About Me


Bunga Cempaka Penghias Ruang Hatiku


Oleh: lhsanuddin

Alumni Ponpes YTP, Kertosono

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com
Ya Robbi...
Andaikan  Engkau ciptakan hidup ini sama, tentu tidak akan terjadi kecemburuan dan keraguan.
Pasti takkan ada cerita sendu dan syahdu

Aku memang belum  tahu dia yang sebenarnya
Yang ku tahu hanyalah bahwa dia adalah sekuntum bunga.
Menurut kerabatnya , dia adalah setangkai bunga *Cempaka* yang sudah berkuncup dua.
*Cempaka* memisahkan diri  dari pasangannya karena pasangannya berpindah agama...
Kata orang, *Cempaka* merupakan *Bunga desa* dimasanya....

Ya Robbi......
Mengapa ingatan ini terus terganggu oleh bayang-bayang *Cempaka*...?
Padahal hamba baru tahu dari fotonya, dan belum pernah bertemu langsung sama orangnya..
Tak tahu dirikah hamba...?
Status hamba bukan lagi jejaka 
Juga bukan lagi  muda 
Hamba duda beranak tiga, dan papa
Lebih lagi hamba tak tahu
Apakah *Cempaka* mau menerima cinta hamba yang yang tanpa kata ini ?

Menurut cerita, tak sedikit kumbang yang datang ingin menyunting *Cempaka*, mulai yang PNS maupun swasta
Semua kembali dengan tangan hampa.
Memang *Cempaka* merupakan bunga desa saat itu.

Sebulan sudah fikiran ini jadi tak menentu
Berselimut bimbang, berbantal ragu
Karena yang empunya tanaman ingin bertemu
Untuk mengetahui kepastian ku .

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah.
Engkau Maha kuasa atas segala sesuatu ya Allah.
Rupanya memang sudah skenario Ilahi, sehingga pembicaraan kami dengan yang menanam bunga begitu lancar, bahkan mengajaknya tidak menunggu terlalu lama aqdun nikah di laksanakan.

Aqdun nikah terlaksana agak unik.
Betapa tidak.....
Saat wali di tanya penghulu ; siapa nama calon menantunya ....?, Sang wali jadi bengong, karena gak hafal.
Begitu pula aku, aku belum tahu nama lengkap calon istriku.
Untung dalam aqdun nikah ada jawaban yang siple....
*Qabiltu nikahaha watajwijaha bil mahri madzkur*.
Andaikan penghulu menyuruh jawaban dengan menyebut nama, mungkin akupun agak glagaban , walaupun tadi Penghulu menyebut namanya
....
Ya Allah Ya  Rahman...
Kini telah Engkau satukan hamba dengan dia ,  sehingga hati yang meranggas dan hampir mati ini dapat bersemi lagi.
Bahkan seakan hapus sudah semua duka dan nistapa yang hamba alami...

Ya Allah....
Kini dia telah menjadi pendamping hamba.
Kini dia telah menjadi kekasih hamba.
Kini dia telah menjadi ibu dari anak-anak hamba, yang hampir setahun ini telah kehilangan kasih sayang dan dekapan seorang ibu...

Berkahilah Pernikahan hamba ini ya Allah, baik dalam keadaan suka maupun duka....
Jangan pisahkan hamba berdua sampai salah satu dari hamba berdua , atau hamba berdua Engkau panggil ke Hadlirat Mu..., Serta bimbinglah hati anak-anak hamba berbakti kepada Ibu bapaknya dan juga Mengabdi kepadaMu ya Allah...
**

Ya Robbi.....
Memang bukan dikatakan hidup bila tanpa ada tantangan, sipapun orangnya.
Bukannya hambaMu memungkiri atas  banyaknya nikmat  yang telah Engkau anugerahkan kepada kami.
Namun cobaan demi cobaan, penderitaan demi penderitaan, kiranya kami adalah satu dari sekian banyak orang yang kurang beruntung dibidang materiil.
Memang materiil bukanlah tujuan utama dalam hidup.

