About Me


5 HARI BERMALAM DI RUMAH SAKIT (Bagian 2)


Bunda Siswi Astuti 
(Guru PNS pada Dinas Pendidikan Kab. Bekasi) 

 (Senin, 7 Des 2020)

Harianindonesiapost.com Sejak semalam,aku sudah merasakan lapar,namun aku tak diberikan makan apapun selama di UGD, mungkin memang sudah aturannya seperti itu.. 

Sekitar jam 06.00 WIB, pagi ini aku sedikit kaget, karena di tempatkan di ruang isolasi,  samping  ruang pasien kemarin, hati ku merasa sedih merasa seperti di asingkan, penjelasan dokter hasil rontgenku mengarah ke Covid-19, walaupun semua belum tentu.. akhirnya tindakan Swab tes pun harus di lakukan, di masuk kan alat melalui hidung sampai tenggorokan.Aku hanya berdoa semoga hasilnya negatif. Dokter bilang hasilnya sekitar 3-4 hari. Tak lama masuk pasien wanita, masuk di ruang sebelahku, namun berbatas kaca. ternyata banyak juga yang memiliki gejala sakit serupa, sehingga harus masuk di ruang isolasi. Sekitar jam 09.00 WIB, si sulung baru tiba sambil membawa bubur, ternyata oleh perawat, dilarang masuk untuk memberikan langsung padaku. Hari ini, ia izin dinas dari pimpinan nya. Di saat aku makan, masuklah pasien baru laki2 sekitar usia 35 tahun, ia hanya di antar supir taksi online, katanya dibawa dari Bogor, berhubung  tugas  di Bekasi, maka nya diantar lah ke Rumah Sakit ini. Terdengar dokter dan perawat bicara, bahwa pasien ini mungkin sudah kena Covid-19. Hatiku makin ciut, Ya Allah,  ada rasa kawatir, berada dalam satu ruangan hanya berbatas kaca dengan pasien Covid.  Doaku selalu memohon perlindungan Allah, dari segala penyakit. Alhamdulillah sedikit lebih tenang. Aku sedih hanya bisa berkomunikasi dengan si sulung melalui WhatsApp, padahal ia berada di sampingku, hanya.berbatas kaca.

 Jam 11.00 WIB, dengan kursi roda,aku di bawa perawat, dan anak ku ke Ruang Rawat Inap lantai 3, ruang Flamboyan. Sampai disana dengan berat hati aku harus berpisah dengan si sulung, karena semua pasien tidak boleh di tunggu atau di kunjungi. Semua perawat di sini menggunakan Baju APD, serasa berada di ruang Angkasa, karena mereka seperti astronot. 

Aku di bawa ke ruang Flamboyan 10, agak sedikit terkejut karena saat masuk, di bed yang satu, ada pasien kemarin yang menurut dokter, tubuhnya sudah agak membiru, dan kemungkinan alami Covid. Berada dalam satu ruang, hanya berbatas tirai. Kulihat ia menggunakan oksigen. Aku  ber istighfar di hati. Aku berbaik sangka, disatukan dengan pasien tersebut, karena masih menunggu hasil Swab. 
Ku WA sulungku untuk pulang, percuma menunggu karena memang tak bisa jumpa.

Hikmah yang ku ambil, dari peristiwa ini,aku mungkin memang di suruh istirahat, sebagai pasien rawat inap. Kalau tak begini, aku terkadang suka lupa waktu dalam ber kegiatan, mangajar on line, dengan meng apresiasi hasil siswa, memeriksa, menghias foto yang dikirim, yang menyita waktu.

Aku berusaha menjalani dengan Sa-Syu-ik
Sa-bar, saat di uji.
Syu-kur saat di beri Nikmat.
Ik-hlas menjalani ujian kasih sayang Allah. Alhamdulillah tak sia-sia selama 3 tahun, aku  bergabung dengan Grup Manajemen Sasyuik, yang lebih mendalami tentang Saling :
Motivasi, Inspirasi, Konsultasi dan Solusi.

Pasien sebelah menanyakan tentang sakitku, dan meng infokan bahwa ia hanya mengalami sesak nafas, batuk dan perut mual. Terlihat ia banyak ber- keluh kesah, tentang tak boleh di jenguk atau di tunggui. Aku berusaha memotivasinya,  agar selain sabar, syukur dan ikhlas menjalani semua. Semoga bisa menjadi penggugur doa kita yang lalu.
Aku bersyukur membawa perlengkapan sholat, setiap waktu panggilan sholat aku pun  berusaha menjalankan nya, walaupun tak sempurna karena sholat sambil duduk,lalu membaca Alquran digital, hanya sekitar 10-20 ayat. Hati lebih tenang dan ikhlas. 
Malam itu aku bisa tidur agak lelap, walaupun harus di selingi di suntik antibiotik melalui infus, di tengah malam.
Oh ya saat di Rumah Sakit,aku selalu gunakan masker walaupun dalam keadaan 
tidur, menurutku akan me minimalisir penularan virus Covid-19(sudono/Ed)

Post a Comment

0 Comments