About Me


Boikot Ekonomi-Politik: Konter Radikalisme


Oleh: Dr. Slamet Muliono
Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Reaksi dunia Islam yang memboikot produk Prancis benar-benar mengagetkan dan memukul pemerintahan Prancis. Kebijakan dunia Islam menarik duta besar mereka dari negara Prancis, bisa dipastikan akan membuat negara itu akan terisolasi dari dunia. Hal ini menyusul sikap presiden Prancis, Emmanuel Macron, yang mendukung penghinaan terhadap Nabi Muhammad. 

Aksi boikot atas negara Prancis akan menggoncang ekonominya, dan memanaskan situasi politik negara ini. Ekonomi Prancis bisa dipastikan bakal lumpuh bila semua dunia Islam memboikot dan tak membeli dan menjual produknya. Bahkan situasi politik internal dalam negeri Prancis bakal terguncang karena banyak pihak yang merasa dirugikan. Kalangan pengusaha dan politisi Prancis yang paling terpukul bila aksi boikot dan penarikan duta besar negara-negara muslim. 

Dua aksi ini merupakan cara efektif untuk mengkonter fobia Barat yang menuduh Islam sebagai sumber radikalisme.  

Seruan boikot dari dunia Islam

Seruan boikot dunia Islam yang dimotori Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, benar-benar membuat Prancis sadar bahwa kebijakannya mendukung penghinaan terhadap Nabi Muhammad justru blunder dan kontra-produktif. Penghinaan terhadap Nabi benar-benar memicu sentimen dan persatuan umat Islam untuk melakukan perlawanan terhadap stereotype Barat yang masih menganggap Islam sebagai agama penyokong terorisme dan radikalisme. 

Boikot terhadap produk-produk dari negara yang menghina Islam bukan hanya efektif dalam membungkam mereka, tetapi juga sangat efektif dalam mengkonter pandangan Barat bahwa Islam sebagai penyokong radikalisme. 

Sikap pemerintah Prancis yang menganggap bahwa penghinaan terhadap nabi umat Islam, sebagai bentuk kebebasan berekspresi merupakan salah tempat. Dunia Islam memanas bukan hanya karena pemerintah Prancis melakukan penembakan terhadap sang pemuda, dan berlanjut mengeksekusi keluarganya, serta menangkapi rekan-rekan pemuda itu. Tetapi presidennya, Macron membiarkan warganya memasang poster menghina Nabi Muhammad, dan menyatakan Islam sebagai agama teroris. 

Atas sikap Macron inilah wajar apabila dunia Islam membara. Mereka melakukan dua langkah boikot, yakni boikot ekonomi dan politik. Langkah boikot ekonomi dilakukan dengan menarik seluruh produk negara Prancis dan menolak menjualnya. Langkah ini jelas melumpuhkan akan ekonomi Prancis. Adapun boikot politik dengan menarik seluruh duta besar. Hal ini jelas akan melumpuhkan jaringan politik dan hubungan diplomatik Prancis dengan negara-negara lain. 

Bahkan, sebelumnya Erdogan menyatakan bahwa Presiden Prancis perlu menjalani pemeriksaan mental. Tuduhan memeriksa mental Macron ini menyebabkan pemerintah Prancis menarik dubesnya dari Ankara. Erdogan berargumen apa yang salah dari umat Islam sehingga harus dimusuhi dan apakah umat Islam membuat kesalahan pada negara Prancis, hingga membenarkan penghinaan kepada Nabi Muhammad. Padahal penghinaan terhadap Nabi Muhammad jelas akan menyinggung perasaan umat Islam.

Kekompakan dunia Islam untuk melakukan boikot ekonomi dan politik merupakan salah satu cara untuk memberi pelajaran bagi mereka yang masih fobia dengan Islam. Dua acara ini benar-benar efektif untuk membungkam suara-suara sumbang masyarakat Barat.  

Upaya membungkam Islamofobia 

Apa yang dilakukan Prancis dengan menggaungkan Islam sebagai agama terorisme tidak lepas dari perkembangan Islam yang besar di negara-negara Eropa. Membendung Islam dengan jalur damai dan diplomasi tidak membuat Islam terhadang atau surut. 

Berbagai kebijakan untuk menekan laju pertumbuhan kaum muslimin di Prancis tak membawa hasil. Mereka membatasi masuknya imigran muslim yang datang dari negara-negara seperti Maroko, Sudan, Afghanistan dan lainnya, namun tak berhasil. Mereka juga melarang wanita menggunakan jilbab dan cadar dengan berbagai cara, namun usaha-usaha ini gagal juga. 

Kehilangan akal dengan cara damai dan diplomasi, maka Prancis menggunakan cara konvensional, yakni menstigma Islam sebagai agama pemasok paham terorisme. Bahkan mereka pun membuat makar dengan dalih kebebasan berekspresi ketika melindungi sang penghina nabi. 

Apa yang dilakukan pemerintah Prancis membunuh seorang pemuda, karena membela nabinya, hingga membunuh keluarga pemuda itu, serta kebijakan Presiden Prancis yang menginstruksikan memasang karikatur guna menghina Nabi, jelas merupakan ajakan perang terhadap Islam. 

Merendahkan atau menghina presiden saja bisa ditangkap dan dipenjarakan. Maka menghina nabi jelas harus memperoleh hukum yang lebih berat. Oleh karena itu, boikot-boikot yang dilakukan oleh dunia Islam merupakan langkah tepat. Kesalahan fatal yang dilakukan oleh Emmanuel Macron tidak bisa dimaafkan karena secara sistematis telah melakukan sejumlah penyimpangan. 

Pertama, membiarkan seorang guru bebas berekspresi hingga menghina nabi dan tidak memproses laporan orang tua wali. Kedua, membunuh keluarga pemuda yang membela nabinya. Ketiga, menangkap teman-teman pemuda itu dengan alasan keterlibatan pembunuhan. Keempat, menginstruksikan warganya untuk memasang karikatur untuk menghina nabi. Kelima, menstigma Islam sebagai agama terorisme.

Kelima kesalahan pemerintah Prancis itu sudah cukup untuk memberi pelajaran keras kepada negara itu. Andaikata ada pemimpin negara muslim yang memiliki kekuatan penuh untuk menghukum Presiden Prancis, maka  jauh lebih baik. 

Langkah menghukum bagi siapa pun yang melakukan penghinaan terhadap Muhammad merupakan bentuk penghormatan yang pantas bagi para penghina Nabi Muhammad. Andaikata kualitas iman dan kecintaan yang dimiliki kaum muslimin saat ini, sebagaimana yang dimiliki para sahabat nabi, tidak akan ada satu orang pun yang berbuat seperti Emmanuel Macron.

Boikot dunia Islam terhadap produk Prancis dan memutus hubungan diplomatik dengan negara itu merupakan cara yang paling ringan. Hal ini sebagai upaya minimal untuk menghukum orang yang menghina sosok nabi yang diagungkan kaum muslimin. Dan langkah ini sebagai cara untuk membungkam mereka yang terus menerus menstigma Islam sebagai sumber terorisme.

Sumber: harianmerdekapost.com

Post a Comment

0 Comments