Ya Allah,  hamba ingin membahagiakan  *Cempaka* yang hamba cinta.
Hamba ingin membahagiakan anak-anak hamba.
Ya Allah, seorang suami akan bahagia dengan kasih sayang seorang isteri yang setia nan shalihah.
Tetapi atas kodratMu jua,  seorang isteri tidak mungkin dapat bahagia hanya dengan cinta....

Ya Allah ya Robbi....
Isteri siapapun butuh pakaian
Isteri siapapun butuh uang belanja, dan bila  mungkin dia juga menginginkan perhiasan, yang semua itu bertujuan untuk ikut membahagiakan suami.
Demikian pula isteri hamba ya Allah.

Ya Allah...
Apa yang harus hamba lakukan....
*Cempaka* yang telah Engkau sandingkan dengan hamba , sungguh berjiwa besar.
Dia tidak hanya menyintai hamba, namun lebih dari itu, dia sangat menyayangi anak-anak hamba...
Akan tetapi  ya Allah,    betapa tidak adilnya hamba.
Hamba tahu *Cempaka* sebenarnya juga mempunyai dua permata hati yang ada di seberang sana .
Berpisah dengannya mulai usia 4 dan 6 tahun.

Ya Allah Robbul Alamiin...
Engkau Dzat Yang Maha kuasa.
Engkau telah menyatukan hamba dengan *Cempaka* begitu mudah, maka temukanlah pula *Cempaka*  dengan kedua mutiara hatinya.

Ya Allah ...
Mengapa tidak Engkau takdirkan hamba sebagai orang yang berada...
Andaikan Engkau takdirkan hamba sebagai orang berada, tentu akan hamba cari kedua mutiara hati *Cempaka*.
Dan hambapun akan lebih bahagia jika bisa kumpul bersama, karena selama ini hamba sangat mendambakan seorang anak laki-laki ...
Sunggu hamba memahami dengan pasti, perasaan *Cempaka* yang sangat merindukan kedua mutiara hatinya

Ya Allah...
Sesungguhnya hamba ini juga tidak terlalu malas,.   untuk itu ya Allah,.
Bukakanlah pintu rahmatMu 
Tuntunlah hamba yang lemah ini keluar dari penderitaan.

Ya Allah ya Rahim...
Sungguh hamba merasa berdosa terhadap *Cempaka* ,
Seakan hamba memasung dengan penderitaana dan kemiskinan.
Bagi hamba sendiri, keadaan seperti ini memang sudah biasa.
Tapi bagi *Cempaka* yang biasa hidup serba berkecukupan,  keadaan seperti ini tentu terasa sangat berat sekali....

Ya Allah..
Hamba sangat takut kehilangan dia.
Hamba takut *Cempaka* tidak tahan hidup menderita.
Ya Allah,...
Hamba rela kembali ke hadliratMu lebih dahulu, daripada harus kehilangan dia......

Alhamdulillah  ya Allah..
Telah Engkau beri ketetapan hati pada *Cempaka*  untuk mendampingi hamba, baik dalam suka maupun duka.
Cinta kasih yang  berjalan selama 2tahun  ini telah Engkau beri tanda dengan kehamilan *Cempaka* .
Hamba berharap, semoga dengan kelahiran bayi yang Engkau karuniakan nanti akan dapat sedikit mengobati kerinduan *Cempaka* pada kedua mutiara hatinya yang berada jauh di sana...

