam menerima dan menyampaikan wahyu Allah, ataukah ma’shum secara keseluruhan aktifitas hidupnya. Namun jumhur ulama berpendapat bahwa Nabi ma’shum dalam segala urusannya.
 
2. Ikhtilaf (اختلاف), perbedaan pendapat. 
Menurut al-Ghazali, pendapat shahabat Nabi, dalam banyak masalah tidak monofiqh, tidak monolitik, tidak monokalam,  tetapi beragam. Sering terjadi perbedaan pendapat (ikhtilaf) di antara mereka. Jika di antara para Shabat sendiri saja tidak ada kewajiban untuk mengikuti pendapat atau fatwa shahabat lainnya, maka secara syar’i, tidak ada kewajiban untuk mengikuti mereka dan menjadikan sunnah mereka sebagai hujjah.
3. Mentoleransi perbedaan pendapatan (جواز مخالفتهم). Para shahabat, termasuk Abu Bakar dan Umar ibn Khattab, tidak “inkar” (mencela) terhadap shahabat lain yang menolak pendapat mereka

Menanggapi beberapa hadits yang digunakan sebagai dalil untuk mendukung pendapat kelompok yang mendukung Sunnah Shahabat sebagai hujjah, al-Ghazali memberikan alasan sebagai berikut:

1. Jika pun Shahabat Nabi tidak ma’shum, namun dalam melakukan ta’abbudi kepada Allah, harus mengikuti mereka. Hal ini seperti hadits yang memerintahkan untuk mengikuti petunjuk mereka.

اصحابي كالنجوم بايهم اقتديتم اهتديتم

(Para Shahabatku laksana bintang, dalam kondisi apa pun, jika kamu mengikuti mereka, kamu akan mendapatkan petunjuk)

Kata al Ghazali, khithab (perintah) tersebut ditujukan kepada kaum awam di zaman para Shahabat, dengan mengetahui kualitas derajat fatwa para Shahabat Besar, para awam zaman tersebut dapat mengikuti mereka. Itu pun hukumnya takhyiri (pilihan), antara boleh mengikuti dan tidak mengikuti fatwa mereka, bukan ijabi, wajib.  Dan khithab tersebut, tidak masuk kepada shahabat lainnya. Nyatanya, kata al-Ghazali, shahabat yang lain boleh menyelisihi pendapat shahabat lainnya.

2. Wajibnya mengikuti Shahabat, tidak kepada semua Shahabat, namun hanya kepada Khulafaur Rasyidin.

Kata al-Ghazali, jika para Khulafaur Rasyidin yang empat sudah sepakat, haram bagi shahabat lain untuk berijtihad. Nyatanya tidak seperti itu, para shahabat yang lain, banyak yang kontra dengan ijtihad para khalifah. Bahkan mereka menggelorakan bolehnya untuk berijtihad terhadap sesuatu yang menurut mereka jelas hukumnya. Menonjolkan ketidak bolehan menyelisihi ijma’ khulafaur Rasyidin, berbeda kenyataanya dengan tiap person shahabat saat itu. Bila mereka membuat keputusan mandiri (infarada), maka secara ilmu hadits, bukan ittifaq namanya. Kata al-Ghazali selanjutnya, mengikuti ijma’mereka, sebuah kemustahilan, karena mereka juga berbeda pendapat dalam beberapa masalah. Karena itu, menurut al-Ghazali, maksud hadits tersebut adalah anjuran untuk mengikuti keteladanan mereka dalam mengikuti (inqiyad) mencurahkan seluruh ketaatan (badzl al-tha’ah) kepada [peritah Allah dan RasulNya]. Maksud hadits tersebut juga mengandung perintah untuk menerima kepemimpinan mereka dan cara mereka dalam menerapkan keadilan, kezuhudan mereka dalam urusan duniawi, dan mengikuti perilaku Nabi terhadap orang fakir, miskin, dan bersimpati kepada rakyat, serta menolak adanya penentangan terhadap pemerintahan mereka. Lengkapnya seperti teks di bawah ini.

(قلنا, فيلزمكم على هذا تحريم الاجتهاد على سائر الصحابة ر. اذا اتفق الخلفاء, ولم يكن كذلك, بل كانوا يخالفون, و كانوا يصرحون بجواز الاجتهاد فيما ظهر لهم. وظاهر هذا  تحريم, مخالفة كل واحد من الصحابة, فان انفرد فليس في الحديث شرط الاتفاق. وما اجتمعوا في الخلافة حتى يكون اتفاقهم اتفاق الخلفاء, وايجاب اتباع كل واحد منهم محال, مع اختلافهم في مسائل. 
تكن المراد بالحديث اما امر الخلق بالانقيادوبذل الطاعة لهم, اي عليكم بالقبول امارتهم وسنتهم: او امر الامة بان ينهجوا منهجهم في العدل والانصاف والاعراض عن الدنيا وملازمة سيرة رسول اله ص. في الفقر والمسكنة والشفقة على الرعية او اراد منع من بعدهم عن نقض احكامهم) 

3. Argumen mereka yang disandarkan kepada hadits yang menyatakan, bahwa yang wajib hanya mengikuti kesepakatan khalifah Abu Bakar dan Umar, bukan kesepakatan keempat khalifat. 
(اقتدوا باللذين من بعدي ابي بكر وعمر)

Al-Ghazali menjawab, bahwa hadits tersebut bertentangan hadits di atas, sehingga dapat mendatangkan permasalahan berikutnya. Kata al-Ghazali, kita mengikuti sikap khalifah yang membolehkan berbeda dengan mereka, dan menganjurkan ijtihad. Suatu misal, Abu Bakar dan Umar berbeda dalam memberikan pensiun kepada para pejuang Badar, Uhud, keluarga Nabi dan lainnya, kata al-Ghazali, “Siapa yang diikuti?”

4. Saat Umar membentuk Team Enam untuk menunjuk penggantinya, Abdurrahman ibn Auf memberikan syarat kepada Ali untuk mengikuti al-Syaikhaini (Abu Bakar dan Umar), sehingga “suara”-nya diberikan kepada Ali. Ali menolak, sedang Utsman menerima, maka jatuhlah pilihannya kepada Utsman. Namun sikap sikap Ali tetap ditolelir.

Jadi, yang dimaksud hadits di atas, bukan taqlid kepada kedua Shabat besar tersebut, namun mengikuti sikap dan perilaku serta keadilan Abu Bakar dan Umar.

5. Apabila Shahabat menyatakan suatu pendapat namun menyelisishi qiyas (penalaran rasional), tidak wajib mengikuti mereka kecuali dengan sima’ khabar (hadits Nabi).

Pernyataan di atas menguatkan pernyataan bahwa Sunnah Shahabat bukan hujjah, yang menjadi hujjah adalah “khabar” atau “hadits” Nabi.

Itulah di antara argumen yang diajukan al-Ghazali dalam menolak kehujjahan Sunnah Shahabat sebagai dalil Agama.

Berikutnya akan dibahas argumen Ibn Hazm al-Andalusia, yang menolak kehujjahan Sunnah Shahabat, yang sikapnya sama dengan al-Ghazali, bahwa Dalil hukum syariah harus bersumber dari Allah dan RasulNya.(sudono syueb/ed)

Post a Comment

0 Comments