About Me


Reka Ulang Wajah Fir'aun


Oleh: Abu Wildan

Muballigh Tinggal di Sidoarjo

Editor: Sudono

Harianindonesiapost.com Agar dikenali wajah yang nyaris original, diperlukan upaya reka ulang. Barangkali kalau dalam dunia medis disebut face off (merupakan upaya pemulihan wajah yang rusak). Entah siapa yang me-reka ulang seraut wajah Fira'un ini. Kita juga nggak ngerti apa memang gitu. Believe it or not, sajalah.

Alhasil, dapat-lah kita kenali plus minus nyaris sama dengan bentuk tengkoraknya secara utuh. Setidaknya dipandang dari aspek rekonstruksi wajah 3 D. Untuk itu tak ada salahnya berapresiasi. 

Namun, tidak sebatas pemahaman apresiatif terhadap perkembangan teknologi canggih belaka. Jangan lupa, bahwa kita pun seharusnya lebih fokus kepada titik orientasi Firman Allah SWT. 

Oleh sebab, info ilahiah dalam kitab suci inilah sebagai dasar cikal bakal munculnya berbagai research. Iman tetaplah sebagai landasan atau fondasi titik pijak agar jauh lebih ke depan lompatannya. Sehingga teknologi secanggih apa pun akan terposisi pada level wasilah duniawiyah yang berjenjang secara periodik.

 " فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً ۚ وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ 

Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.
( QS.Yunus 92 )

Demikianlah hikmah normatif tentang jasad Fir'aun yang telah di temukan dan masih tetap utuh supaya dapat dikuras dan dijadikan ibroh (pelajaran) sepanjang zaman.

Sebagian hikmah mendasarnya, agar manusia lebih berhati-hati dari sifat sombong, kesewenang-wenangan serta durhaka kepada Allah SWT. Pun, manusia wajib sadar tentang kebohongan Fir’aun yang mengaku dirinya sebagai tuhan yang maha tinggi.

Apabila ditafakkuri mengapa jasad Fir'aun diselamatkan dan berhasil dimumikan, tak jauh-jauh jawabnya, bahwa selalu ada saja penguasa hingga akhir zaman mirip dengan gaya kepemimpinan-nya. Na'udzu billah.

Semoga Allah SWT menjauhkan  kita dari sikap lalai. Dan, senantiasa merenungi segala tanda-tanda kekuasaan-Nya sebagai acuan berfikir dan mengambil pelajaran untuk membangun dunia kemanusiaan yang jauh lebih berperadaban. Salam sayang buat para politisi tanah air beta.

Post a Comment

0 Comments