About Me


IKHTIAR DAN TAKDIR: UNTUK MAWAR BIRU Bagian 1


Oleh  : Ihsanuddin

Alumni Ponpes YTP, Kertosono

Editor: Sudono Syueb


Harianindonesiapost.com
Ya Allah dzat yang Maha Rahman....
Telah Engkau karuniakan sekeping hati ini kepadaku
Dengan perjalanannya waktu , telah tumbuh suatu rasa yang selama ini belum pernah aku rasakan
Karena rasa ini  serasa beda dengan rasa-rasa yang lain
Disaat aku memandang *mawar biru*, hati ini benar-benar terganggu

Aku tahu, bunga *mawar biru* adalah bunga yang tumbuh penuh duri
Tapi hati ini tak mampu melupakan walau  sehari
Ingin rasanya aku segera menyuntingnya
Namun apa daya, *mawar biru*  tumbuh di halaman rumah mewah dengan di kelilingi pagar besi

Disaat angin bertiup
*Mawar biru* mengangguk-angguk
Seakan melambai memanggil ku
Untuk segera memetik

Ya Allah ya Rahim....
Apakah ini yang namanya jatuh...?
Ya jatuh.....................
Jatuh cinta
Siang makan tak enak
Malam tidur  tak nyenyak
Kucoba untuk mendekati
Tapi pagar besi itu tetap terkunci...

4 tahun berlalu sudah
Aku menanti dengan tabah
"Mawar biru* tampak makin merekah
Namun kunci pagar tak pernah berubah...

Ya Allah Robbul Izzati....
Haruskah aku mengharapkan yang belum  pasti
Atau menyerah dan lalu pergi
Sedangkan mawar biru duduk sendiri di dalam kungkungan pagar besi

Ya Allah ya Karim....
Diri ini telah termakan usia
Walaupun masih berkepala dua 
Namun hati terus merana 
*Mawar biru* raib dari tempatnya
Dan   tak jelas dimana rimbanya

Kutinggalkan tanah kelahiranku
Untuk menularkan sedikit ilmu
Merana memang merana 
Namun apalah daya
Akupun berangkat juga

Ya Allah ya Aziz...
Dua tahun telah berlalu 
Berita *Mawar biru* makin tak menentu
Pedih rasa di hati
*Mawar biru* bagaikan mimpi yang tak berarti
Harapan tinggalah harapan
Bahkan mungkin tak ada harapan

Ku bermunajat kepada-Mu ya Allah
Dengan beristikharah berulangkali 
Dan yang Ekau tampakkan
Seuntai bunga *Teratai*
Ku petik bunga itu 
Kujadikan pendampingku

*Teratai*
Ya,    *Teratai* ....
Tumbuhmu di rawa - rawa
Kata orang *Teratai* adalah bunga para dewa
Tumbuh di rawa berlumpur
Tapi kau tetap bersyukur

Ya Robbii....
Apa arti semua ini....?
Setelah beberapa bulan kupetik *Teratai*, kuajak berkunjung ke kampung halamanku
Tempat ku berlalu
Halaman rumah *Mawar biru*
Betapa terkesirapnya aliran darahku
Pagar besi telah tiada
Antara percaya dan tidak percaya
*Mawar biru* berdiri layu
Menatapku dengan tatapan sayu
Tiada sepatah katapun terucap
*Terataiku*  dipeluk erat nan mantab
Bagaikan terhipnotis
*Terataiku* pun memeluknya dengan erat
Padahal aku tahu dan yakin , bila *Terataiku* belum mengenal siapa dia.
*Terataiku* di bawa masuk ke kamarnya 
Aku tak tahu apa yang dibicarakannya
Sementara aku duduk terpaku diruang tamu seorang diri
Linglung bagaikan orang bengong
Tak ada orang lainkah di rumah
 sebesar ini...
Lebih dari 30 menit fikiran ini jadi tak karuan
Penuh tanda tanya
Apa yang mereka bicarakan.....
Mengapa begitu lama......
Aku tak bisa berbuat apa-apa
walau pikiran ini tibul berbagai macam prasangka.......
Oh tidak......
Tidak......, itu tak mungkin ....
........................
Di tengah pikiran ini melayang yang gak karuan, terdengar suara pintu kamar *Mawar biru* di buka, dan muncullah keduanya *Mawar dan Teratai* .
Aku beranjak dari tempat dudukku, dan rupanya *Mawar* pun  kini menjaga jarak dariku.
Mulutku terasa terkunci, sehingga tak ada kata yang dapat ku sampaikan selain kata mohon diri.
*Mawar pun* seakan tak mampu mendengar salamku, sehingga hanya keheninganlah yang terasa, serta pemandangan yang membuat hati ini serasa teriris......
Dipeluk lagi "Terataiku*
Dan aku hanya tertunduk lesu

Selamat tinggal *Mawar biru*......

