About Me


Suara Masjid Baitul Mahmud: Tiga Printah Allah Pada Rasulullah SAW


Khatib: Ust. Alim Nur Shodiq
Penulis: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com 
Assalamu'alaikum wr. wb.
Para hadirin...
Jamaah jum'ah masjid Baitul Mahmud yang dimulyakan dan dihormati Allah

Alhamdu lillah.
Pertama kali kita bersyukur kepada Allah swt. karena dengan nikmat dan rahmat yang Allah berikan pada kita, maka kita bisa melaksanakan ibadah sepekanan ini, yakni sholat Jum'at berjamaah. Mudah mudahan kita selalu ditambahi rahmat oleh Allah. 
Ketauhilah bahwa bukan pahala  yang membawa kita ke surga, tapi hanya berkat dan rahmat Allah SWT.  Sebab tidak cukup pahala kita untuk menempatkan kita ke dalam surga Allah Ta'ala. Karena itu kita selalu memohon rahmat dari Allah Ta'ala. Mohon berkah dari Allaah Ta'ala. Ini yang selalu kita lakukan, mudah mudahan ibadah yang kita jalankan ini ikhlas karena Allah Ta'ala.

Yang kedua semoga doa sholawat dan salam selalu tersampaikan kepada Rasulullah SAW.
Semoga kita sebagai umatnya  ini  senantiasa bisa mencontoh dan meniru Rasulullah SAW secara istiqamah. 
Jadi kita kerjakan saja apa yang telah diperintahkan Allah SWT dengan sungguh sungguh dan sesuai dengan kemampuan kita masing dengan dilandasi  keimanan kita. Dengan demikian, in syaa Allah akan dapat imbalan dari Allah SWT.

Para jamaah yang terhormat, tentunya kita hidup ini untuk beribadah kepada Allah SWT, dan mengerjakan amalan amalan yang senantiasa amalan itu bisa menjadi bekal yang terbaik untuk kita. Amalan yang kita lakukan itu supaya jadi bekal kita maka amalan itu harus ditujukan pada Allah Ta'ala dan   ikhlas semata karena Allah SWT, tanpa ada tendensi apa pun.

Sebab kalau ucapan kita baik, pikiran kita baik, prilaku kita baik, langkah kita baik semua akan kembali pada diri kita masing masing. Sebaliknya kalau ucapan kita buruk, pemikiran kita buruk, perbuatan kita buruk, langkah kita buruk maka akan kembali pada diri kita masing masing.

Hadirin jamaah masjid Baitul Mahmud yang terhormat

Ada tiga perintah Allah pada Nabi Muhammad، dimana perintah itu juga untuk kita, mari kita lakukan dengan ikhlas semata karena Allah yaitu seperti dalam surah Al-A’raaf ayat 199 ini,

خذالعوواءمربالعرف واعرض عن الجاهلين

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh".(QS. al-A’raaf: 199)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Al-afwu menurut Ibnu `Abbas, “Yaitu kebajikan.” 
Sedangkan  Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: “Allah menyuruh Rasulullah saw. untuk memberikan maaf dan kelapangan dada kepada orang-orang musyrik selama sepuluh tahun. Setelah itu, Allah menyuruh beliau untuk bersikap keras kepada mereka.” Pendapat ini pun menjadi pilihan Ibnu Jarir.

Abu Zubair berkata: “Merupakan akhlak manusia. Demi Allah, aku pasti akan menjadi pemaaf kepada mereka, selama aku bersahabat dengan mereka.”

Demikian itulah pendapat yang paling masyhur (terkenal).

Sementara Qatadah berkata: “Ini adalah akhlak yang diperintahkan dan ditunjukkan oleh Allah kepada Nabi saw.”

Sebagian orang bijak berpegang pada makna tersebut dan mengungkapkannya dalam dua bait sya’ir yang artinya;

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang berbuat kebaikan, sebagaimana yang telah diperintahkan kepadamu dan berpalinglah engkau dari orang-orang bodoh.
Dan lembutkanlah dalam tutur kata kepada setiap manusia, karena merupakan suatu kebaikan dari orang-orang mulia adalah bersikap lemah lembut.

Hadirin rahimakumullah....

Sementara itu dalam tafsir Kemenag menjelaskan,
Dalam ayat ini Allah memerintahkan Rasul-Nya, agar berpegang teguh pada prinsip umum tentang moral dan hukum.

1. Sikap Pemaaf dan berlapang dada
Allah ﷻ menyuruh Rasul-Nya agar beliau memaafkan dan berlapang terhadap perbuatan, tingkah laku dan akhlak manusia dan janganlah beliau meminta dari manusia apa yang sangat sukar bagi mereka sehingga mereka lari dari agama.
Sabda Rasullah ﷺ:

"Mudahkanlah, jangan kamu persulit dan berilah kegembiraan, jangan kamu susahkan".

(Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Musa dan Muadz)

Termasuk prinsip agama, memudahkan, menjauhkan kesukaran dan segala hal yang menyusahkan manusia.
Demikian pula halnya dalam bidang budi pekerti manusia banyak dipengaruhi lingkungannya.

Bahkan banyak riwayat menyatakan bahwa yang dikehendaki pemaafan di sini ialah pemaafan dalam bidang akhlak atau budi pekerti (Tafsir Ibn Katsir dalam tafsir ayat tersebut) Rasulullah ﷺ berkata sehubungan dengan ayat ini:

"Apakah ini ya Jibril?
Jawab Jibril,
"Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kamu agar memaafkan orang yang berbuat aniaya terhadapmu, memberi kepada orang yang tidak mau memberi kepadamu dan menyambung hubungan kepada orang yang memutuskannya."
(Riwayat Ibn Jarir dan Ibn Abi Hatim, dari Ibn Ubay dari bapaknya)

2. Menyuruh manusia berbuat maruf (baik)
Pengertian Islam.

Dalam Al-Quran kata"maruf"
dipergunakan dalam hubungan hukum–hukum yang penting, seperti dalam hukum pemerintahan, hukum. perkawinan.
Dalam pengertian kemasyarakatan kata
"maruf"
dipergunakan dalam arti adat kebiasaan dan muamalah dalam suatu masyarakat.

Karena itu ia berbeda-beda sesuai dengan perbedaan bangsa, negara, dan waktu.
Di antara para ulama ada yang memberikan definisi
"maruf"
dengan apa yang dipandang baik melakukannya menurut tabiat manusia yang murni tidak berlawanan dengan akal pikiran yang sehat.
Bagi kaum Muslimin yang pokok ialah berpegang teguh pada nash-nash yang kuat dari Al-Quran dan Sunnah.
Kemudian mengindahkan adat kebiasaan dan norma yang hidup dalam masyarakat selama tidak bertentangan dengan nash agama secara jelas.

3. Tidak mempedulikan gangguan orang jahil
Yang dimaksud dengan orang jahil ialah orang yang selalu bersikap kasar dan menimbulkan gangguan-gangguan terhadap para Nabi, dan tidak dapat disadarkan.
Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya, agar menghindarkan diri dari orang-orang jahil, tidak melayani mereka, dan tidak membalas kekerasan mereka dengan kekerasan pula.

Post a Comment

0 Comments