About Me


5 HARI BERMALAM DI RUMAH SAKIT (Bagian 3)


Bunda Siswi Astuti
(PNS pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Bekasi

Selasa, 8 Des' 2020)

Harianindonesiapost.com Pagi ini jam 05.00 WIB, setelah sholat subuh.. perawat sudah hadir di ruangan untuk periksa rutin cek suhu,gula darah, tensi tekanan darah, sambil mencatat di kertas, berisi nama-nama pasien. Aku sudah mulai terbiasa pada perawat, termasuk dokter yang berpakaian APD lengkap.
Terkadang ada rasa sedih, aku seperti berada di pengasingan, karena Prosedur Kesehatan melarang pasien di jenguk dan di tunggui, seperti benar benar alami Covid-19. Namun anggapan tersebut semua, ku tepis jauh jauh. Apalagi perawat di sini, semua ramah tamah, baik dan sikapnya menyejukkan hati. sehingga kami pasiennya tidak terbebani. 

Ada pesan WhatsApp dari sahabatku, menurutnya jangan bersikap sensitif, atau baper. Mengapa Prosedur Kesehatan melarang pasien di jenguk dan di tunggui, karena pasien saat sakit, daya imun nya 
rendah, jika boleh di jenguk atau di tunggui pihak keluarga, kita bisa saja beresiko tertular, atau menularkan mereka. Dari situ aku makin besar hati, lapang dada, dan semangat menjalani perawatan di Rumah Sakit. Begitu banyak sahabatku di grup yang ku ikuti, mendoakan dengan tulus, menyemangati, membuat hati ini semakin kuat. Anak anak ku sering WA bilang "Mama jangan berpikir yang aneh aneh, banyak doa, jalani dengan tenang, lapang dan bahagiakan hati, sehingga daya Imun mama gak turun". Sikap mereka yang selalu perhatian dan saling menguatkan, membuat aku bahagia.
 
Saat sarapan pagi, dengan menu bubur ayam pakai telur puyuh, aku dan pasien sebelah sempat berbincang ringan,    terlihat ia sedikit gelisah entah apa yang di pikirannya.  Awalnya aku tak tahu,bahwa ia seorang muslim, karena selain tak berhijab, iapun tak jalankan sholat. Namun setelah sesekali ia ber istighfar, maka ku ingatkan untuk banyak berdoa, sering baca Surat surat yang kita ingat, terkadang di kala kita dalam keadaan sakit, gelisah atau panik,  maka seringkali apa yang kita bisa semua seperti hilang tanpa ingat.
Sekitar jam 11.00 WIB dokter berkunjung, memeriksa ku dan  pasien sebelah. Aku bertanya berbagai hal, tentang sakitku. Dan Dokter menjawab dengan jelas. Setelah makan siang dan sholat Zuhur, aku merasa lelah dan tertidur. 

Sore hari, aku kaget ketika perawat masuk ke ruangan sambil menyampaikan, bahwa hasil swab. Pasien sebelah adalah positif. 
Astaghfirullah.. ia berteriak dan menangis, sambil berusaha menelpon anaknya untuk menyampaikan berita tersebut. Ku semangati dia, 
"Ayo bu,semangat sehat, jangan sedih..InsyaAllah diberi kesembuhan, makan yang banyak, agar selain imun terjaga, juga akan mem percepat kesembuhan. Ada sedikit kekhawatiran, jika aku masih se ruangan dengannya, maka nya aku sedikit me jaga jarak, mengingat kami hanya.berbatas tirai. 

Sekitar pukul 23.00 WiB, pasien sebelahku di pindahkan ke ruangan lain yang sama sama meng idap Covid. Terlihat ada rasa sedih di wajahnya karena akan berpisah denganku. Kita saling mendoakan ku "semoga ibu hasil swab nya negatif ya" ku jawab "Aamiin" aku.pun menyemangati nya "ibu juga cepat sehat ya".

Setelah ia pindah,aku merasa sunyi di ruang itu sendiri. Gelisah membuatku sulit tidur, aku.baca surat pendek dan doa se banyak banyaknya.

Saat tengah malam, terasa tangan kananku bengkak bekas infusan. Ku tahan, dan segera ku bel perawat, menyampaikan rasa sakitku. Ternyata air infusanya bocor, akhirnya selang  infusnya di lepas.
Malam jelang dini hari ini,aku tak bisa tidur hingga jam 01.30 karena se ruangan merasa sendiri.(sudono syueb/ed)

Post a Comment

0 Comments