About Me


Tidak Ada Keta'atan Dalam Hal Ma'siat Dan Menyelisihi Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (As Sunnah)


Oleh: KH. Drs. Sudarno Hadi, MPd.l

Ketum DDII Jatim

Harianindonesiapost.com Dalam mu'amalah dengan sesama manusia, baik dengan orang tua, dengan suami atau istri, dengan anak, dengan atasan di kantor, dengan ketua RT atau bahkan dengan pemimpin negara, terkadang seseorang dituntut untuk ta'at kepada mereka. Baik keta'atan yang memang dituntut dalam agama, maupun keta'atan yang menjadi kesepakatan dalam suatu mu'amalah.

Namun perlu diketahui, ada kaidah agung yang membatasi keta'atan kepada manusia, selain Rasulullah  Shallallahu 'Alayhi Wassalam. Ketaatan kepada mereka yang disebutkan di atas, dan juga kepada seluruh manusia (selain Rasulullah Shallallahu Alayhi Wassalam) tidaklah bersifat mutlak, bahkan bersifat terbatas.
حب الله و رسوله أعظم
*“Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya itu yang paling besar (dari yang lain).”*

Betapapun hormat, patuh atau cinta kita kepada seseorang yang kita ta'ati, tidak boleh melebihi cinta dan keta'atan kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Cinta dan ta'at kepada Allah dan Rasul-Nya harus lebih besar dari yang lain. Karena ini adalah konsekuensi dari keimanan. Dalam hadits dari Anas bin Malik Radliyallahu ’Anhu, Nabi Shallallahu Alayhi Wassalam bersabda:
ولا يُؤمِنُ أحَدُكم حتى أكونَ أحَبَّ إليه من وَلَدِهِ، ووَالِدِهِ والنَّاسِ أجْمعينَ
*“Tidak beriman salah seorang diantara kalian, hingga aku (Rasulullah) menjadi yang paling dicintainya daripada anaknya, orang tuanya dan seluruh manusia.”* (HR. Bukhari no. 15, Muslim no. 44).

Dari Anas bin Malik Radliyallahu ’Anhu, Nabi Shallallahu 'Alayhi Wassalam bersabda:
ثَلاثٌ مَن كُنَّ فيه وجَدَ طَعْمَ الإيمانِ: مَن كانَ يُحِبُّ المَرْءَ لا يُحِبُّهُ إلَّا لِلَّهِ، ومَن كانَ اللَّهُ ورَسولُهُ أحَبَّ إلَيْهِ ممَّا سِواهُما، ومَن كانَ أنْ يُلْقَى في النَّارِ أحَبَّ إلَيْهِ مِن أنْ يَرْجِعَ في الكُفْرِ بَعْدَ أنْ أنْقَذَهُ اللَّهُ منه
*“Tiga jenis orang yang jika termasuk di dalamnya maka seseorang akan merasakan lezatnya iman: orang yang mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya paling ia cintai daripada selain keduanya, dan orang yang dilemparkan ke dalam api lebih ia sukai daripada ia kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan ia dari kekufuran.”* (HR. Bukhari no. 6041, Muslim no.43).

Maka seorang Mukmin tidak mungkin mendahulukan ketaatan kepada makhluk daripada ketaatan kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا  [الأحزاب: ٣٦]

*"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, mereka memiliki pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan siapa saja mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata.”* [QS. (33) Al Ahzab: 36].

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata: *“Tidak layak bagi seorang mukmin dan mukminah, jika Allah sudah menetapkan sesuatu dengan tegas, lalu ia memiliki pilihan yang lain. Yaitu pilihan untuk melakukannya atau tidak, padahal ia sadar secara pasti bahwa Rasulullah itu lebih pantas diikuti dari pada dirinya. Maka hendaknya janganlah menjadikan hawa nafsu sebagai penghalang antara dirinya dengan Allah dan Rasul-Nya”* (Taisiir Kariimirrahman, 665).

Sedangkan kaidah yang kedua adalah,
إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ
*“Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam perkara yang ma’ruf”*

Maka taat kepada manusia siapa pun itu (selain Rasulullah) tidak bersifat mutlak dalam segala perkara dan setiap keadaan. Ketaatan yang mutlak hanya kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan kepada orang lain hanya dalam perkara yang ma’ruf. 
Dari Ali bin Abi Thalib Radliyallahu 'Anhu Rasulullah Shallallahu 'Alayhi Wassalam bersabda:
لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ
*“Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang ma’ruf”* (HR Bukhari, no. 7257; Muslim, no. 1840).

Perkara yang ma’ruf didefinisikan oleh Syaikh As Sa’di:

المعروف: الإحسان والطاعة، وكل ما عرف في الشرع والعقل حسنه

_*“Al ma’ruf*_ artinya perbuatan kebaikan dan perbuatan ketaatan dan semua yang diketahui baiknya oleh syariat dan oleh akal sehat” (Tafsir As Sa’di, 1/194-196).

