About Me


Suminten dan Lelaki Tua


Oleh: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com
"Hola...halo bu Suminten  .... Opo kabare? Iki aku lelaki tua yang tak sengaja  ketemu bu Suminten di warung pecel tadi ...".
Ada sapaan dari  seberang sana lewat sambungan tlepon seluler milik bu Suminten siang ini 

"Bu Suminten lagi arep bobok kekeselen lehe nangis... Sejak ketemu kamu tadi", jawab Suminten merajuk, suaranya serak. Ada sembab di kelopak matanya. Juga ada pungguk merindu.

Tapi tak lama kemudian Suminten meremas remas krupuk habis 5 dan berkata dengan nada La Si Do sambil melototi kucing garong kesayangannya "Dasar laki laki tua tak tahu diri, kaya kamu rong garong, suka ingkar janji, dinanti bertahun tahun ternyata sudah punya bini di luaran sana, persis kaya kamu rong garong, binimu banyak... Huh! "

Kucing garong yang diplototi Sumenten melek merem dikira mau dikasih ikan pindang, sebab biasanya kalau habis marah marah, Suminten selalu kasih ikan pindang salem gede ke kucing garong
"Meyong meyoong...", suara kucing garong manja.

Karena Suminten masih kesal, suara meyong meyong kedengaran songong songooong, minten songong.
"Apa kamu bilang, garong? Minten songong? Dasar  laki laki tua, eh kucing tua gerang garong, awas kamu, ga tak kasih pindang salem kamu...", Suminten marahi kucingnya sambil ngangkat krupuk sak blek mau dilemparkan ke kucingnya.
Mumpung durung, batin kucing garong...
Lariiiiii....

Karena panik, maunya si garong lompat menjauh dari bu Suminten, eh malah melompat ke dada Suminten. 
"Empuk...", batin si garong sambil meong meong manja di dada Suminten, seperti biasanya.

Akhirnya Suminten ga jadi marah sama si garong, karena memang setiap kali Suminten gelisah selalu merangkul si garong dan mengelus elus kepala si garong sambil melek merem. Biasanya Suminten merasakan kedamaian sesaat yang luar biasa.
Sebagai obat perindu pada lelaki tua yang tak tahu sekarang berada dimana.

Hujan belum reda. Angin tak henti berembus di Nganjuk.
"Kau pasti kehujanan lelaki tua. Bajumu tentu basah, ngiyup di mana kamu?", tanya suminten dalam diam sambil menatap siluet puncak gunung Wilis yang anggun.
"Puncakmu memang anggun gunung Wilis, sayang kau cuma punya satu", bisik Suminten sambil merangkul kucing garongnya dan pejamkan mata.

Lelaki tua itu memang pernah pergi meninggalkan masa lalu, meninggalkan teman teman SMAMDA nya, termasuk tinggalkan Suminten, tuk meneruskan langkah langkah takdirnya. Sampai kapan? Entahlah?! Ga ada yang tahu. Karena masa depan masih tertutup kabut mistri  gunung Wilis.

Post a Comment

0 Comments