About Me


Buku Catatan 2

Oleh: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Teman teman saya sekelas waktu Madrasah dulu awalnya banyak tapi ketika naik kelas 6 tinggal sekitar 20 orang saja pa/pi. Di kelas 6 semakin sedikit bukan karena mereka tidak naik tapi mereka yang mrotoli sendiri. Ada yang protol karena menikah, ada yang kerja melaut ikut bapaknya, ada yang bertani meneruskan bapaknya yang meninggal, ada juga yang mbakul, buka lapak di rumah atau di pasar.

Karena jumlah teman sekelas sedikit maka prilaku dan kebiasaan mereka bisa teramati satu persatu.
Orang bijak bilang bahwa kebiasaan waktu kecil itu bisa dipakai melihat jadi apa mereka kelak dewasa.
Beberapa teman sekelasku ada yang dewasanya sesuai dengan prilaku dan kebiasaannya waktu masih di SD/Madrasah.
Misalnya, ada temanku yang pinter buat kerajinan atau prakarya yang ditugaskan bapak guru. Selalu saja dapat 100 nilainya. Karena itu setiap ada tugas buat prakarya dari bp guru, dia selalu dikrubuti cewek cewek minta dibuatkan prakarya.

"Wah enak ya pinter buat prakarya selalu dikrubuti cewek cewek", gumam saya. 

Nah setelah dewasa, teman yang pandai buat prakarya itu jadi tukang yang ahli  buat prahu atau kapal dari kayu jati secara profesional, ongkosnya mahal. 

Ada juga teman saya yang selalu berpakaian rapi, baju dan celanya disetrika, rambutnya pakai minyak rambut cap orang aring dan disisir rapi. Banyak cewek berdecak kagum dengan penampilannya.
Setelah dewasa dia jadi Don Yuan. Jadi perayu janda janda yang barusan ditinggal mati suaminya atau bercerai. Tidak perduli jandanya itu tuwa  atau jelek, yang penting dia bisa moroti harta si janda itu.
Untuk bisa moroti harta janda itu, dia janji mau mengawini. Tapi setelah harta si janda habis dia minggat beberapa saat supaya janda itu tidak bisa menemuinya. Banyak janda meketek, stres dan meninggal. Ketika para janda itu pada meninggal si Don Yuan nongol lagi.
*******
Dulu saya juga punya teman pinter nebak nebak kepribadian orang. Adik saya ditebak tidak mempan disogok dan dirayu, tapi adikku dibilang mudah goyah jika dipuji.
Saya sebaliknya, ditebak tidak mempan pujian dan tidak bisa merayu. 
Masih muda pinter nebak 
Nebak kepribadian, harusnya dia jadi dokter ahli jiwa. Tap entahlah,!

Sayang, setelah lulus madrasah, 50 tahun lalu saya belum ketemu dia sekalipun. Di mana ya dia?

Ketika sedang menebak nebak dia di mana, ada tetangga datang minta tolong anaknya diantar ke dokter jiwa karena sedang stres.
"Baek Bu, saya antarkan", jawabku 
Lalu saya antar anak tetangga itu ke dokter jiwa di kota Sidoarjo yang bernama dr. Muthia SpJ. 

Sesampai di ruang dokter Muthia, saya daftar. Untung yang ngantri tinggal sedikit.
Baru duduk 30 menit dapat panggilan
"Tuan Amir masuk!", Kata bu dokter.
"Ya Bu dokter, sebentar, Amir baru ke kamar mandi", jawabku.

"Amiiir masuuk"

"Ya bu dokter kami akan masuk", jawabku agak keras

Baru mau masuk ruang, dokter Muthia sudah keluar dan berkata
"Saya kok dengar suara yang tidak asing ya? Ini pasti suaranya teman saya yang tulisannya jelek itu"
Saya kaget dokter itu sebut tulisan jelek, gek gek yang dimaksud saya. Waktu saya melihat dokter Muthia, dia bilang
"Ya betul, kamu mas dono kan?" 

"Be...betul bu dokter Muthia. Saya dono, bu dokter siapa?".

"Saya Muthmainnah, temanmu mas.. Masuk. Masuk mas!'

Saya lalu melihat papan nama tertulis dr Muthia SpJ.
Dokter Muthia tahu saya melihat tulisan namanya lalu menyela

"Itu nama komersial saya mas dono, yakinlah bahwa saya adalah Muthmainnah yang dulu kamu plototi waktu pinjam catatan kamu hehehe..."

Ya Allah, betul juga ya bahwa kebiasaan waktu kecil itu cermin masa depan orang.
Muthmainnah ini dulu suka nebak nebak pribadi orang, sekarang jadi dokter jiwa.

"Mas, mas dono, lho kok ngelamun, ada apa?".

"Ingat waktu  kamu kecil yang pinter nebak pribadi orang hehehe..."

"Ouu tak pikir ngelamun Siti hehehe..."

"Amir anaknya mas dono ya?"

"Bukan, anak tetangga".

"Kenapa mas?"

"Tiga hari ini ga mau makan. Maunya ngopi terus Muth eh bu dokter Muthia".

"Wis ra popo panggil aku Muth , itu panggilan kecil aku"

Lalu dokter Muth priksa Amir selama 30 menit. Kesimpulannya: Amir pingin kawin tidak disetujui ortunya.
"Obatnya Amir itu kawin mas dono. Ya Amir, kawin ya?".
"Ya mau bu dokter hehehe...", Jawab Amir sumringah...

Post a Comment

0 Comments