Dalam sebuah hadits dari ‘Ali Radliyallahu  ’Anhu, beliau berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ جَيْشًا وَأَمَّرَ عَلَيْهِمْ رَجُلًا فَأَوْقَدَ نَارًا وَقَالَ ادْخُلُوهَا فَأَرَادُوا أَنْ يَدْخُلُوهَا وَقَالَ آخَرُونَ إِنَّمَا فَرَرْنَا مِنْهَا فَذَكَرُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لِلَّذِينَ أَرَادُوا أَنْ يَدْخُلُوهَا لَوْ دَخَلُوهَا لَمْ يَزَالُوا فِيهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَقَالَ لِلْآخَرِينَ لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

“Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alayhi Wassalam mengutus satu pasukan dan mengangkat seorang laki-laki sebagai panglima mereka. Kemudian panglima itu menyalakan api dan berkata (kepada pasukannya): *“Masuklah kamu ke dalam api!”*  Sebagian pasukan berkehendak memasukinya, orang-orang yang lain mengatakan, *”Sungguh  kita lari dari api (neraka),”* kemudian mereka menyebutkan hal itu kepada Nabi Shallallahu 'Alayhi Wassalam, maka beliau bersabda kepada orang-orang yang berkehendak memasukinya, *“Jika mereka memasuki api itu, mereka akan terus di dalam api itu sampai hari kiamat.”* Dan beliau bersabda kepada yang lain, *”Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang ma’ruf”* (HR Bukhari, no. 7257; Muslim, no. 1840).

Maka jika ada orang yang memerintahkan perkara yang membahayakan diri kita, atau bukan perkara yang dianggap bagus oleh akal sehat, perkara yang memalukan, perkara yang menjatuhkan wibawa, dan semisalnya ketika itu tidak wajib taat kepada orang tersebut.

Apalagi perkara maksiat. Tidak boleh kita taat kepada orang lain dalam perkara maksiat. Rasulullah  Shallallahu  'Alayhi Wassalam  bersabda:
السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ حَقٌّ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِالْمَعْصِيَةِ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ
*“Mendengar dan ta’at (kepada penguasa) itu memang benar, selama mereka tidak diperintahkan kepada maksiat. Jika mereka memerintahkan untuk bermaksiat, tidak boleh mendengar dan ta’at (dalam maksiat tersebut)”* (HR. Bukhari no.2955).

Walaupun yang memerintahkan kepada maksiat adalah pemimpin negara sekalipun, tidak boleh menaatinya. Dari Abdullah bin Umar  Radliyallahu ’Anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
السمعُ والطاعةُ على المرءِ المسلمِ فيما أحبَّ وكرهَ ، ما لم يُؤمَرُ بمعصيةٍ ، فإذا أُمِرَ بمعصيةٍ فلا سمع ولا طاعةَ
*“Wajib mendengar dan ta’at (kepada penguasa) bagi setiap Muslim, dalam perkara yang ia suka ataupun yang ia benci (dari pemimpinnya). Jika pemimpinnya memerintahkan untuk bermaksiat (menyelisihi Allah dan Rasul), tidak boleh mendengar dan tidak boleh ta’at”* (HR. Bukhari no. 2955, 7144).

Imam An Nawawi  rahimahullah mengatakan:
أجمع العلماء على وجوب طاعة الأمراء في غير معصية
*“Para ulama ijma akan wajibnya taat kepada ulil amri selama bukan dalam perkara maksiat”* (Syarah Shahih Muslim, 12/222).

Maka tidak boleh seseorang melanggar agama demi untuk taat kepada makhluk, atau untuk mencari ridla dari orang lain. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا [البقرة : ٤١]
*“Dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang murah“* [QS. (2) Al Baqarah: 41].

Maksud ayat ini adalah, jangan melakukan pelanggaran terhadap agama demi mendapatkan keuntungan dunia. Ibnu Katsir menjelaskan:
لا تعتاضوا عن الإيمان بآياتي وتصديق رسولي بالدنيا وشهواتها فإنها قليلة
“Maksudnya, jangan menukar keimanan terhadap ayat-ayatku dan keimanan kepada Rasul-Ku dengan dunia dan syahwatnya, karena dunia itu hal yang kecil (remeh)” (Tafsir Ibnu Katsir).

Rasulullah Shallallahu 'Alayhi Wassalam bersabda:
مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ
*“Siapa mencari ridla Allah ketika orang-orang tidak suka, maka akan Allah cukupkan ia dari beban manusia. Siapa yang mencari ridla manusia, dengan kemurkaan Allah. Akan Allah buat ia terbebani oleh manusia“.*

Dalam riwayat lain:
من التمس رِضا اللهِ بسخَطِ الناسِ ؛ رضِيَ اللهُ عنه ، وأرْضى عنه الناسَ ، ومن التَمس رضا الناسِ بسخَطِ اللهِ ، سخِط اللهُ عليه ، وأسخَط عليه الناسَ.
*“Siapa yang mencari ridla Allah walaupun orang-orang murka, maka Allah akan ridla padanya dan Allah akan buat manusia ridla kepadanya. Siapa yang mencari ridla manusia kalaupun Allah murka, maka Allah murka kepadanya dan Allah akan menjadikan manusia murka kepadanya juga“* (HR. Tirmidzi no.2414, Ibnu Hibban no.276, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).

_*Semoga Allah memberi hidayah,  taufik dan inayah-Nya. Aamiin*_

Post a Comment

0 Comments