About Me


Sepotong Mimpi Di SMAMDA Kertosono


Oleh: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Sudah 40 tahun laki laki tua yang jalannya sudah terseok seok itu menanggalkan seragam abu abu putih SMAMDA Kertosono. Tak disengaja dia ketemu dengan salah satu temannya di warung PeTum (Pecel Tumpang) terminal kota angin, Nganjuk. Karena matanya sudah rabun, lelaki itu tak bisa mengenali siapa wanita  yang juga sedang beli PeTum 50 bungkus untuk dibagikan pada kaun dluafak itu duduk di seberangnya

"Mas Dono, sampyan Mas Dono ya???", Sapa wanita paro baya yang masih nampak muda dan masih ada sisa sisa sinar purnama di wajahnya itu.

"Kamu si... siapa nyonya? Ma.. maaf ya, mata saya ini.. tidak bisa lagi diajak kom...kompromi untuk melihat obyek obyek kasat mata duniawi, maaf myonya", saut lelaki tua itu terbata bata.
"Benar, kamu pasti mas dono, saya tidak pernah lupa gaya bicaramu yang sok filosofis sejak di SMAMDA dulu", saut wanita itu sambil menepuk pundak laki laki tua itu.
Lelaki tua itu terkejut, dia merasakan ada getaran romantika de amour yang merambat dari tangan wanita itu menerobos zaman purba 40 tahun yang lalu... 

"Ka...kamu Su...Suminten ya?", jawab lelaki tua itu sambil menatap wajah Suminten tak berkedip.
"Ya...kamu Suminten yang aku cari setahun terakhir ini".

Wanita itu menjawab, ya saya Suminten, tapi bukan Suminten yang lalu. 
"Kenapa?", tanya lelaki  tua itu.

"Ya, karena kucari kamu bertahun tahun tak pernah ketemu, padahal aku sangat membutuhkan perlindungan, maka siapa pun dia yang mau melindungiku saat itu, aku terima dengan sepenuh jiwa dan raga, walau tanpa cinta",  kata dia, waktu pertama jumpa denganku setelah 40 tahun berpisah sejak menanggalkan seragam SMAMDA Kertosono

Lelaki tua itu tertunduk malu mendengar ungkapan Suminten, merasa sangat bersalah, pergi merantau tak kembali lagi. 
Karena disibukkan oleh urusan remeh temeh duniawi hingga lupa pernah menanam benih ekspektasi kehidupan masa depan.

"Laki laki seperti apa aku ini?", batinnya melabrak diri sendiri yang tak teguh pegang amanah alam semesta.

40 tahun yg lalu, laki laki tua itu memang pernah se SMAMDA Kertosono dengan bu guru matematik SMPN di kota calon lbu Kota NKRI yang gagal itu.
Hari harinya dilalui dengan binar binar anak anak remaja yang dikepung dengan mimpi mimpi pelangi yang membius diri.

Yah begituh dunia panggung sandiwara ternyata dah 40 tahun ya 
Kita lulus dr SMAMDA untung kita bisa bertemu lagi di warung PeTum terminal ini. Terminal yang dulu sering kita singgahi", jawab Suminten

"Untuk apa kita bertemu dalam alam kasunyatan kalau hanya terasa sembilu di qalbu ini. Biarlah air sungai Brantas yang melintasi sekolahan kita, yang penuh kenangan itu, terus mengalir ke hilir untuk menyatu kembali dengan Sangkan Paraning Dumadi", bisik lelaki tua itu sambil terseok seok meninggalkan warung Petum itu menerobos rintik hujan...

Post a Comment

0 Comments