About Me


KH Zainal Mustafa Gugur Dibantai Polisi Zaman Jepang bersama 80 Santrinya


Oleh: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Mencermati kejadian akhir akhir ini dimana ada beberapa ustadz dibunuh orang yg diduga gila (versi aparat), lalu bebas demi hukum. Dan juga penyerangan dengan sajam di tempat terbuka di siang bolong  pada seorang Ulama berdarah Arab yang bernama Syeh Ali Jabir, saya jadi teringat pada seorang ulama dari Tasikmalaya bernama KH Zainal Mustafa yang dibrondong Polisi zaman Jepang, karena masih hidup KH Zainal Mustafa diikat dan diseret keluar pesantren dan dibrondong lagi ratusan peluru tajam hingga tewas. Beliau tewas bersama 80 santrinya. Padahal senjata KH Zainal Mustawa dan para santrinya hanya pedang, bambu runcing dan tulang rahang sapi, diberondong Laras panjang dengan peluru tajam, sungguh amat sangat BIADAN POLISI KOMPENI JEPANG.  
Dunia berputar, musim  berganti, zaman berubah. Setelah lndonesia merdeka 
KH Zaenal Mustafa yang dituduh pberontak oleh Jepang diangkat jadi Pahlawan Nasional th 1972, zaman Orba.
Berikut kisah heroik KH Zainal Mustafa bersama 80 santrinya yang gugur. Dikutip dari laman UMMA.COM. oleh penulis Hidayatuna dengan judul: KH Zainal Mustafa Ulama dan Pejuang Kemerdekaan.

KH Zainal Mustafa sosok Pahlawan Nasional Indonesia yang lahir dari kalangan Pesantren. Lahir (pendapat lain menyebut ia lahir tahun 1901 dan 1907) di Desa Cimerah, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya. Pada tahun 1809 dari pasangan petani yang berkecukupan Nawapi dan Ny. Ratmah. Wafat, 28 Maret 1944 di Jakarta. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Tasikmalaya. Beliau adalah seorang pemimpin sebuah pesantren di Tasikmalaya dan pejuang Islam pertama di Jawa Barat yang mengadakan pemberontakan terhadap pemerintahan Jepang.

Sewaktu masih kecil bernama Umri dan sepulang dari pesantren berganti nama menjadi Hudaemi. Beliau Ulama Pesantren yang merelakan raga sampai nyawanya ditangan Tentara Jepang demi Kemerdekaan Indonesia. Atas keberanian dan pengorbanannya melawan Jepang menyalahkan Pemerintah Indonesia menganugerahi KH Zainal Mustofa sebagai Pahlawan Nasional dengan SK Presiden RI Nomor 064 / TK / tahun 1972 tanggal 20 November 1972.

Selain memperoleh pendidikan formal di Sekolah Rakyat, ia belajar agama dari berbagai pesantren di Jawa Barat yang memiliki pengetahuan agama yang luas dan mahir berbahasa Arab. Diantaranya Pesantren Gunung Pari selama 7 tahun, Pesantren Cilenga, Singaparna selama 3 tahun, Pesantren Sukaraja, Garut selama 3 tahun, Pesantren Sukamiskin, Bandung selama 3 tahun, dan Pesantren Jamanis selama 1 tahun

Lewat ibadah haji, ia berkenalan dengan ulama-ulama terkemuka. Ia pun mengadakan pertukaran pikiran soal dan berkesempatan melihat pusat pendidikan keagamaan di Tanah Suci. Kontak dengan dunia luar itu mendorongnya untuk mendirikan sebuah pesantren. Maka sekembalinya dari ibadah haji, tahun 1927.

PADA 1927 KH Zainal Mustafa menyiapkan pesantren yang merupakan cita-citanya. Pesantren itu dinamai Persantren Sukamanah, bertempat di Kampung Cikembang Girang Desa Cimerah (sekarang Kampung Sukamanah Desa Sukarapih), Kecamatan Singaparna, Tasikmalaya. Nama Sukamanah merupakan nama persembahan dari orang yang mewakafkan tanah pesantren tersebut. Beberapa tahun kemudian, tahun 1933 KH Zainal Mustafa bergabung dengan organisasi yang didirikan oleh KH Hasyim Asy'ari, Nahdhatul Ulama (NU), dan diangkat sebagai Wakil Ro'is Syuriah NU Cabang Tasikmalaya.

KH Zainal Mustafa merupakan kiai muda yang berjiwa revolusioner. Ia menganut paham pendidikan yang sifatnya “Non Cooperation“, tidak mau bekerja sama dengan pemerintah Belanda. Secara terang-terangan ia mengadakan kegiatan yang membangkitkan semangat kebangsaan dan sikap terhadap pendudukan penjajah. Melalui khutbah-khutbahnya ia selalu menyerang kebijakan politik kolonial Belanda.

Akibatnya pada 17 November 1941, KH Zaenal Mustafa bersama Kiai Rukhiyat (dari Pesantren Cipasung), Haji Syirod, dan Hambali Syafei pemerintah ditangkap dengan tuduhan telah menghasut rakyat untuk memberontak terhadap pemerintah Hindia Belanda. Mereka menunjukkan di Penjara Tasikmalaya dan sehari kemudian dipindahkan ke penjara Sukamiskin Bandung. Baru bebas pada 10 Januari 1942, namun kemudian ditangkap lagi bersama Kiai Rukhiyat atas tuduhan yang sama dan dimasukkan ke penjara Ciamis.

