About Me


Buya Hamka Disiksa di Penjara Rezim Soekarno


Oleh: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Hampir setiap saat Buya Hamka disiksa di penjara rezim Sukarno dukungan PKI. Tidur pun tidak bisa nyenyak karena terus diganggu oleh sipir kader PKI.
Puncak siksaan itu ketika Buya Hamka dituduh PENGKHIANAT MAU JUAL NEGARA.

"Saudara pengkhianat! Menjual negara kepada Malaysia!", Bentak seorang polisi dengan pistol di pinggang kepada Buya Hamka. Ia berusaha memancing emosi Buya Hamka.

Menangislah beliau mendengar hujatan semacam itu. Hampir-hampir beliau pun terpancing emosinya.

"Janganlah saya disiksa seperti itu. Bikin sajalah satu pengakuan yang baik, akan saya tandatangani. Tetapi kata-kata demikian janganlah saudara ulangi", pinta Buya.

"Memang saudara pengkhianat! ", kata sipir PKI itu lagi dan ia pun berlalu pergi dengan sombong sambil menutup pintu dengan keras, gedubraaaak.....

Selama satu jam lamanya, terjadi peperangan batin (kebajikan dan kebatilan) dalam jiwa Buya HAMKA (tulis Sukron Abdilah dalam Kompasiana.com, 21/9/2010)

Lebih lanjut Abdilah katakan, Beliau mengaku sudah membuat surat wasiat kepada keluarganya di rumah. SYETAN membisikkan ke dalam hati HAMKA sesuatu yang dilarang Islam: bunuh diri di tengah keputusasaan. Di dalam sakunya waktu itu tersimpan silet, yang akan dijadikan senjata untuk memotong urat nadi. Biar orang tahu, kata HAMKA, bahwa dirinya mati karena tidak tahan menderita (disiksa). Saat itu Alhamdulillah, keimanan HAMKA memenangi pertarungan dahsyat dengan bisikan SYETAN.

Beliau pun berkata dalam hatinya, "Kalau kamu mati bunuh diri karena tidak tahan dengan penderitaan batin, niscaya mereka akan menyusun berita yang indah ihwal kematianmu. Kamu melakukan upaya bunuh diri karena malu kepergok setelah polisi mengeluarkan bukti atas pengkhianatanmu. Maka hancurlah nama yang telah kau ukir dengan segala perjuangan, penderitaan, keringat, dan kerja keras selama berpuluh tahun. Kemudian ada selentingan warga yang berkata: "Dengan bukunya "Tasauf Moderen" dia membimbing orang lain agar sabar, tabah dan teguh bila menderita. Orang yang membaca bukunya itu semua selamat, sedang dirinya sendiri memilih jalan yang sesat. Pembacanya masuk surga karena bimbingannya, dan dia di akhir hayatnya memilih neraka."

Bahkan, anak-anakmu dan seluruh keluargamu akan menderita serta menanggung malu atas keputusanmu, kemudian menyumpahi kamu. Tetapi, Alhamdulillah perdaya SYETAN itu dapat ditangkis oleh Buya HAMKA, sehingga beliau memenangi pertempuran itu. Saat itu, buya HAMKA merasa memerlukan buku karangannya sendiri, "Tasauf Moderen". Dan, ketika keluarganya membesuk beliau, diutarakanlah keinginannya untuk dibawakan "Tasauf Moderen" yang fenomenal tersebut.

Setelah buku tersebut berada di tangan Buya HAMKA, beliau menelaahnya, membaca, merenungi, dan mencoba menghayatinya; kemudian tak lupa juga beliau membaca kitab Al-Quran. Sehingga suatu ketika datang seorang kawannya untuk membesuk beliau dan mendapati HAMKA sedang membaca buku "Tasauf Moderen". Kawannya tersebut seraya berguyon berkata, "Eh, Pak HAMKA sedang membaca (karangan) pak HAMKA."

Waktu itu, seraya tersenyum teduh nan indah, beliau menjawabnya: "Memang betul..HAMKA sedang memberikan nasihat kepada diri sendiri setelah sekian lamanya memberikan nasihat pada orang lain. Dia hendak mencari ketenangan jiwa dengan buku ini. Sebab telah banyak orang mmeberitahukan kepadanya bahwa mereka mendapat ketenangannya kembali karena membaca buku "Tasawuf Moderen" ini!"

Buya HAMKA dengan curhatnya di dalam buku "Tasauf Moderen" itu seolah menyadarkan kita, keputusasaan tak seharusnya melahirkan teologi bunuh diri yang sesat seperti dilakukan teroris yang mengatasnamakan Islam. Buya HAMKA, kendati pernah dituduh sebagai pengkhianat Negara tidak membuatku mempercayainya sepenuh hati. Aku masih menjadikan dan menempatkan HAMKA sebagai pahlawan kesusastraan dan ilmu-ilmu agama yang mulia. Muhammadiyah, Islam, bangsa dan Negara sangat beruntung memiliki ulama seperti beliau, terlepas dari fatwa haram "Selamat Natal" oleh lembaga MUI, yang diketuainya pada tahun 80-an. Yang jelas, ketika fatwa itu dicurigai dapat memantik kekerasan atas nama agama karena bertentangan dengan prinsip toleransi. Buya HAMKA dengan legowo dan lapang dada bersedia menanggalkan jabatan ketua MUI untuk mengamalkan toleransi dalam kehidupannya. Bagi HAMKA, daripada kepemimpinannya di lembaga tertinggi umat Islam ini dapat merusak stabilitas Negara; mendingan dia turun dari jabatan. Satu bentuk moral sosial yang tak dimiliki ulama-ulama saat ini.
Ya sekelas Buya Hamka saja mau bunuh diri karena tidak tahan siksaan di penjara, apa lagi ummat pada umumnya jika ada penjara, bisa dibayangkan bagaimana beratnya siksaan!

Post a Comment

0 Comments