About Me


JAGA LISAN DAN OJO LAMIS


Oleh: Sudono Syueb
(Alumni Ponpes YTP, Kertosono & Fisipol UGM, Yogyakarta)

Harianindonesiapost.com Mari kita senantiasa jada lisan kita dan ojo lamis, jangan suka berbohong atau jangan suka manis di bibir atau abang abang lambe.
Rasulullah SAW juga bersabda:

سلامة الإنسان في حفظ اللسان

"Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan." (H.R. al-Bukhari).

Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah disebutkan, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau lebih baik diam (jika tidak mampu berkata baik)" (HR: al-Bukhari dan Muslim).

Diriwayatkan oleh Ahmad, Rasulullah SAW juga bersabda:

عليك بطول الصمت فإنه مطردة الشيطان وعون لك علي أمردينك


"Hendaklah engkau lebih banyak diam, sebab diam dapat menyingkirkan setan dan menolongmu terhadap urusan agamamu." (H.R. Ahmad).

Allah memperingatkan bahwa terdapat malaikat yang mencatat setiap ucapan manusia, yang baik maupun yang buruk. Allah Ta'ala berfirman,


مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ


"Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS. Qaaf [50]: 18)

Jika kita mampu jaga lisan dan tidak lamis in syaa Allah,  Allah swt. akan menutup aib kita. Maksudnya Allah akan menutupi aib dan kecacatan kita yang diam dan tidak banyak bicara. Karena dengan diam berarti kita telah menutupi aib orang lain, tidak menggunjingkan, tidak merendahkan, dan tidak berkata keji. Dengan demikian, secara tidak langsung kita telah berlaku santun dan bijaksana dalam pergaulan dengan menjaga mulut kita. Karena sikap diamnya ini maka Allah membalas dengan menutupi aib dirinya di depan orang lain. Sebagaimana penjelasan Rasulullah saw. yang artinya: “Barangsiapa yang menjaga lisannya, niscaya Allah menutupi auratnya. Barangsiapa menahan murkanya niscaya Allah melindunginya dari siksa-Nya dan barangsiapa yang mengemukakan alasan kepada Allah, niscaya Allah menerima alasannya.”

Al-Faqih berkata bahwa Rasulullah saw. telah bersabda: “Barangsiapa memukul budaknya maka tebusannya memerdekakannya dan jika memelihara lisannya pasti rahasianya dijaga baik-baik, jika emosinya ditahan pasti selamat dari siksa, barangsiapa minta maaf pasti Allah memaafkannya.”

Perlu kita ketahui bahwa diam termasuk ibadah. Sebab tidak sedikit terjadinya kemaksiatan dan kemungkaran yang diakibatkan oleh ucapan. Karena itu diam merupakan bagian dari ibadah. Nabi Isa as. berkata: “Ibadah itu ada sepuluh bagian. Sembilan bagiannya terdapat pada sikap diam, sedangkan satu bagiannya terdapat pada menjauhi manusia.” Rasulullah saw. pernah menyampaikan kepada para sahabatnya bahwa diam adalah bagian dari ibadah dan salah satu sifat dari orang yang berbudi mulia. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Sufyan bin Salim bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda yang artinya:
“Sukakah aku beritahukan kepada kalian mengenai ibadah yang paling mudah dan paling ringan bagi anggota badan? Yaitu diam dan berbudi pekerti mulia.”

Rasulullah saw. juga bersabda yang artinya:
“Berilah makan orang-orang yang lapar, berilah minum orang yang dahaga, perintahkanlah untuk berbuat kebaikan dan cegahlah dari perbuatan mungkar. Jika engkau tidak sanggup maka jagalah lisanmu melainkan untuk kebaikan.”

Abu Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda yang artinya:

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata benar atau bersikap diam.”

Rasulullah saw. juga bersabda:
“Sesungguhnya Allah di sisi orang yang berbicara. Maka hendaklah bertaqwa orang yang mengerti apa yang ia katakan.”

Dari beberapa hadits di atas menunjukkan bahwa diam itu termasuk ibadah karena menghindari pembicaraan yang munkar dan tercela yang dilarang oleh agama.

Post a Comment

0 Comments