About Me


BERSIKAP ADIL TERHADAP PERADABAN BARAT: JANGAN MINDER DAN JANGAN ANTI

Oleh: Dr. Adian Husaini  

(Ketua Umum DDII Pusat)


Ed: Sudono Syueb

(Humas DDII Jatim)


Harian Indonesia Post.com Bojonegoro-Harian Suara Karya , Jumat 11 Oktober 1985, pernah menurunkan artikel berjudul ”Ajaran Islam tentang Akal dan Akhlak” yang ditulis oleh Prof. Harun Nasution. Prof. Harun menulis, bahwa ia pernah mendapat pertanyaan dari Madame Haydar, istri seorang koleganya dari Kedubes Libanon di Brussel, Belgia:


”Mengapa orang-orang Nasrani pada umumnya berkelakuan baik, berpengetahuan tinggi dan menghargai kebersihan, sedang kita orang Islam pada umumnya kurang dapat dipercayai bodoh-bodoh dan tidak tahu kebersihan?”


Harun bertanya kepada Nyonya Haidar:


Yang Anda maksud barangkali orang-orang Eropa dan bukan orang-orang nasrani. Eropa memang berada dalam zaman kemajuannya, sedang Timur masih dalam zaman kemunduran. Ekonomi Eropa yang maju membuat orang-orangnya dapat memperoleh kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi sedang Timur yang miskin, kebanyakan tinggal dalam ketidaktahuan. ”


Lalu, Madame Haidar lanjutkan lagi:


Yang saya maksud bukan orang Eropa, tapi orang nasrani. Apa yang saya sebut adalah di negeri saya sendiri, Libanon. Kalau kita menyatakan orang Islam yang pergi ke mesjid, kita lihat wajah mereka tidak berseri dan pakaiannya kotor-kotor. Tetapi sebaliknya orang-orang Nasrani yang pergi ke gereja bersih wajah dan pakaiannya. Ekonomi mereka lebih baik dari ekonomi orang Islam. Demikian juga pendidikan mereka lebih tinggi. Orang –orang Islam ketinggalan. ”


Terhadap pernyataan Madame Haidar itu, Harun Nasution menyatakan persetujuannya. Dia menulis dalam artikelnya tersebut:


” Keadaan umat Islam sebagai digambarkan Madame Haidar itu bukan hanya terbatas bagi umat Islam di Libanon. Hal serupa juga kita alami di Indonesia. Umat ​​Islam di negeri kita lebih rendah ekonomi dan pendidikannya dari umat lain. Masalah kita di Indonesia adalah umat Islam yang mungkin, tetapi ekonominya lemah dan pendidikannya tidak tinggi. Sedang umat manusia sungguhpun minoritas mempunyai kekuatan ekonomi dan pendidikan yang baik. Di pusat lahirnya Islam, di Mekah dan Madinah, kita jumpai umat Islam tidak bergerak dan dari segi budi pekerti juga tidak menggembirakan. Di Mesir hal yang sama kita jumpai. Umatnya diperbandingkan dengan umat lain yang ada di sana, yaitu sebelum orang-orang Yahudi, Yunani-Yunani-lain-lain-lain meninggalkan negeri itu, jauh dalam soal ekonomi, pendidikan dan budi pekerti. Di Turki, Suria, Yordan, Aljazair, India dan Pakistan hal yang sama dijumpai. Maka pengamatan Madame Haidar dalam pertanyaan yang dimajukannya adalah benar untuk dunia Islam pada umumnya. Dialog itu menyadarkan saya bahwa masalahnya bermasalah semata-mata masalah kebudayaan, tetapi adalah pula masalah agama. ”


                                                                       *****


Demikianlah dialog Harun Nasution dan Madame Haidar yang Proposal Harun Nasution dalam artikelnya di Harian Suara Karya . Setelah menunggu selama tiga minggu dan tidak ada seorang pun yang mengkritik artikel Prof. Harun tersebut, Prof. HM Rasjidi - Menteri Agama pertama - akhirnya memaksakan diri mengangkat pena dan memberikan kritiknya. Saat menjadi Associate Professor di McGill University Kanada, HM Rasjidi adalah orang yang mengusahakan agar Harun dapat melanjutkan studinya di McGill. Tapi, seperti Rasjidi banyak mengkritik pemikiran Harun Nasution yang dinilainya terlalu berorientasi ke Barat.


