About Me


Tiga Makna Hijrah Yang Diajarkan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alayhi Wassallam


Oleh : Sudarno Hadi (Ketua Dewan Da’wah Provinsi Jawa Timur)

Editor: Sudono Syueb

Surabaya, harianindonesiapost.com-Kata hijrah berasal dari Bahasa Arab, yang berarti meninggalkan, menjauhkan dari dan berpindah tempat. Dalam konteks sejarah hijrah, hijrah adalah kegiatan perpindahan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw bersama para sahabat beliau dari Mekah ke Madinah, dengan tujuan mempertahankan dan menegakkan risalah Allah, berupa akidah dan syari’at Islam.
Dengan merujuk kepada hijrah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wassallam tersebut sebagaian ulama ada yang mengartikan bahwa hijrah adalah keluar dari “darul kufur” menuju “darul Islam”. Keluar dari kekufuran menuju keimanan. Umat Islam wajib melakukan hijrah apabila diri dan keluarganya terancam dalam mempertahankan akidah dan syari’ah Islam.
Perintah berhijrah terdapat dalam beberpa ayat Al-Qur’an, antara lain: 
إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱلَّذِينَ هَاجَرُواْ وَجَٰهَدُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ أُوْلَٰٓئِكَ يَرۡجُونَ رَحۡمَتَ ٱللَّهِۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ٢١٨ 
“Sungguh! orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharpakan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [QS. (2) Al-Baqarah :218.]
وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَٰهَدُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱلَّذِينَ ءَاوَواْ وَّنَصَرُوٓاْ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ حَقّٗاۚ لَّهُم مَّغۡفِرَةٞ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ٧٤ 
 “Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rizqi (ni’mat) yang mulia. [QS. (8) Al-An’fal, :74]

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَٰهَدُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ أَعۡظَمُ دَرَجَةً عِندَ ٱللَّهِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ ٢٠ 
Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. [QS. (9) At-Taubah :20]
Ada tiga makna utama dari momentrum hijrah yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wassallam yang dapat diterapkan dalam kehidupan masa kini, yaitu hidup menjadi lebih baik.
"Pertama, memaknai hijrah Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wassalam sebagai hijrah insaniyyah sebagai transformasi nilai-nilai kemanusiaan. Perubahan paradigma masyarakat Arab setelah kedatangan Islam dan pola pikir mereka menunjukkan betapa sisi-sisi kemanusiaan dijadikan misi utama da’wah Rasulullah, bahwa semua manusia memiliki derajat yang sama, hanya Allah satu-satunya Dzat yang memiliki perbedaan dengan manusia,"  Itulah inti  kalimat syahadat (لَا إِلَهَ إِلّا الله ) yang artinya tidak ada Ilah (Tuhan) yang patut disembah kecuali Allah. Pernyataan syahadat ini secara langsung mengeliminir segala macam perbudakan dan penguasaan atas seseorang. Kemuliaan seseorang tidak lagi diukur dengan pangkat, jabatan atau harta melainkan tingkat ketaqwaannya kepada Allah, sebagaimana Firman Allah : 
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ ١٣ 
“Hai manusia, sungguh Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sungguh orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu.” [Q.S. (49) Al Hujurat : 13]
Inilah yang paling ditakutkan oleh para bangsawan Makkah semacam Abu Jahal pada waktu itu. Sebab misi kemanusiaan Rasul dapat merobohkan dominasi mereka atas para budak belian.
Dengan demikian, sungguh Islam telah meletakkan sebuah pondasi tata nilai kemanusiaan. Sebagaimana dengan tegas disampaikan Rasulullah dalam khutbahnya ketika haji wada. 
إنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا ، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا
Sungguh darahmu, hartamu dan kehormatanmu haram atas kamu, sebagaimana haramnya hari kalain ini, di bulan kalian ini dan tanah kalain  saat ini. (HR. Bukhari dan Muslim).
Kedua;  Kemudian kita harus memaknai momentum hijrah ini sebagai hijrah tsaqafiyyah, yaitu hijrah peradaban. Hijrah dari peradaban jahiliyyah menuju peradaban Islamiyyah.
Peradaban yang sarat dengan makna dan kemuliaan sebagaimana diperlihatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wassallam dalam tata kehidupan keseharian. Dalam pergaulannya, beliau menghargai dan menghormati semua orang dengan cara yang sama tanpa ada perbedaan. Karena Allah telah menggariskan bahwa perbedaan warna, ras dan suku tidak ada maksud lain kecuali untuk saling mengenal, sebagaimana firman-Nya : 
وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ
“........dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal.......” [Q.S. (49) Al Hujurat : 13]
Dari saling mengenal ( ta’aruf ) akan melahirkan sebuah kesfahaman ( tafahum ), yang mendorong pada perbuatan tolong menolong ( ta’awun ), sehingga terjadi saling menanggung / meringankan beban (takaful) dan terwujudlah keseimbangan ( tawazun ) dalam kehidupan bermasyarakat. Hal demikian inilah yang sangat dianjurkan Allah Subhanahu Wata’ala sebagimana firman-Nya. :
وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ٢ 
“.......... Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” [Q.S. (5) Al Maaidah : 2 ]
Bahkan lebih dari itu, beliau selalu bertindak sopan dan ramah kepada semua orang tidak pernah pandang bulu. Sebagaimana sabda beliau ;
إنَّما بعثتُ لأتمِّمَ مَكارِمَ الأخلاقِ
Sungguh aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak. 
Inilah sejatinya fondasi peradaban dalam kacamata Islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemuliaan. Termasuk di dalamnya adalah kebersamaan, tolong-menolong dan kesetiakawanan. Inilah nilai-nilai yang kini mulai lenyap dari kehidupan kita digantikan dengan individualisme dan kapitalisme.

Ketiga, memaknai hijrah sebagai hijrah Islamiyyah, yaitu peralihan kepasrahan dan ketha’atan kepada Allah secara total. Momentum hijrah ini harus kita maknai sebagai upaya peralihan diri menuju kepasrahan dan ketha’atan total kepada Allah Yang Maha Kuasa. Artinya setelah modernism menggiring kita kepada rasionalisme yang tinggi, hingga menyandarkan kehidupan kepada teknologi dan mengandalkan struktur sebuah sistem,  kini saatnya kita berbalik kepada Allah Yang Maha Pencipta. Sadarlah bahwasannya berbagai pertunjukan modernisme semata merupakan hasil kreatifitas manusia belaka. Hijrah dalam konteks inilah yang diapresiasi Allah Ta’ala dengan derajat yang tinggi, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surat (9) At Tawbah ayat 20 
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَٰهَدُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ أَعۡظَمُ دَرَجَةً عِندَ ٱللَّهِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ ٢٠ 
Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.
Karena orang-orang hijrah kepada Islam dan ketha’tan inilah yang diampunkan Allah akan dosa-dosanya sebelum hijrah, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wassallam : 
أنَّ الإِسلامَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبلَهُ ، وَأَنَّ الْهِجرَةَ تَهدِمُ مَا كَانَ قبْلَهَا 
“Sungguh (masuk) Islam itu menghapuskan dosa=dosa sebelumnya, dan hijrah itu menghapuskan dosa-dosa sebelum hijrah.” [H.R. Muslim]
"Oleh karenanya, marilah di awal tahun baru hijriyyah  ini kita memulai hidup baru dengan paradigma yang baru sesuai dengan makna hijrah yang telah diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wassallam, agar hidup kita menjadi lebih baik," in syaa Allah.

Post a Comment

0 Comments