About Me


Sarasehan virtual Skenario Kebudayan Islam dan Diskursus Keindonesiaan PPKBPII


MEMBANGUN KEDEWASAAN BERAGAMA DAN KEDEWASAAN BERBUDAYA MENUJU KEBUDAYAAN INDONESIA YANG MANDIRI DAN BERMARTABAT

Oleh: Aris Munandar

Editor: Sudono Syueb

Jakarta,harianindonesiapost.com-Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh
Alhamdulillah
Alhamdulillahilladzi kholaqol insana fi ahsani taqwiim wa arsala rasuulan illa rahmatan lil'alamiin.
Allahumma sholli wa salim wa barik 'ala nabiyyina Muhammadin wa 'ala alihi wa ashabihi ajma'in. Aamiin.
Ammar  ba'du.
Saudara saudaraku, ayahnda dan ibunda, kakanda dan Mbakyunda serta adinda-adinda Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia, marilah kita semua bersyukur ke hadirat Allah Subhanahu wa ta'ala yang telah menghadirkan Islam di bumi Nusantara yang kemudian kita kenal sebagai tanah air Indonesia.
Dengan hadirnya Islam di  Nusantara ini kita bisa merasakan nikmatnya iman dan Islam dalam bentuk ekspresi Ihsan. Ihsan secara individual maupun Ihsan secara kolektif kultural sosial. Gerak Ihsan atau kerja-kerja Ihsan yang disebut tahsin ini di Indonesia telah dilakukan secara menyeluruh meliputi tahsinul muamalah (ndandani pasrawungan), tahsinul ummah (ndandani ummat) dan tahsinul hayah (ndandani kehidupan).
Metode tahsinul muamalah, tahsinul ummah dan tahsinul hayah dapat kita gali dan kita maknakan antara lain dalam rangkaian ibadah sholat dan ibadah sosial pasca sholat berupa doa wirid keselamatan keluarga dan masyarakat yang dilanjutkan dengan kegiatan berkarya untuk kemaslahatan bersama. Ibadah shalat adalah peristiwa agama dan berdoa untuk keselamatan semua yang diikuti langkah berkarya demi kemaslahatan bersama adalah peristiwa budaya. Jadi beragama dan berbudaya adalah suatu rangkaian tindakan taktis untuk memuliakan manusia sebagai hamba Allah dan sebagai khalifah Allah di muka bumi.
Kalau ini dilakukan terus-menerus akan menghasilkan dialektika kedewasaan dan pendewasaan dalam beragama sekaligus dalam berbudaya. Ini yang mungkin selama ini kurang kita sadari.
Pada hakikatnya pendewasaan kehidupan beragama dan pendewasaan kehidupan berbudaya diawali dengan kesadaran untuk berbuat baik (tahsin) yang melampaui kepentingan ego sektoral dirinya sendiri melampaui kepentingan kelompok untuk sampai pada perjuangan kebaikan untuk kepentingan bangsa, negara dan alam semesta. Disinilah letak dan posisi kita sebagai pewaris risalah  Rasul, yaitu risalah kerahmatan bagi seluruh isi alam semesta.
Kita sudah dilatih untuk menyadari itu lalu mengambil tindakan yang mencerminkan langkah menuju rahmatan lil 'alaihim setiap kita mengakhiri shalat dengan salam yang diikuti bersalaman ( yang karena keadaan darurat Corona tidak bisa kita lakukan).
Salam penutup shalat yang berbunyi assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh ini isi dan maknanya luar biasa.
Bayangkan, sehabis kita memenuhi gerakan sholat dengan doa keselamatan hidup kita kita kemudian mengucapkan salam yang isi dan maknanya mendoakan agar siapapun mendapat limpahan keselamatan, limpahan Rahmat dan limpahan barokah dari Allah Subhanahu wa ta'ala. Kebudayaan pun dibangun dengan kesadaran dan tindakan untuk menyelamatkan kehidupan agar rahmat dan barokah Allah turun secara terus menerus menemani kehidupan bersama kita.
Upaya menyelamatkan kehidupan ini berdasar ajaran Islam adalah menciptakan kondisi, atmosfir, dan ekosistem kehidupan yang adil, makmur, penuh suasana musyawarah, penuh hawa persaudaraan tiada henti, saling tolong menolong, produktif dalam amal shaleh, serta membangun energi kreatif dan inovatif untuk mengatasi masalah aktual sosial, ekonomi, budaya secara komprehensif, organis dan integral.
Kita meyakini bahwa memproduksi keadilan dan kebaikan dalam bermuamalah sebagai bentuk ekspresi kedewasaan beragama dan berbudaya akan mampu memanggil rahmat dan barokah Allah Subhanahu wa ta'ala yang sebelumnya tersimpan di langit dan di dalam bumi. Dengan demikian kita punya modal untuk membangun Kebudayaan, termasuk membangun kebudayaan Indonesia yang mandiri dan bermartabat. Dan inilah yang sekarang ditunggu-tunggu oleh bangsa Indonesia sebagai upaya konseptual sekaligus upaya praktis untuk menyelamatkan manusia dari terkaman bencana pandemi. Sebab kalau pandemi itu bala' maka daf'ul bala' atau tolak bala yang paling efektif adalah rangkaian tindakan taktis berupa doa, bersedekah untuk anak yatim-piatu dan fakir miskin dilengkapi ikhtiar sedekah medis kepada pihak yang memerlukan.
Kesadaran untuk selalu berdewasa secara agama dan berdewasa secara budaya menjadi pintu pembuka untuk memudahkan dalam menempuh langkah taktis menyelamatkan kehidupan sekarang ini.
Hasbunallaha wa ni'mal wakiil ni'mal maula wa ni'man nashir. Aamiin. 


Wa'alaikumussalam warahmatullahi wa barokatuh.


Indonesia, 9 September 2020
Aris Munandar (Mbah Roso)

(Disampaikan dalam sarasehan virtual "skenario kebudayaan Islam dan Diskursus Keindonesiaan")

Post a Comment

0 Comments