About Me


MENGENANG GAGASAN SUTAN TAKDIR AGAR INDONESIA BERKIBLAT KE BARAT


Oleh: Dr. Adian Husaini

 (Ketua DDII Pusat)

Ed: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Perjalanan intelektual bangsa Indonesia cukup menarik. Menjelang kemerdekaan tahun 1945, berbagai pihak mengajukan gagasan ideal untuk negara merdeka. Di antara gagasan yang muncul, Sutan Takdir Alisyahbana (STA) mengusung ide cukup kontroversial yang memicu perdebatan luas. Ketika itu, tahun 1935, filosof dan budayawan Sutan Takdir menulis artikel  bertajuk ”Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru”, di Majalah Pujangga Baru, edisi Agustus 1935.

Melalui artikelnya ini, STA mengajak masyarakat untuk meninggalkan zaman prae-Indonesia yang disebutnya sebagai ”zaman jahiliyah Indonesia”.

”Sangat perlu dinyatakan dengan tegas, bahwa sejarah Indonesia dalam abad kedua puluh, ketika lahir suatu generasi yang baru di lingkungan Nusantara ini, yang dengan insyaf hendak menempuh suatu jalan yang baru bagi bangsa dan negerinya. Zaman sebelum itu, zaman sehingga penutup abad kesembilan belas, ialah zaman prae-Indonesia, zaman jahiliah keindonesiaan, yang hanya mengenal sejarah Oost Indische Compagnie, sejarah Mataram, sejarah Aceh, sejarah Banjarmasin dan lain-lain... Indonesia yang dicita-citakan oleh generasi baru bukan sambungan Mataram, bukan sambungan kerajaan Banten, bukan kerajaan Minangkabau atau Banjarmasin. Menurut susunan pikiran ini, maka kebudayaan Indonesia pun tiadalah mungkin sambungan kebudayaan Jawa, sambungan kebudayaan Melayu, sambungan kebudayaan Sunda atau kebudayaan yang lain. Pekerjaan Indonesia muda bukanlah restaureeren Borobudur dan Prambanan...”

Masih menurut STA, pekerjaan Indonesia baru adalah mewujudkan kebudayaan baru (culturscheppen) yang sesuai dengan semangat jiwa dan zamannya. Indonesia muda, tegas STA, harus sadar bahwa Indonesia baru harus sejajar dengan negeri-negeri terkemuka di dunia. ”Bukan Indonesia musium barang kuno,” tegasnya.

Untuk itu secara tegas STA  mengajak orang Indonesia untuk mengarahkan kiblat pandangannya ke Barat. ”Dan sekarang ini tiba waktunya kita mengarahkan mata kita ke Barat,” imbau STA. Lebih jauh jauh STA menulis:

”Tetapi meski bagaimana sekali pun tidak enak bunyinya semboyan, bahwa kita harus belajar pada Barat, meski bagaimana sekali pun sedih hati kita memikirkan hal yang demikian, dalam hal ini rasanya kita tidak salah memilih. Sebabnya, semangat keindonesiaan yang menghidupkan kembali masyarakat bangsa kita yang berabad-abad selalu mati ini, pada hakekatnya kita peroleh dari Barat.”

(Gagasan STA bisa dilihat dalam buku, Achdiat K. Mihardja, Polemik Kebudayaan, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1977).

*****

Begitulah salah satu gagasan yang muncul tentang Indonesia merdeka versi Sutan Takdir Alisyahbana. Pandangan STA berangkat dari fakta bahwa memang pada awal abad ke-20, bangsa-bangsa Eropa meraih banyak kemajuan. Tidak sedikit mereka yang menjajah bangsa-bangsa lain. Kemajuan bangsa Barat itu begitu mempesona.

Pandangan STA sejalan dengan pendapat seorang tokoh Young Turk Movement, Abdullah Cevdet, yang menganggap bahwa satu-satunya peradaban yang hebat adalah peradaban Barat. Karena itu, kata Cevdet, bangsa Turki harus mencontoh Barat secara total. Ibarat mengambil pohon Mawar. Harus diambil bunga dan durinya sekaligus. Kata dia: “There is only one civilization, and that is European civilization. Therefore, we must borrow western civilization with both its rose and its thorn.  (Lihat, M. Sukru Hanioglu, The Young Turks In Position, (Oxford University Press, 1995).

Tentu saja ajakan untuk menjiplak Barat secara total semacam itu mendapat kritik dari berbagai cendekiawan lainnya. Salah satu kritik terkenal datang dari seorang cendekiawan Yahudi (Leopold Weiss) yang kemudian menjadi Muslim dan berganti nama menjadi Muhammad Asad. Asad kemudian menetap di Pakistan dan menulis sejumlah buku terkenal di dunia Islam, termasuk Tafsir singkat al-Quran.

Berbeda dengan Cevdet, STA, dan lain-lain, Muhammad Asad memandang bahwa ”Imitasi pola pikir dan pola hidup Barat” justru merupakan bencana besar bagi umat Islam. Dalam buku klasiknya, yang ditulis tahun 1930-an, Islam at the Crossroads, Muhammad Asadmenekankan, bahwa bahaya terbesar bagi eksistensi atau kebangkitan umat Islam adalah kecenderungan untuk peniruan pada pola hidup Barat.

Kata Asad, “The Imitation – individually and socially – of the Western mode of life by Muslims is undoubtedly the greatest danger for the existence – or rather , the revival – of Islamic civilization.”  (Muhammad Asad, Islam at The Crossroads,  (Kuala Lumpur: The Other Press).

Di Indonesia, gagasan STA pun mendapat banyak kritikan.  Pandangan STA dan Cevdet ini jelas mengabaikan fakta sejarah pencapaian peradaban Islam yang diakui ilmuwan-ilmuwan dunia. Fakta sejarah menunjukkan bahwa Islam adalah faktor penting dalam sejarah perkembangan peradaban Melayu, dan juga peradaban dunia.

Selama berabad-abad berbagai bangsa telah merasakan bagaimana kuatnya pengaruh Islam dalam mengangkat martabat suatu bangsa di pentas dunia. Bahkan pengaruh Islam terhadap kemajuan Eropa telah banyak  ditulis oleh para sejarawan. Salah satunya, buku karya Tim Wallace Murphy berjudul What Islam Did For Us: Understanding Islam’s Contribution to Western Civilization” (London: Watkins Publishing, 2006).

Memang, saat ini banyak prestasi Islam dalam peradaban telah dilampaui oleh peradaban Barat, tetapi menurut Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, ada prestasi yang belum bisa dilampaui oleh Barat, yaitu keberhasilan Islam dalam melahirkan manusia-manusia mulia di pentas sejarah. Dalam dunia politik, Islam telah melahirkan banyak pemimpin yang sangat besar kekuasaan politiknya, tetapi sekaligus orang-orang yang sangat tinggi ilmunya dan sangat sederhana hidupnya. Begitu juga ilmuwan-ilmuwan Muslim dikenal sebagai sosok-sosok yang berhasil menyatukan antara ilmu dan amal dalam pribadi mereka. Ini sangat berbeda dengan banyak ilmuwan Barat yang memisahkan antara ilmu dan akhlak keagamaan.

Meskipun terjadi perbedaan pendapat yang tajam antar berbagai tokoh pendiri bangsa Indonesia, ada satu pelajaran penting yang bisa kita petik. Bahwa, para tokoh pendiri bangsa kita adalah para pejuang dan pemikir yang sangat luas cakrawala berpikirnya. Dan yang lebih penting, mereka mampu mencari solusi bersama untuk meraih kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. (Depok, 21 November 2020).

Post a Comment

0 Comments