About Me


KETIKA MUSIM PANEN TIBA (PART 4)


Oleh  Murib Ilham

Alumni Ponpes YTP, Kertosono

Editor: Sudono Syueb

Situbondo,harianindonesiapost.com-Kanjeng Sunan menawar dengan harga yang wajar, beliau orang bijak, telah meghitung harga kulakan, ongkos transport dan labanya, tidak mungkinlah bermaksud merugikan  pada pedagang kecil, tetapi karena pedagang gentong ingin memperoleh keuntungan yang lebeh besar tidak diberikan.

Gentong gentong itu dibawa pergi dari hadapan kanjeng Sunan untuk dijajakan ke tempat lain, seharian keluar masuk kampung sampe capek  tidak ada seorangpun yang berminat apalagi menawar, pedagang  gentong itu prustasi, ia memutuskan kembali ke kanjeng Sunan, saat itu  kanjeng Sunan berada di dalam rumah,
Kanjeng Sunan.... gentongnya saya berikan... seru pedagang gentong
Iya taruh di situ saja.... saut  kanjeng Sunan dari dalam rumah

Pedagang gentong duduk di batu gilang tempat palenggahan kanjeng Sunan beristirahat, menunggu uang pembayaran dari kanjeng Sunan, lima menit mununggu kanjeng Sunan belum keluar untuk membayar, sepuluh menit belum keluar, satu jam, dua jam belum keluar juga, pedagang gentong mulai resah, saat hari mulai merangkak gelap kegelisahan semakin memuncak, pedagang gentong menggerutu dalam bathin,  gimana kanjeng Sunan ini tadi menawar, sekarang diberikan tidak mbayar,

Mendengan suara bathin pedagang gentong, kanjeng Sunan menjawab dalam bathin juga, lha... tadi bilang, gentongnya diberikan... ya sudah taruh situ... sekarang minta dibayar... gimana ini?

Menunggu sangat lama hingga malam tiba, kanjeng Sunan tidak keluar juga, pedagang gentong putus asa,  gentong gentong itu akan dibawa pulang, tetapi betapa paniknya gentong itu menjadi berat tidak kuat memikulnya.

Gentong gentong itu sampai sekarang masih ada di pajang di halaman masjid Sendangduwur digunakan tempat air minum yang diyakini masyarakat dapat memberikan manfaat, menyembuhkan berbagai penyakit dan menolak balak.

Asyik mendengarkan cerita paman, tidak terasa hari telah menjelang pagi ditandai jago kluruk kawitan (ayam jantan berkokok pertama kali)  orang desa menentukan waktu dengan menggunakan ayat ayat alam seperti matahari bulan bintang, bahkan kokok ayam karena saat itu jarang sekali orang yang punya jam.

Pagi sebelum fajar aku pulang biar tidak ketinggalan sekolah, emak tidak pulang masih meneruskan menjemur, dan menunggui padi hingga kering, aku dititipkan pada orang Desa yang berangkat ke pasar berjualan, ada yang menjual daun jati ada yang menjual kayu bakar.
Dahulu sebelum pembungkus digantikan plastik dan tas kresek semua bahan pokok dan makanan jadi, dibungkus dengan daun jati aromanya sedap dan hyginis, malah kebiasaan emak makan tidak menggunakan piring, mengambil daun jati di belakang rumah yang agak muda lalu nasi panas dimasukkan dan dibungkus sementar, nasi berubah warna merah beraroma harum daun jati rasanya enak sekali, boleh dicoba.

Penduduk Desa di sebelah sawah kami kebanyakan tidak punya sawah mereka hanya buruh tani yang bekerja musiman, musim tanam dan musim panen, pekerjaan pokoknya  mencari daun jati dan kayu bakar di hutan,  pagi pagi sebelum shubuh sekitar jam 3 pagi mereka berangkat ke pasar menjual daun jati dan kayu bakar,  yang emak emak menggendong, yang bapak bapak memikul melewati jalan setapak, bekas jalan kereta api, di kanan kiri ditumbuhi semak belukar yang tinggi, setinggi orang deawa, jalan mereka cepat sekali setengah berlari apalagi bapak  yang memikul mengikuti irama pikulan yang mental mentul
Aku yang dititipkan emak pada mereka ikut berlari takut tertinggal suasana jalan agak gelap cahaya bulan purnama di pagi hari mulai meredup tidak seterang di malam hari

Saat kumandang azan shubuh kami sampai di pasar Sedayulawas, aku dititipkan orang pasar mereka meneruskan perjalanan ke pasar Blimbing kurang lebih 2,5 km melewati unggah unggahan (tanjakan) sinder di tempat ini dahulu terjadi pembunuhan PKI, terus melewati kuburan cina dan asem kerep yang serem, barulah sampai jompong Brondong dan berahir di pasar Blimbing.

Kerja mereka maraton, selepas zhuhur pergi ke hutan mencari kayu bakar dan daun jati, malam hari kayu bakar dan daun jati ditata rapi, diikat dengan ukuran tertentu, jam 3 pagi dibawa ke pasar untuk dijual, kayaknya tidak ada waktu istirahat, entah dapat uang berapa mereka, biasanya hasil penjualan tersebut langsung belanja kebutuhan rumah tangga, mulai dari minyak tanah untuk lampu opblek hingga beras, ikan dan jajanan pasar untuk keluarga.

Aku yang ditipkan orang di pasar Sedayu masih menunggu matahari terbit belum berani pulang kerumah yang jaraknya 1 km melewati tretek, dan jalanan yang sepi di kanan kiri tambak garam dan tambak ikan.
Sebenarnya aku telah sampe di sekolah, sebelah pasar lama Sedayulawas ini, Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah tempat aku sekolah, namun harus pulang terlebih dahulu untuk mandi, ganti baju walau tidak berseragam dan menyiapkan buku, baru kembali kesini lagi berjalan kaki.

Bersambung

Post a Comment

0 Comments