About Me


ERA POST TRUTH


Oleh: Adian Husaini 
Ketua Dewan Dakwah lslamiyah Indonesia
(www.adianhusaini.id)

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com ALHAMDULILLAH! Hari ini, 10 November 2020, tepat SETAHUN umur “POJOK-1000-ARTIKEL-PILIHAN”.  
Pojok artikel pilihan ini diluncurkan tepat di Hari Pahlawan, 10 November 2019, di Kota Bandung.

Selama SETAHUN, alhamdulillah, telah ditulis lebih dari 520 artikel. Ini anugerah Allah SWT yang sangat besar. Tantangan SETAHUN terlewati. Tantangan berikutnya semoga bisa terlampaui pula. Mohon doanya.

Selama SETAHUN ini, sebagian kumpulan artikel pilihan telah diterbitkan menjadi dua buku berjudul: (1) Jangan Kalah Sama Monyet (Yogya: Pro-U Media, 2020), dan (2) Islam dan Pancasila (Depok: YPI at-Taqwa, 2020).

POJOK-1000-ARTIKEL-PILIHAN, insyaAllah, memberikan manfaat dalam membentuk pola pikir atau worldview yang benar. Dengan itu, kita bisa memahami realitas atau berita secara adil (tidak ekstrim). Ini hal wajib bagi kita, keluarga kita, dosen atau guru-guru kita, karyawan kita, para santri, murid, mahasiswa, atau jamaah kita.

Kini, kita masuk era ‘post truth’.  Ini zaman kekacauan informasi. Kebohongan bisa dijadikan komoditi.  Nabi Muhammad saw pernah mengingatkan: “Akan datang satu masa yang penuh dengan tipu daya. Orang jujur tidak dipercaya; sebaliknya pembohong justru dipercaya…” 

Setiap hari kita berulangkali berdoa, “Ya Allah, tunjukkan kami jalan yang lurus… Bukan jalannya orang-orang yang Engkau murkai (al-Yahuud) dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat (al-Nashaaraa).” 

Era kini, adalah dominasi satu peradaban sekuler-materialis yang dibangun oleh kaum Yahudi-Nasrani. Peradaban Barat modern inilah yang dikatakan Mohammad Asad – seorang cendekiawan Yahudi yang masuk Islam --  memiliki ciri utama “irreligious in its very essence”. Prof. Naquib al-Attas menggambarkan ciri peradaban Barat modern: “Manusia dituhankan, dan Tuhan dimanusiakan!”

            Inilah ujian iman! (QS al-Ankabut: 2-3). Kita hidup dalam zaman yang menyeret manusia dalam kehidupan yang melupakan Tuhan. “Even if God existed we must reject him,” kata Jean Paul Sartre. Kini, lihatlah, di berbagai sudut dunia, banyak manusia dengan angkuhnya menolak diatur hidupnya oleh Tuhan.

            Tidak sedikit manusia yang merasa berhak penuh untuk mengatur dirinya. Mereka menolak aturan Tuhan yang mewajibkan menutup aurat. Ada penguasa yang dengan angkuhnya menyatakan, bahwa agama jangan dibawa-bawa dalam urusan kenegaraan. Beberapa ilmuwan dengan bangga menulis, bahwa sains dan agama jangan dicampuradukkan.

            Ada pula beberapa gelintir manusia yang menyatakan bahwa kaum homoseksual harus diberikan hak yang sama dengan heteroseksual. Bahkan, anak-anak kecil sudah diajari, bahwa perempuan dan laki-laki harus diberikan hak yang sama di semua bidang; tidak ada kewajiban istri taat pada suami.

            Tapi, puncak dari kezaliman manusia terjadi ketika mereka mengkampanyekan: “Menyembah Allah sama saja dengan menyembah tuyul dan berhala!”  Lalu, shalat dengan cara Nabi disamakan dengan ritual telanjang dan berteriak-teriak sambil bernyanyi. “Semua menuju Tuhan yang sama!” pekik mereka.

            Katanya, semua itu demi kemanusiaan; demi hak asasi manusia. Manusia – kata orang-orang yang tersesat ini – punya hak asasi untuk menikah dengan siapa saja, tanpa dibatasi suku, bangsa, dan agama. Juga, punya hak asasi untuk maksiat dan menjadi kafir. Yang penting bebas, bebas, dan bebas! Termasuk bebas mencaci maki dan melecehkan Tuhan serta Nabi-Nya.

            Semua itu berawal dari kekacauan ilmu (confusion of knowledge). Kekacauan ilmu dipaksakan untuk ditelan anak-anak muslim di bangku-bangku pendidikan. Allah SWT memperingatkan, bahwa musuh para Nabi adalah setan-setan, dari jenis manusia dan jenis jin. Aktivitas para setan itu adalah menebarkan kata-kata indah untuk menipu manusia! (QS al-An’am: 112).