Pemerintah Jepang yang menggantikan kekuasaan Belanda di Indonesia Maret 1942 membebaskan KH Zainal Mustafa dengan harapan ia dapat membantu Jepang. Namun ia malah sebaliknya para pengikut dan santrinya bahwa fasisme Jepang itu lebih berbahaya dari imperialisme Belanda. Ia menolak melakukan seikerei, yaitu memberi hormat kepada Kaisar Jepang dengan membungkukkan diri 90 derajat (seperti ruku dalam shalat) kearah matahari terbit. Perbuatan tersebut bertentangan dengan ajaran Islam.

Pernah dalam upacara di lapangan Singaparna, para peserta yang diundang termasuk KH Zainal Mustafa dipaksa untuk melakukan seikerei dibawah todongan senjata Jepang. Semua peserta tidak menerima kuasa karena nyawa yang terancam. Namun KH Zainal Mustafa dengan menolak dan tetap duduk dengan tenang. Akibat perbuatan tersebut telah menimbulkan perselisihan antara penguasa Jepang dengan KH Zainal Mustafa serta para pengikutnya.

Dalam setiap dakwahnya KH Zainal Mustafa selalu berjuang melawan penjajah kafir Jepang yang lebih kejam dari Belanda dengan mendengungkan perang jihad. KH Zaenal Mustafa juga menggiatkan santrinya untuk melakukan latihan fisik dengan melakukan latihan beladiri pencak silat. Setiap hari di Pesantren Sukamanah yang sibuk dengan latihan perang-perangan dan pengajian untuk mempertebal semangat berjuangan.

Secara diam-diam santri Sukamanah telah merencanakan untuk melakukan tindakan sabotase terhadap pemerintah Jepang. Sekelompok kecil santri yang terlatih akan dikirim ke Kota Tasikmalaya untuk melakukan gerakan yang merugikan pemerintah Jepang. Misalnya, penculikan para pembesar, membebaskan tahanan politik, menghancurkan sarana-sarana umum seperti kawat telepon dan sarana penting yang kemungkinan dapat dipergunakan oleh tentara Jepang.

Persiapan para santri ini tercium Jepang hingga mereka mengirim Camat Singaparna dilengkapi 11 orang staf dan dikawal oleh beberapa anggota polisi untuk melakukan penangkapan. Usaha ini tidak berhasil, bahkan mereka peduli di rumah KH Zainal Mustafa. Keesokan harinya, pukul 8 pagi tanggal 25 Februari 1944, mereka tidak dapat dilepaskan dan hanya senjatanya yang dirampas.

Peristiwa ini merupakan awal dari peristiwa bersejarah yaitu pemberontakan terbuka santri Pesantren Sukamanah yang mengakibatkan peristiwa gugurnya puluhan santri Sukamanah. Para santri yang gugur dalam pertempuran itu mengirimkan 86 orang. Meninggal di Singaparna karena disiksa sebanyak 4 orang. Meninggal di penjara Tasikmalaya karena disiksa sebanyak 2 orang. Meninggal di Penjara Sukamiskin Bandung sebanyak 38 orang dan yang mengalami cacat (kehilangan mata atau ingatan) sebanyak 10 orang.

Selain itu sekitar 700-900 orang ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara di Tasikmalaya. KH Zainal Mustafa memberi sinyal secara bertahap kepada para santri dan seluruh pengikutnya yang memperlihatkan agar tidak terlibat dalam pertempuran melawan Jepang, termasuk dalam kematian para opsir Jepang, dan pertanggungjawaban tentang pemberontakan Singaparna dipikul oleh KH Zainal Mustafa. Akibatnya, sebanyak 23 orang yang melayani, termasuk KH Zainal Mustafa sendiri, dibawa ke Jakarta untuk diadili. Namun mereka hilang tak tentu rimbanya.

Besar pengaruhnya KH Zaenal Mustafa dalam pesan mental para santri dan masyarakat serta peran pesantrennya sebagai lembaga pendidikan dan pembinaan umat membuat pemerintah Jepang merasa tidak bebas jika pesantren ini tetap berjalan. Maka, setelah peristiwa pemberontakan tersebut, pesantren ini ditutup oleh Jepang dan tidak diizinkan melakukan kegiatan apapun.

Belakangan, Kepala Erevele Belanda Ancol, Jakarta memberi kabar bahwa KH. Zaenal Mustafa telah dieksekusi pada 25 Oktober 1944 dan dimakamkan di Taman Pahlawan Belanda Ancol, Jakarta. Melalui penelusuran salah seorang santrinya, Kolonel Syarif Hidayat, pada tahun 1973 keberadaan makamnya itu ditemukan di daerah Ancol, Jakarta Utara, bersama makam-makam para santrinya yang berada di antara makam-makam tentara Belanda. Lalu, pada 25 Agustus 1973, semua makam itu dipindahkan ke Sukamanah, Tasikmalaya.

Post a Comment

0 Comments