Saat-saat menegangkan..
Sehari semalam menanti kelahiran buah cintaku.
Mulai dari rumah ke puskesmas, dilanjutkan ke RSUD. *Cempaka* sudah lemas, seakan sudah tidak ada lagi sisa tenaga untuk melahirkan.
Dokter memberikan suntikan pendorong sampai dua kali, dan dokterpun bilang, kalau dalam tempo dua jam bayi gak mau lahir, maka terpaksa harus Cesar.
Dengan harap-harap cemas, akupun menurut saja.
Sehabis shalat mangrib aku kembali ke ruang bersalin, namun sebelum aku sampai, tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi yang begitu kuat....
Alhamdulillah ya Allah, *Cempakaku* telah melahirkan, akupun langsung sujud syukur .
Dokter memberi tahuku kalau buah cintaku lahir laki-laki dan sehat , tapi aku belum boleh masuk ruang bersalin , kata dokter *Cempaka* di pastikan melahirkan bayi kembar.
Tapi yang satu belum lahir karena sang ibu tenaganya belum pulih, sementara bayi yang kedua ini posisinya melintang...
Aku dan keluarga yang menanti di luar hanya dapat berdoa memohon kepada Allah , agar keduanya ; ibu dan bayinya diberi keselamatan.

Kecemasan demi kecemasan akhirnya setelah hampir 1 jam dalam keheningan, terdengarlah tangisan bayi keras sekali..
Sebentar kemudian dokter memberi tahu , bayi kedua telah lahir dengan selamat, jenis kelamin perempuan.
Alhamdulillah....
Hanya kondisi ibunya masih sangat begitu lemah.
Pada tengah malam aku baru bisa bertemu *Cempaka* 
Meskipun  masih agak lemas *Cempakapun* tersenyum bangga karena telah dapat mempersembahkan  dua mutiara cinta sekaligus.
Sesuai dengan keinginan kami berdua.
*Cempaka* menginginkan putri, dan aku menginginkan putra, yang berarti keinginan kami  dikabulkan keduanya.

Aku belum menyiapkan nama buat mutiaraku berdua,  karena kami tidak menyangka kalau akan dikaruniai bayi kembar.
Padahal tiap bulan bidan desa selalu mengontrol kandungannya, tapi tak pernah sekalipun mberi tahu kalau yang di kandung *Cempaka* adalah kembar.
Oleh sebab itu, untuk menandai keduanya di kamar bayi ; yang laki-laki *FIBRIAN* dan  yang perempuan *FIBRIANI*, karena lahirnya pada bulan Februari.

Tiga hari setelah kelahiran , bidan memberi tahu kalau bayi bisa di bahwa pulang, karena bayi keduanya sehat-sehat, numun sayang *Cempaka*/ sang ibu belum diperbolehkan pulang, maka kami putuskan untuk menitipkan dulu bayi itu di ruang bayi.....

 *Kabut hitam menyelimuti hati*

Menjelang maghrib hari yang ketujuh, aku di panggil oleh kepala perawat bayi.
Kepala perawat itu memberi tahuku kalau bayi kami yang perempuan meninggal.
Bagaikan Sambaran petir disiang bolong....
Kegembiraan dan kebahagiaan selama sepekan serasa lenyap tak tersisa...
Aku tak mampu berkata apa-apa selain

انا لله وانا اليه راجعون................

Bagaimana aku harus memberi tahu *Cempaka*?
Kuasakah dia mendengar berita dan kemyataan ini?
Padahal sehabis shalat Dzuhur hari itu, ku papah *Cempaka* ke ruang bayi  untuk mengok kedua mutiaranya.
Keduanya  masih tampak sehat, malah tampak seperti sedang berpelukan..., satu agak miring kekanan dan satunya lagi agak miring ke kiri berhadapan...

Perlahan kudekati *Cempaka*, namun sepertinya sudah ada firasat, atau memang sudah ada yang memberi tahu.
Masih dalam kondisi tubuh yang lemah, *Cempaka* memeluk tubuhku erat sambil tersedu...

Ya Allah.....
Tabahkanlah hati kami berdua...

Bersambung...

Bunga Cempaka Penghias Ruang Hatiku

Post a Comment

0 Comments