Dalam tanggapannya, Prof. Rasjidi menulis:


Membaca tulisan Prof. Harun tersebut, saya menjadi sesak nafas, dan bertanya-tanya: Mengapa dengan mudah menerima segala cacian dan penghinaan kepada umat Islam. Kalau dari permulaan kita sudah dinyatakan: menyerah, tidak percaya diri sendiri, maka tak mungkin kita dapat  mempertahankan diri kita. Kalau seorang petinju, sebelum memasuki babak pertarungan, sudah menggambarkan bahwa musuhnya kuat, tak dapat dikalahkan, bahwa pukulannya sangat jitu dan berbahaya, maka mustahillah ia akan memenangkan pertandingan. Rasa kesal saya bertambah ketika membaca paragraf selanjutnya, karena paragraf itu berbunyi: Dialog itu menyadarkan bahwa ”masalah bukan semata-mata masalah kebudayaan, tetapi adalah pula masalah agama”.


Rasjidi yang menyelesaikan disertasi doktornya dalam studi Islam di Sorbone University, Paris, lalu memaparkan bahwa soal kebodohan dan kekotoran adalah masalah yang disajikan oleh tiap-tiap umat beragama, bukan hanya masalah umat Islam. Tapi, kata Rasjidi, ”... hal pertama yang sangat penting adalah: Kita harus mempunyai harga diri.”


Dialog antara Harun dengan Madame Haidar, kata Rasjidi, ”Adalah dialog antara dua jiwa yang banyak persamaannya, ya'ni jiwa yang kena cekokan dari Barat bahwa Kristen itu bersih, pandai dan mempunyai sifat-sifat yang baik, sedang Islam adalah kotor, bodoh, perangai jahat dan seterusnya. ”


Kritik Prof. Rasjidi terhadap artikel Harun Nasution tersebut sangat penting kita telaah, sebab membuka mata kita, bahwa dalam soal pemikiran Islam, masalahnya bukan semata-mata logika, tetapi ada faktor lain yang juga perlu ditelaah, yaitu soal mental, ”aspek kejiwaan”. Pemikiran mental, mental yang paling rendah dalam melihat peradaban Barat yang menjadi faktor penting, sehingga menutup seluruh logika yang sehat.


Umat ​​Islam diperintahkan untuk mengakhiri adil kepada siapa pun. Jangan berlebihan dalam memandang dan menyikapi sesuatu. Peradaban Barat terbukti berhasil meraih banyak kemajuan. Dalam ilmu-ilmu empiris, Barat telah banyak kemajuan. Umat ​​Islam tidak dilarang untuk belajar soal-soal sains teknologi kepada mereka.


Tetapi, karena mencabut wahyu sebagai sumber ilmu, maka kemajuan yang dicapai oleh Barat adalah kemajuan yang berujung kerusakan dan kehancuran. Mereka berlebihan dalam memandang aspek materi dan menolak panduan Allah dalam pembahasan hidup. Inilah peradaban yang trauma terhadap agama dan hanya mengandalkan pemikiran dan konsensus untuk menentukan baik, buruk, serta kemajuan manusia.


Karena itu, sangat rugi jika umat Islam justru menjiplak pandangan hidup dan nilai-nilai kehidupan yang bersifat relatif. Tidak ada pandangan hidup dan nilai-nilai akhlak yang mereka pegang secara abadi. Akibatnya, tidak ada kebahagiaan hakiki yang akan diraih.


Dalam hal ini, rugilah jika umat Islam dan bangsa Indonesia menjiplak begitu saja nilai-nilai kehidupan dari Barat. Apalagi sampai memaksakan perubahan terhadap ajaran-ajaran Islam yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Barat. Itu telah banyak dilakukan, dengan penyebaran: Pluralisme Agama, liberalisme, hak asasi manusia sekuler, kesetaraan gender, LGBT, seks bebas, dll. Bahkan, sudah ada disertasi doktor di universitas Islam yang menghalalkan perzinahan.


Kita ingin maju. Tapi, jangan sampai kita maju kerusakan, keresahan batin, dan akhirnya maju ke neraka. Na'udzubillaahi min dzaalik. (Bojonegoro, 10 Januari 2021).

Post a Comment

0 Comments