About Me


Umamah binti Abul 'Ash, Cucu Rasulullah Pertama (Serambi Masjid Baitul Mahmud)


0leh: Sudono Syueb
(Alumni Ponpes YTP, Kertosono)

Harianindonesiapost.com Selama ini, kita mengenal keturunan Rasulullah dari jalur Fatimah dan Ali bin Abu Tholib saja. Sementara dari jalur anak anak Rasulullah yang lain jarang, atau bahkan tidak kita kenal.  
Sebelum Rasulullah punya cucu Hasan dan Husen dari Fatimah binti Muhammad SAW, sebenarnya Rasulullah sudah punya cucu, namanya Ummamah binti Abul 'Ash ibnu Ar Rabi, yang lahir dari anak perempuan pertamanya yang bernama Zainab binti Muhammad SAW. 
Umamah bin Abul 'Ash sering diasuh Rasulullah hingga dia tumbuh di bawah cahaya wahyu hingga jadi pribadi yang cerdas, lembut, penyayang dan berkarakter. Hanya sayang sekali, kisah cucu perempuan pertama Rasulullah ini kurang terekam dalam dalam sejarah.

Dilansir dari republika.co.id, Kehidupan sahabat perempuan ini memang kurang terekam sejarah. Padahal, ia adalah cucu perempuan pertama Rasulullah SAW. Sosok itu adalah Umamah binti Abu Al ‘Ash Ibn Ar Rab’i. Ia merupakan putri Zainab binti Muhammad. Ia banyak mewarisi sifat istimewa dari sang ibu. 

Umamah dikenal cerdas, lembut, dan keibuan. Kematangan pribadi itu tak terlepas dari asuhan langsung sang kakek, Muhammad. Semasa kecil, tak segan Rasulullah menggendong dan membawa cucu kesayangannya ini. 
Pemandangan itu pun sering disaksikan langsung oleh para sahabat. Rasul pernah tertangkap mata tengah menggendong Umamah keluar rumah. Cucu perempuannya itu digendong dan diasuh sendiri sembari bercengkerama dengan para sahabat. Demikian juga kala shalat. Tubuh mungil Umamah, tak terlepas begitu saja dari dekapan sang kakek. 
Riwayat Muslim dari Abu Qatadah Al Anshari menguatkan itu. Qatadah berkata, ‘’Saya melihat Nabi SAW menjadi imam shalat sambil menggendong cucunya, Umamah binti Abu Al Ash, di atas pundaknya. Apabila ruku, Rasul meletakkan anak itu, dan apabila berdiri dari sujud mengembalikannya (maksudnya menggendongnya kembali).’’ 
Sikap Rasulullah itu membuat heran masyarakat Arab. Tradisi yang berlaku di mereka, mengasuh dan menyentuh anak perempuan adalah tabu. Menurut Al Fakhani, tampaknya Rasulullah ingin menunjukkan bahwa anak perempuan juga memiliki hak dan martabat yang sama dengan anak laki-laki. Para putri-putri itu juga berhak atas kasih sayang orang tua, kakek-nenek, dan lingkungannya. 
Kasih sayang Rasulullah kepada Umamah menarik perhatian keluarga Nabi. Tak terkecuali para istri. Alkisah, Rasulullah mendapatkan hadiah seuntai kalung. Menurut dia, pemberian itu akan diserahkan pada sosok yang paling dicintai, tanpa menyebut nama. Misteri ini membuat segenap keluarga bertanya-tanya. Siapa gerangan? Nama Aisyah digadang-gadang. 
Ternyata, sosok yang dimaksud ialah Umamah. Kalung itu akhirnya dikenakan di leher sang cucu. ‘’Berhiaslah dengan ini, wahai putriku,’’ kata Rasulullah sambil membersihkan hidung Umamah yang kotor. Pilihan ini di luar dugaan para istri Nabi. 
Meskipun tidak sampai dewasa bersama kakeknya, Umamah sangat beruntung mendapatkan perhatian dan kasih sayangnya. Ia menyaksikan sendiri bagaimana perangai, ke seharian kakeknya yang menjadi panutan umat di dunia. 
Yatim piatu 
Umamah adalah dua bersaudara. Dari per nikahan Zainab binti Muhammad dengan Abul ‘Ash Ibn Ar Rabi, lahir dua anak. Selain Umamah, ada saudaranya bernama Ali. Sayang, saudaranya meninggal sewaktu kecil. Pada tahun ke-8 Hijriah, ibundanya meninggal. Ia diasuh oleh ayahnya. Tak lama kemudian ia pun menjadi yatim piatu. Ia diasuh oleh Az Zubair bin Al Awwam. 
Kala dewasa, ia dipinang oleh Ali bin Abi Thalib. Peristwa itu berlangsung saat Umar bin Khattab menjabat sebagai khalifah. Az Zubair menikahkan kedua pasangan itu. Sebagian riwayat menyebut keputusan Ali ini menyusul wasiat Fatimah Az Zahra sebelum wafat. 
Fatimah mengenal dekat Umamah. Ia mengetahui sifat keponakannya ini. Umamah sangat lembut, keibuan, dan sayang kepada anak-anak. Dalam keseharian pun Umamah sering terlibat mengasuh sepupunya Hasan dan Husein. Maka itu, Fatimah merasa tenang jika Umamah yang mendampingi anak-anak ketika ditinggalnya kelak. 
Pernikahan Umamah dengan Ali bin Abi Thalib tidak dikaruniai anak. Kondisi ini membuat Umamah sepenuhnya mengasuh Hasan dan Husein. Ia juga sangat telaten merawat dan mendampingi suami hingga wafat akibat dibunuh pada 17 Ramadhan 40 tahun setelah hijrah. Pembunuhan itu dilakukan oleh Abdurrahman bin Muljam. Umamah tetap sabar dan tabah. 

Sebelum Ali wafat, ia berpesan kepada istrinya agar menikah dengan Al Mughirah bin Naufal Al Harits, sahabat Ali. Pesan ini telah sampai di tangan Al Mughirah. Selesai masa iddah, malah Muawiyah bin Abi Sufyan yang lebih dulu meminang Umamah. Muawiyah adalah raja kala itu. 
Cucu Rasulullah tak ingin abai terhadap wasiat suami. Umamah mengutus seseorang menemui Mughirah untuk mengabarkan adanya pinangan dari Muawiyah bin Abi Sufyan. ‘’Kalau engkau mau, kau serahkan urusan ini padaku,’’ jawab Al Mughirah untuk disampaikan kepada Umamah. 
Maksud pesan itu bahwa Al Mughirah segera meminangnya. Pernikahan Umamah dengan Al Mughirah dikaruniai seorang putra, yaitu Yahya ibnul Mughirah. Sayangnya, Umamah tidak bisa lama mendampingi anaknya tersebut. Umamah wafat pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. ¦

Sumber: republika.co.id
Red: Agung Sasongko

Post a Comment

0 Comments