 Pertemuan saat itu merupakan pertemuanku dengan *Mawar biru* yang pertama setelah terpisah selama 6 tahun, itupun tanpa kata, dan pertemuan itu sekaligus merupakan pertemuan yang terakhir, karena setelah itu kami tidak saling bertemu.

*Terataiku* sebenarnya  masihlah kuncup yang baru mulai mekar.
Ilmu agamanya masih sangat dangkal.
Oleh  sebab itu meski sudah resmi jadi milikku ,  *Terataiku* ku titipkan ke keluargaku di kampung halamanku guna menambah ilmu di pesantren dimana dulu aku menimba ilmu.
Dan ternyata di pesantren itu salah satu ustadzahnya adalah *Mawar biru*..... dan *Terataiku* jadi muridnya.....

Angkat topi buat *Mawar biru*, dia benar-benar seorang ustadzah.  
Dia sangat bijaksana dalam menempatka posisinya sebagai ustadzah.
Walaupun saat ada  kekosongan *Terataiku* sering diajak ngobrol, namun tak pernah menyinggung tentang masa lalunya.....*

*Terataiku* mengapa menyantri hanya dua tahun.......?
Kok nanggung amat.....
Ya karena saat liburan panjang pulang kampung..........
Dan..........
*Terataiku* berisi............
Setelah itu tak ada lagi yang menceritai aku tentang ustadzahnya........
Di tutupi serapat apapun , tapi ternyata *Terataiku* mengerti juga kalau ustadzah *Mawar* pernah ada hubungan denganku dari ustadza lain.

Dengan Rahmat Allah yang Maha Rahman dan Rahim. 
16 tahu sudah lamanya aku hidup rukun dan damai bersama *Terataiku*, dan dikaruniai 3 kuncup  bunga yang begitu indah.
Tapi sayang ....*Untung tak dapat di raih, dan malangpun tak dapat di tolak*.
Disaat kucup terkecil ku baru masuk kelas II Ibtidaiyah, *Terataiku* di ambil oleh yang empunya tanaman................
انالله وانااليه راجعون
Semuanya milik Allah, dan kepadaNyalah  ia kembali.

Delapan bulan sudah aku meramut  3 kuncup  tanpa di dampingi *Terataiku*..
Ya Robbul Izzati...
Jurnal sudah derita yang ku alami, namun aku tak mau disebut orang yang cengeng.

Ya Robbi...
Sesungguhnya semenjak aku mengenal diriku sendiri, dan kedudukan ku sebagai hambaMu yang seharusnya patuh dengan ketentuanMu, seakan tak ada lagi daya untuk menghindar dari ketentuanMu.
Duka dan nestapa yang begitu mengkristal di hati nan beku, serta-merta mencair atas kekuasaaMu.

Yaa Robbi...
Hamba yakin, bahwa setiap yang Engkau ambil, tentu akan Engkau ganti dengan yang lebih baik.
Itulah harapan hamba....
Ya Robbi.......
Kau temukan dua hati yang patah
Kau satukan dua hati yang pisah
Dan Kau tegarkan hati yang gundah
BagiMu hal yang mudah
Kini Kau tampakkan padaku sekuntum bunga
Baru sekali aku memandangnya
Namun dihati seakan telah kenal lama
Meskipun aku belum tahu namanya

Ya Robbi......
Secepat itu Engkau tancapkan panah cinta di hatiku dengan begitu dalam..
Bukankah nantinya aku akan bertepuk sebelah tangan.....

Ya Robbi....
Bisakah dia jadi milikku....
Mungkinkah dia sudi mendampingiku.....
Sudikah dia bersuamikan seorang duda  beranak tiga
Hidup didesa 
Dan tak berharta

Ya Rahman.....
Kini keraguan mulai menggerayutiku
Tak ada jalan lain Ya Rahman 
Selain atas petunjukMu
Aku mohon kepadaMu ya Rahman
Cepat satukan aku dengan dia
Bila dia itu memang jodohku
Atau berilah aku petunjuk jalan untuk melupakan dia
Kalau dia bukan untukku.....

Post a Comment

0 Comments