About Me


Meneladani Sifat Pemaaf Rasul dan para Sahabatnya


Oleh: Walidah Auliyah Sittah

Mahasiswa FAI, UMS, Surabaya

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Pemaaf merupakan salah satu akhlak terpuji, ada sebagian orang beranggapan bahwa meminta maaf itu mudah, namun tak semua bisa memaafkan, Terkadang memang ada benarnya, memaafkan memang bukan perkara yang mudah. Namun perlu diperhatikan, jika kita sulit memaafkan, maka akan dendam di hati kita, terlebih kita akan sulit melupakan kesalahan orang lain terhadap apa yang diperbuat kepada kita.

Pemaaf adalah sifat yang memang perlu dimiliki untuk membangun suatu karakter seseorang. Bukan berarti memaksakan harus memiliki sifat pemaaf, namun kadang-kadang perlu kita belajar, bagaimana kita menumbuhkan sifat itu ?. Pemaaf adalah sifat mulia yang akan menjadikan seorang menjadi mulia yang lai. Kenapa termasuk sifat yang mulia?

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda;

            “Shadaqah itu tidak mengurangi sebagian dari harta, dan kesalahan Allah menambah kepada seseorang karena (mempersembahkan) maafnya kecuali kemuliaan, dan menyebutkan pula seseorang mengatakan Tawadlu tidak akan meninggikannya” (HR. Muslim 4689)

Tidak banyak dari manusia memang memiliki sifat pemaaf. Namun bagi orang mukmin yang memilihnya memiliki sifat ini. Perlu kita pahami bahwa sifat pemaaf ini merupakan perangai yang baik, sifat yang mencerminkan akan beningnya hati dan lapangnya dada, dan karakter yang didasari dengan keimanan dan rasa kasih sayang. TAPI memang perlu dilakukan pembelajaran sedini mungkin agar kelak saat dewasa, untuk membentuk karakter pemaaf tak begitu sulit.

Sifat pemaaf akan membawa pada hati yang bersih. Hati yang bersih pemiliknya menuju kehidupan akhirat, dan mendorong pemiliknya untuk tunduk kepada Allah. (Aliyullah Abu Al Wafa, 2006)

Sebelum kita lebih jauh membahas tentang sifat pemaaf melalui kisah-kisah para Rasul dan sahabatnya, adakalanya kita tahu arti dari pemaaf itu sendiri. Dalam bahasa Arab, sikap pemaaf disebut al'afw yang memiliki arti bertambah (berlebih), penghapusan, ampun, atau anugerah.

Banyak sekali Allah mengajarkan kepada kita agar menjadi pribadi yang pemaaf, melalui cerita dari umat terdahulu, seperti kisah salah satu khalifah yaitu, Abu Bakar as-Shidiq yang menjadi sebab-sebab diturunkannya ayat berikut ini:

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan diantara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan menjadi anggota (bantuan) kepada kerabat (nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan membantulah mereka memaafkan dan berlapang ayah. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. " (QS. An-Nur [24]: 22)

Selain kisah khalifah Abu Bakar, ada juga kisah dari Rasulullah SAW. Banyak kisah hidup beliau yang dapat diambil sebagai pelajaran hidup, termasuk salah satu sifat pemaafnya. Seperti kisah seorang wanita Yahudi yang mencoba meracuni Rasulullah dengan menabur makananan beliau, namun Rasulullah terselamatkan. Hingga wanita itu mengakui perbuatannya kepada Rasulullah, dan beliau memaafkan wanita itu tanpa menghukumnya.

Kisah Rasulullah SAW, setelah kejadian perang Uhud, kemudian dari kejadian itu Allah menurunkan ayat berikut ini:

“…………………… karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apanila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal ”. (QS. Ali Imran [3]: 159)

Selain kisah diatas ada lagi kisah beliau, kisah pada saat Rasulullah diludahi oleh kaum kafir Quraisy ketika pulang dari Masjid selesai menunaikan ibadah Sholat, namun tak pernah menggunakannya dengan meludahi kembali. Kisah Rasulullah saat dilempar batu oleh budak Tsaqilf, hingga kakinya berdarah, namun yang dilakukan Rasulullah yaitu mendoakan mereka agar mendapat pengampunan Allah.

Rasulullah pernah pernah hilang keburukan dengan keburukan, tak pernah ada dendam di hatinya. Begitulah karakter pemaaf yang dimiliki Rasulullah, karakter pemaaf yang patut untuk diteladani. Jika ada seseorang yang datang ke beliau untuk meminta maaf, maka tak segan ia memaafkan orang tersebut.

Ada sebuah kisah pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khathab RA saat memilih Ammar bin Yasir sebagai gubernur di Kuffah, suatu ketika ada seorang awam datang menemuinya lalu berkata “Hai, yang telinganya terpotong!” salah satu telinga Ammar bin Yasir putus ketika menghadapi pertempuran orang-orang murtad Yamamah, namun ia menjawab dengan singkat, “Yang kamu cela itu adalah telingaku yang terbaik.” (Abu Dzikra & Sodik Hasanuddin, 2013)

Allah berfirman,

“Jadilah engkau pemaaf dan serulah orang yang mengerjakan yang ma'ruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. Dan jika kamu ditimpa godaan setan maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang takwa takwa mereka terkena tipuan (rayuan) setan, mereka segera mengingat Allah, maka ketika itu juga mereka sadar akan kesalah-kesalahan mereka. ' (QS. Al-A'raf [7]: 199-201)

