About Me


BENARKAH UMAT ISLAM INDONESIA DALAM BAHAYA


Oleh: Dr. Adian Husaini  
( Ketua Umum DDII Pusat )

Ed: Sudono Syueb
(DDII Jawa Taimur)

Harianimdonesiapost.com Depok-Alkisah, pada hari Kamis (15 Mei 2003), saya dan tiga orang mahasiswa International Islamic Thought and Civilization (ISTAC), berdiskusi dengan SM Idris, Presiden Consumer Association of Penang (CAP), di Pulau Penang Malaysia. Jarak pulau itu sekitar 400 km dari Kuala Lumpur. SM Idris, seorang Muslim keturunan India, dikenal sebagai tokoh LSM / LSM yang sangat termasyhur, di Malaysia maupun di dunia internasional.

Aktivitas utama adalah melawan hegemoni Barat melalui berbagai LSM yang dia bentuk, baik pada bidang makanan, pakaian, pemikiran, dll. Dia menulis sebuah buku kecil berjudul:  Globalization and the Islamic Challenge. Di buku ini, ia berpendapat : _ Globalisasi merupakan ancaman serius bagi umat Islam. Bukan hanya eksploitasi dan pemiskinan ekonomi, tetapi juga erosi serius terhadap keyakinan, nilai, budaya, dan tradisi Islam. Globalisasi merupakan satu ancaman serius terhadap umat Islam. Globalisasi bukan hanya berdampak pada eksploitasi dan pemiskinan, tetapi juga mengakibatkan erosi serius terhadap keimanan Islam, nilai-nilai, budaya, dan tradisi Islam).

Yang menarik, diantara berbagai kliping tentang Indonesia, dia menunjukkan satu tajuk tentang seorang penyanyi dangdut Indonesia di Koran International Herald Tribune . Dia bacakan isi tajuk itu. Lalu, dia melakukan dengan serius, mengapa umat Islam Indonesia membiarkan aksi-aksi seperti yang dilakukan penyanyi itu? Dia lebih heran lagi, mengapa banyak tokoh mendukung penyanyi itu? Bagaimana itu bisa terjadi? Bukankah tontonan jenis itu merupakan tontonan sampah ( sampah ). Begitu kata SM Idris.

Menurut SM Idris, dari hasil pertemuannya dengan berbagai kalangan dunia internasional dan bacaan-bacaannya di berbagai media tentang Indonesia, dia menyimpulkan, Muslim Indonesia berada dalam bahaya besar. Dan itu tidak mengherankan. Sebab, kata dia, Indonesia adalah negara Muslim terbesar di dunia. Indonesia sedang digarap serius untuk dihancurkan. SM Idris menyarankan, agar umat Islam Indonesia serius memperbaiki pelacuran, perjudian, minuman keras, narkoba, dan sebagainya.

*****

Kembali ke pertanyaan semula: benarkah umat Islam Indonesia dalam bahaya besar, dikatakan oleh SM Idris, 17 tahun lalu? SM Idris Keputusan itu berdasarkan pencermatan dan informasi yang dia terima dari berbagai pihak.

Sekali lagi, kita patut merenungkan: benarkah umat Islam Indonesia dalam bahaya besar? SM Idris, satu-satunya orang yang khawatir dengan masa depan umat Islam Indonesia. Pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan sudah lama mengingatkan, bahwa Islam tidak bisa hilang dari muka bumi, tetapi Islam bisa hilang dari Indonesia.

Kisah muslim Andalusia patut dijadikan renungan serius. Setelah memimpin Andalusia (Spanyol) selama hampir 800 tahun (711-1492 M), umat Islam akhirnya dimusnahkan dari Andalusia. Begitu juga nasib yang umat Islam di sejumlah wilayah, seperti Palestina, Kashmir, Burma, Cina, dll.

Saat ini umat Islam Indonesia merupakan penduduk yang ramai. Berdasarkan data Globalreligiusfuture,  penduduk Indonesia  yang beragama  Islam  pada 2010 mencapai 209,12 juta jiwa atau sekitar 87% dari total populasi.v Diperkirakan, pada  2020 ini ,  penduduk  muslim  Indonesia  v mencapai 229,62 juta jiwa.

Pada 25 September 2020, Situs misi Kristen https://misi.co/Indonesia memaparkan data, bahwa proporsi umat Islam Indonesia tinggal 80,31%. Data pemeluk agama-agama di Indonesia versi situs misi Kristen ini adalah: Islam (80,31%), Kristen (15,85%), Hindu (1,3%), Agama Suku (1,2%), Tionghoa (0 , 90), Buddha (0,40%), Tidak beragama (0,04%). Jumlah penduduk Indonesia tahun 2020, menurut situs misi Kristen ini adalah 254.217.770. Berarti jumlah umat Islam Indonesia saat ini adalah sekitar 204 juta jiwa.

Jumlah 200 juta jiwa yang tidak peduli jumlah kecil. Bandingkan dengan kaum jumlah Yahudi yang hanya sekitar 15 juta jiwa. Tetapi, Rasulullah saw sudah mengingatkan, bahwa suatu saat umat Islam besar, tetapi laksana buih. Sebabnya, mereka terjangkit penyakit “wal-wahnu” (cinta dunia dan takut mati).

Mohamamd Natsir pernah mengingatkan, umat Islam Indonesia menghadapi tantangan serius dari serangan sekularisasi, Kristenisasi, nativisasi, dan penyakit cinta dunia yang berlebihan. Bahkan, jika penyakit cinta dunia itu tidak dapat diatasi dengan serius, maka bukan tidak mungkin umat Islam Indonesia akan mengalami nasib yang sama dengan umat Islam di Andalusia.

Majid Irsan al-Kilani, dalam buku Model Kebangkitan umat Islam , sebut tiga faktor utama kekalahan umat Islam dalam Perang Salib: penyakit cinta dunia, meninggalkan dakwah dan jihad, dan perpecahan.

Jadi, berdasarkan penjelasan Rasulullah saw dan fakta sejarah, kekalahan dan kehancuran umat Islam memang terutama berasal dari faktor internal. Sebagai pelanjut dakwah para Nabi, maka umat Islam diwajibkan memiliki sifat-sifat kenabian dan aktivitas dakwah yang berkelanjutan. Karena itu, mereka harus menjaga diri, agar tidak terjangkit penyakit cinta dunia dan perpecahan. Sebab, hal itu akan melemahkan daya tahan dan rentan dari berbagai serangan dari luar.

Jadi, apakah umat Islam Indonesia saat ini dalam bahaya besar? InsyaAllah kita sudah tahu jawabnya!

Bagaimana agar umat Islam Indonesia selamat dan berjaya membangun Indonesia yang adil dan beradab? Jawabnya: umat Islam Indonesia harus mampu melahirkan yang unggul. Mereka harus dipersiapkan melalui pendidikan yang benar dan tepat.

Pesan Rasulullah saw: “al-mu'min al-qawiy khairun wa-ahabbu ila-llaahi minal mu'min al-dlaif.” (Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah melayani orang mukmin yang lemah).

Begitulah pesan Nabi kita. Semoga kita mau berpikir dengan sungguh-sungguh dan sungguh-sungguh dan sungguh-sungguh melaksanakan langkah-langkah perjuangan yang menjadikan umat Islam semakin kuat, tidak lemah dan peduli energi perjuangan! Wallahu A'lam bish-shawab . (Depok, 2 Januari 2021).

Post a Comment

0 Comments