About Me


KEMUNKARAN INFORMASI

Oleh: Dr. Adian Husaini 

(Ketua Umum DDII Pusat)


Ed: Sudono Syueb

(Anggota DDII Jatim)


Amar ma’ruf nahi munkar adalah salah satu kewajiban penting yang harus dilakukan setiap Muslim, baik secara individual maupun secara jama’iy.  Allah berfirman: "Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang makruf dan mencegah kemunkaran, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. (QS At Taubah:71).


Aktivitas "amar ma’ruf nahi munkar" memang merupakan kewajiban yang sangat ditekankan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Bahkan, disebutkan, sejumlah dampak buruk bagi masyarakat, jika amar makruf nahi munkar tidak ditegakkan. Siksaan dan azab Allah akan turun kepada seluruh warga masyarakat, baik yang baik maupun yang zalim. Tanpa pandang bulu.


"Dan jagalah dirimu dari bencana yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah, Allah sangat keras siksanya." (QS Al Anfal:25).


"Sesungguhnya manusia, jika mereka melihat kemunkaran, sedangkan mereka tidak mengubahnya, maka datanglah saatnya Allah menjatuhkan siksa-Nya secara umum. (HR Abu Dawud)


Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Nabi SAW membuat paparan  tentang sekelompok penumpang kapal sebagai tamsil sebuah masyarakat. Penumpang menempati tempat duduknya masing-masing, ada yang dibagian atas dan ada yang di bagian bawah. Penumpang yang dibagian bawah, enggan naik ke atas, untuk mengambil air. Daripada repor-repot, maka ia lobangi saja bagian bawah tempat duduknya, untuk mengambil air. Digambarkan oleh Nabi SAW, jika para  penumpang lainnya mendiamkan saja tindakan si penumpang, maka akan binasalah si penumpang, dan juga binasa seluruh penumpang kapal itu.


Kemunkaran informasi dapat memiliki dampak yang jauh lebih dahsyat dibandingkan  dengan kemunkaran secara amaliyah. Sebab kemunkaran informasi merupakan kemunkaran di bidang  keilmuan, sehingga dapat mengubah persepsi seseorang terhadap sesuatu. Opini atau informasi yang salah dapat menimbulkan penyesatan opini yang sangat membahayakan masyarakat bahkan dapat merusak aqidah Islam, dan menimbulkan berbagai perilaku yang salah. 


Karena itu, ”informasi yang salah” adalah kemunkaran yang wajib diluruskan oleh setiap Muslim, baik dengan "tangan", "lisan", atau "hati", sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah saw.  Orang yang termakan oleh informasi  sesat --  misalnya, pemikiran bahwa semua agama adalah sama dan benar --  maka akan rusaklah  keyakinan atau keimanannya. Sebab, al-Quran menegaskan: hanya Islam agama yang benar dan diridhoi Allah (QS Ali Imran:19, 85).


Dalam dunia pendidikan, misalnya, dikembangkan opini bahwa sekolah atau Perguruan Tinggi yang unggul adalah yang lulusannya mudah mencari pekerjaan-pekerjaan yang menghasilkan banyak uang. Aspek iman, taqwa, dan akhlak mulia, tidak dianggap sebagai indikator penting dalam menetukan kualitas atau ranking suatu Perguruan Tinggi. Akhirnya, terjadilah pemujaan yang berlebihan terhadap gelar, harta dan jabatan. Demi jabatan, tak jarang, kebenaran dikorbankan.


*****


Berbeda dengan kemunkaran yang "jelas" dan "mudah dipahami" seperti tindak kejahatan pencurian, perampokan, korupsi, perkosaan, perzinahan, minuman keras, dan sebagainya, "penyesatan opini" merupakan tindak kemunkaran yang cukup rumit dan memerlukan sedikit pemikiran untuk memahami kemunkaran tersebut. Kemunkaran jenis ini memang memungkinkan terjadinya -- apa yang disebut Ibnul Jauzy -- sebagai "talbis", yakni menampilkan kebatilan dalam wajah kebenaran (manipulasi).


Di dalam Kitabnya,  Talbis Iblis,  Ibnul Jauzi menjelaskan dengan panjang lebar berbagai talbis yang dilakukan oleh setan terhadap berbagai golongan dan jenis manusia, mulai talbis terhadap orang awam sampai golongan ulama. Apa yang digambarkan oleh Ibnu Jauzi dalam talbis Iblis terhadap golongan "bathiniyah" mirip sekali dengan gerakan "spiritualisme", "sinkretisme", dan "penyamaan agama"  yang ramai berkembang di Indonesia saat ini. 


Kelompok "bathiniyah" berpandangan bahwa yang lebih penting dari Al Quran dan hadits adalah "batin", dan bukan-bukan hal-hal yang "dhahir" seperti ketentuan-ketentuan Syariat (hukum-hukum) Islam. Justru aspek-aspek yang dhahir seperti itu harus ditinggalkan (dibuang) agar tidak menjadi beban/belenggu bagi manusia.


Mereka menggunakan QS Al A'raf ayat 157 sebagai landasannya: "… dan,  mereka membuang beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada diri mereka."  Orang yang sudah termakan oleh talbis Iblis dapat saja menjadi fanatik dan militan dalam memperjuangkan pemahamannya, seperti yang dilakukan oleh kelompok Khawarij, yakni kelompok yang melampaui batas dalam pemahaman dan pengamalan agama. 


Jadi, penyesatan melalui opini sangat berpotensi memicu terjadinya talbis terhadap kebenaran, apalagi jika penyesatan itu dilakukan dengan metode yang baik, secara terus-menerus, terencana, dan didukung oleh tokoh-tokoh publik. Talbis akan semakin mudah terjadi jika kaum Muslim -- terutama tokoh-tokoh dan ulama mereka -- bersikap pasif dan tidak melakukan tindakan yang berarti untuk melawan usaha penyesatan opini terhadap umat Islam.


Lebih berat lagi, jika informasi yang salah itu disebarkan oleh tokoh dan pemuka agama. Dampaknya akan sangat besar, karena dapat menyesatkan banyak orang. Karena itu, di hari kiamat nanti, banyak orang dimasukkan ke dalam neraka, karena mereka tertipu oleh informasi yang disebarkan oleh para pemimpin mereka. Mereka hanya mengikuti pemikiran para tokohnya, meskipun jelas-jelas itu bertentangan dengan kebenaran.


"Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat pula kepada Rasul." Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan Kami, timpakanlah kepada mereka azab, dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar." (QS Al Ahzab:66-68).


Jihad di bidang informasi memerlukan kesungguhan dan pengorbanan yang besar, termasuk dalam soal pembiayaan. Sebab, umat Islam wajib memiliki media-media yang berkualitas agar mampu menyampaikan kebenaran dan menangkal informasi atau opini yang salah. Rasulullah saw mengingatkan, agar umat Islam berjihad melawan kemusyrikan dengan harta, jiwa, dan lisan mereka.


Maknanya, semua potensi umat wajib dikerahkan untuk perjuangan melawan berbagai macam kebatilan. Namun, di era ”serba internet” saat ini, kemunkaran informasi itu bisa juga datang dari kalangan muslim sendiri. Biasanya itu akibat dari ketidaktahuan dan kecerobohan dalam menerima dan menyebarkan informasi yang salah. Karena itu, berilmulah dan berhati-hatilah dalam menerima dan menyebarkan informasi! (Depok, 12 Januari 2021).

Post a Comment

0 Comments