About Me


Freelance Monotheist


Oleh: Rulyjanto Podungge

Dosen IAIN Sultan Amai, Gorontalo

Editor: Sudono Syueb


Gorontalo,harianindonesiapost.com-Begitulah Karen Armstrong memperkenalkan hakikat dirinya. Jika diterjemhakan harfiah kalimat "Freelance Monotheist" mungkin bermakna, ‘percaya kepada Tuhan yang Esa tetapi tidak terikat kepada agama manapun’.
Ia lahir di Wildmoor, Worcestershire, Inggris, 14 November 1944, dan dari tahun 1962 hingga 1969 ia berdiam di biara Serikat Yesus Putra Kudus (Society of the Holy Child Jesus). Lantas ia keluar dari biara, bahkan pernah menganggap dirinya Ateis,!..

Perjalanan dirinya mencari Tuhan adalah pengalaman spiritual yang luar biasa, buku pertama Karen adalah Through the Narrow Gate (1981) tentang pengalamannya sebagai "biarawati minggat" (runaway nun), kemudian ia menulis buku tentang Islam, Kristen, Judaisme, dan Buddhisme, A History of God: The 4000-Year Quest of Judaism, Christianity and Islam (1993).

Pada 1988 Salman Rushdie mengumumkan The Satanic Verses. Novel itu konon mengambil sebagian bahannya dari cerita tentang Nabi Muhammad SAW. Ahmad Salman Rushdie penulis berdarah Inggris-India ini adalah penghina Islam dengan menerbitkan novel Ayat-Ayat Setan. Novel ini menceritakan tokoh fiktif bernama Mahound, diduga Muhammad, menerima tiga Tuhan seperti ramalan Makkah. Menurut legenda, Mahound mengganti tulisan asli pada kitab suci dengan ayat-ayat setan. Dia mengaku mendapat bisikan dari malaikat Jibril serta iblis menggodanya.
Karen adalah salah satu Penulis Inggris yang berupaya mengatasi suasana Ketegangan antara Dunia Barat dengan Dunia Islam. Ia ingin memupus apa yang disebutnya "penyakit takut-Islam yang melekat pada masyarakat Barat" (endemic Islamophobia of the West). Karen yakin, harus ada pemahaman yang tepat mengenai Islam, termasuk mengenai Muhammad SAW. Ia pun menulis biografi Sang Nabi.

Bukunya, Muhammad: A Biography of the Prophet terbit pertama kali pada 1991. Ada pula terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Buku ini kiranya bisa dilihat sebagai salah satu biografi Muhammad karya orang Barat non-Muslim. Armstrong melihat Muhammad SAW sebagai "manusia paling menakjubkan yang pernah hidup" (the most remarkable human beings who ever lived).

Karen Armstrong mengungkap sejarah kebencian kaum Kristen Barat terhadap Muhammad saw, yang berurat berakar dalam sejarah. Dalam legenda-leganda di zaman pertengahan di Barat, Muhammad digambarkan sebagai tukang sihir, penderita penyakit epilepsi (ayan), seorang yang dikuasai roh jahat, dan penipu berdarah dingin. Tokoh-tokoh Kristen Barat ketika itu berusaha menciptakan legenda bahwa Islam adalah pecahan agama Kristen. Konon, ada seorang ’heretic’ (Kristen yang menyimpang) bernama Sergius yang bertemu Muhammad dan mengajarkan versi Kristen yang menyimpang.

Di antara kebencian yang diungkapnya itu misalnya, pada tahun 1697, dalam karyanya yang terkenal, Bibliotheque Orientale, Barthelmy d’Herbelot mulai melakukan studi Islam yang serius dengan menggunakan rujukan-rujukan Arab, Persia, dan Turki. Tetapi, meskipun begitu, dia tetap menyebut Mohammad sebagai ’Mahomet’ sang penipu ulung dan pembuat bid’ah. Pada tahun yang sama, orientalis Inggris Humprey Prideaux menerbitkan karyanya, ’Mahomet: the True Nature of Imposture’ yang menggambarkan sosok Nabi Muhammad sebagai manusia yang masa kecilnya menjalani cara hidup yang amoral, menjalani berbagai tindak kejahatan seperti perkosaan, perampokan, dan pembantaian. Juga, Mahomet disebutnya sebagai manusia yang gila perempuan. Tahun 1741, dalam dramanya Mahomet or Fanaticism, Voltaire masih menyebut Muhammad sebagai penipu dan penyebar kebohongan.

Dalam studi Islam, Karen Armstrong tergabung dalam Himpunan Ilmu Sosial Muslim (Association of Muslim Social Sciences). Pada 1999 Pusat Islam Kalifornia Selatan (Islamic Center of Southern California) menghargainya sebagai penjalin saling pengertian antaragama. Ia pun menerima penghargaam Muslim Public Affairs Council Media Award.

Karen Menulis sejarah Nabi, sejalan dengan metode historiografi modern: berpijak pada fakta, analitis, dan kontekstual. Gayanya simpatik, hingga paparannya sering terasa seakan berasal "dari dalam". Untuk menuturkan riwayat Muhammad SAW, Armstrong antara lain merujuk pada sumber-sumber klasik, semisal dari Ibnu Ishaq (w 767), Muhammad bin Sa'd (w 848), Abu Jafar at-Tabari (w 923), dan Muhammad bin Umar al-Waqidi (w 820).

Menurut Armstrong Ajaran belas kasih adalah hal terpenting yang harus dimiliki oleh masyarakat dunia.  Ini juga menjadi ujian bagi pemeluk agama untuk menjalankannya. Di Alquran, misalnya, bertebaran ajaran yang mendorong untuk berlaku belas kasih terhadap orang lain. Di antaranya, memperlakukan orang dengan hormat, menyantuni fakir miskin, dan menciptakan masyarakat berkeadilan.

Di Akhir bukunya itu Karen menulis: “Barangkali kita bisa mulai dengan bertolak dari sosok Muhammad: tokoh yang pelik, penuh gairah, dan ada kalanya melakukan sesuatu yang sulit kita terima, tapi secara gemilang mampu merintis tatanan yang kokoh, menemukan agama dan tradisi budaya yang tidak didasarkan pada pedang, tidak seperti menurut mitos Barat, dan yang nama agamanya, 'Islam,' mementingkan kedamaian dan rekonsiliasi,"

Bagi Muslim, beliau Rasulullah adalah uswatun hasanah. Nabi Muhammad saw, adalah model yang hidup sepanjang zaman. Meskipun sudah ribuan tahun berlalu, keteladannnya tetap hidup dan relevan. Tidak ada satu bangsa, umat, atau peradaban pun yang memiliki suri tauladan yang lengkap yang mencakup seluruh aspek kehidupan dan tetap ’relevan’ sepanjang zaman, selain kaum Muslim..

Adakah Tokoh di Dunia ini yang dari bangun-hingga tidurnya, segala aspek kehidupannya, dijadikan sebagai teladan selain beliau Rasulullah saw?

Post a Comment

0 Comments