Dengan hinaan orang tersebut, ia tidak menghapusnya dengan kata-kata yang keji atau tidak sopan. Namun ia memilih untuk bersabar, dan memaafkan dengan kata-kata yang singkatnya dan mengandung kebenaran, tanpa aturan untuk menghina balik orang mengecamnya. (Abu Dzikra & Sodik Hasanuddin, 2013)

Mungkin jika berhubungan dengan orang zaman ini, ketika kita dihadapkan seperti kisah Ammar bin Yasir, beberapa pasti akan menghapusnya dengan mencaci kembali. Untuk menjadi pribadi yang pemaaf memang tidak mudah. Apalagi jika hati telah terlanjur menganga. Dalam kondisi ini kadang yang muncul justru perasaan dendam dan berharap kejelekan terhadap orang yang telah melukai fisik dan hati. Sehingga jangankan mendoakan, memaafkan kesalahan saja masih sangat berat.

Untuk bisa memaafkan orang yang telah menghubungi zalim kepada kita memang butuh kebesaran jiwa dan kelapangan hati. Jika seseorang yang mampu member maaf meski dia berada pada pihak yang benar, tanda kemuliaan dan ketakwaan yang menyatakan. http://m.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2013/02/08/4596/yuk-kita-belajar-menjadi-pribadi-pemaaf.html (diakses pada tanggal 28 Maret 2017)

“ Jadilah pemaaf dan suruhlah orang yang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh ” (QS. Ali Imran [3]: 199)

“ Dan balasan kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barangsiapa memaafkan dan radiasi baik (kepada orang jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim . ” (QS. Asy-Syura [42]: 40)

Di atas merupakan salah satu ayat dalam al-Qur'an tentang sifat pemaaf. Begitu banyak dalam Al-Qur'an yang menjelaskan tentang sifat pemaaf melalui kisah-kisah para Nabi, Rasul dan para Sahabat, sebagai pelajaran untuk selanjutnya umat. Agar kita menjadi kaum yang berfikir, yang dapat mengambil ibrah dari kisah-kisah tersebut.

Dalam hadits Rasulullah pun sifat pemaaf merupakan iman yang paling utama dalam Riwayat Bukhari

            “ Iman yang paling utama adalah sabar dan memaafkan ” (HR. Bukhari)

Dan dari sifat pemaaf yang nantinya kita punya banyak manfaat, di antaranya orang pemaaf tanda orang yang bertakwa

133. ”dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-rang yang bertakwa”.

133. ”dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-rang yang bertakwa”.

134. ”(Yaitu) orang yang berinfak, baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang tidak peduli. ” (QS. Ali Imran [3]: 133-134)

“Tetapi barangsiapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian termasuk perbuatan yang mulia” (QS. Asy-Syura [42]: 43)

Memaafkan manusia, dimaafkan oleh Allah

Allah akan memberikan pengampunan bagi mereka, dan menyediakan balasan surga. Sesungguhnya Allah SWT Sang pencipta yang memiliki sifat-sifat mulia, dan salah satu yang dimiliki Allah yaitu sifat Pemaaf.

“Jika kamu menyatakan sesuatu kabaikan atau perumahan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sebenarnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.” (QS. An-Nisa '[4]: 149).

Orang yang memiliki jiwa pemaaf, secara lebih ia juga akan memiliki jiwa yang sabar dan ikhlas. Satu sifat terpuji bisa membawa pada sifat terpuji lainnya. Itulah yang akan membentuk suatu karakter sebagai seorang muslim yang tak hanya pandai namun muslim yang mempunyai pribadi seperti Rasul dan sahabatnya.

Kata dari seorang Mujahid, dikutip dalam buku karangan A. Fuadi tentang sifat pemaaf bahwa:

“ Memberi maaf adalah sedekah ” (Mujahid)

RUJUKAN DAFTAR

Al Wafa, Alliyullah Abu,  30 Kunci kebahagiaan, Orang-Orang Soleh Teladan Hidup. Bandung: Mizan Pustaka, 2006

Fuadi, Ahmad.,  131 Pintu Cahaya dari Timur. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2014.

Haekal, Muhammad Husain., Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya, 2008

Hasanuddin, Sodik, Abu Dzikra., Oase Kehidupan: Merujuk Kisah-Kisah Hikmah sebagai Teladan. Bandung: Marja, 2013

Lings, Martin.,  Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2008.

http://m.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2013/02/08/4596/yuk-kita-belajar-menjadi-pribadi-pemaaf.html

PROFIL PENULIS

Walidah Auliyah Sittah, lahir di Surabaya pada tanggal 25 Desember 1996. Besar dan tinggal di Kota Surabaya. Anak ke-enam dari delapan bersaudara. Pimpinan semester empat di Fakultas Agama Islam, jurusan Pendidikan Agama Islam. Menempuh pendidikan di perguruan tinggi Universitas Muhammadiyah Surabaya.

Baru-baru ini penulis mencoba kegiatan barunya dengan menulis. Hanya ditulis di Blog dan Media Sosial. Tulisan lain, penulis juga bergerak di Organisasi di Muhammadiyah dalam Ortom Ikatan Pelajar Muhammadiyah selama dua tahun, dalam bidang Kajian Dakwah Islam. Selain aktif di organisasi penulis juga menambah kegiatannya dengan mengikuti kajian-kajian di Surabaya. Menurut penulis banyaklah mencari kesibukan yang memberi manfaat baik bagi diri kita dan orang lain.

Sumber: umsurabaya.ac.id

Post a Comment

0 Comments