“Monyet”

Allah SWT mengingatkan, bahwa neraka jahannam akan diisi oleh banyak manusia dan jin dengan kriteria: memiliki mata, tapi tidak melihat ayat-ayat Allah, memiliki telinga tetapi tidak mendengar ayat-ayat Allah, dan memiliki akal tetapi tidak memahami ayat-ayat Allah. Manusia seperti itulah laksana “binatang” (al-an’am), bahkan lebih sesat. (QS al-A’raf: 179).

Bahkan, dalam QS Muhamad ayat 12 kita diingatkan perilaku orang-orang kafir, yang hidupnya hanya mengejar kesenangan dan hanya untuk makan-makan, seperti binatang. Perumpamaan dalam al-Quran itu sangat masuk akal. Manusia yang tidak kenal Tuhannya dan tidak mau beribadah kepada Tuhannya, maka hidupnya hanya akan berputar-putar seputar syahwat. Berpindah-pindah, dari syahwat satu ke syahwat lainnya!

Ada lagi perilaku manusia laksana anjing! Digambarkan dalam QS al-A’raf ayat 175-176, bahwa manusia yang telah memahami ayat-ayat Allah, lalu mencampakkan ayat-ayat Allah itu, maka manusia seperti itu adalah laksana anjing.

Karena itulah, ungkapan “Jangan Kalah Sama Monyet” penting untuk kita renungkan. Sebab, begitu manusia melupakan Tuhan, lupa berzikir dan beribadah kepada Allah, maka manusia sudah menyimpang dari tujuan penciptaannya. Ketika itulah manusia akan menjadi “binatang”, karena memang hidupnya akan seperti binatang; hanya mengejar syahwat dan kesenangan duniawi.

Manusia seperti ini pasti tidak bahagia hidupnya. Karena itulah, narkoba dan minuman keras akan menjadi pelengkap wajib dalam peradaban mereka.

*****

Di era seperti ini, menjaga keselamatan iman bukan perkara mudah. Maknanya, menjaga keimanan adalah hal yang harus diusahakan dengan sungguh-sungguh; bukan dianggap perkara mudah, sehingga bisa dilakukan secara sambilan.

Tidaklah adil, jika ingin sukses masuk kampus yang dianggap favorit, pelajar mau bersusah payah dan mengorbankan biaya ratusan juta bahkan milyaran rupiah, tetapi untuk selamat pikiran, keimanan, dan akhlak, dilakukan dengan rasa enggan da nasal-asalan. 

Ambillah kasus opini tentang “ranking universitas” yang masih menjadi rujukan utama para pelajar muslim dalam memilih tujuan pendidikannya. Biasanya, pemerintah atau lembaga ranking mengeluarkan daftar ranking kampus berdasarkan empat indikator: input, proses, output, outcome. Dari semua indikator tersebut, tidak dimasukkan indikator keimanan, ketaqwaan, dan akhlak mulia.

Tinggi rendahnya ranking kampus tidak ditentukan, apakah di kampus itu para mahasiswa diarahkan untuk beriman secara benar atau tidak; apakah para dosen dan mahasiswanya menjalankan shalat lima waktu dengan baik atau tidak; berapa persen sivitas akademika yang melaksanakan shalat tahajjud, baca al-Quran secara rutin, berzakat dan berinfak, dan sebagainya.

Tetapi, yang dijadikan indikator utama adalah apakah kampus itu melahirkan orang-orang yang bisa cari makan atau tidak. Tentu saja, memiliki ilmu dan ketrampilan untuk bisa cari makan atau bisa bekerja adalah hal yang baik dan perlu. Tetapi, sesuai dengan namanya “universitas”, tujuan utamanya adalah membentuk manusia yang sempurna, manusia yang universal (al-insan al-kulliy). Yakni, insan beradab atau berakhak mulia.

Beberapa kali dalam artikel saya menulis tentang kerancuan opini yang menyatakan bahwa pendidikan kita jeblok; bahwa pendidikan kita tertinggal 128 tahun dari negara maju, dan sebagainya! Padahal, itu tidak benar ditinjau dari hakikat pendidikan dalam Islam, yang mengutamakan pembentukan manusia yang sempurna. Kata Nabi Muhammad saw: “Akmalul mukminiina iimanan ahsanuhum khuluqaa”. Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya.  

Jadi, inilah salah satu misi utama Pojok1000ArtikelPilihan ini diluncurkan: memberikan cara pandang yang adil dalam memahami dan menyikapi realitas masyarakat. Tujuan utamanya, agar kita selamat dunia akhirat, sekeluarga. Juga, agar kita memahami akar masalah umat Islam dan paham pula cara menyelesaikannya.

Akhirul kalam, kepada para pelanggan Pojok1000 Artikel Pilihan, baik perorangan atau lembaga,  saya dan tim admin menyampaikan terimakasih  yang sebesar-besarnya. Semoga kita semua meraih ilmu yang bermanfaat. Dan mohon doanya selalu.  Jazaakumullah Khair. (Depok, 10 November 2020).

Post a Comment

0 Comments