About Me


MERDEKA SEBAGAI KATA KERJA


(Pernyataan Nahdlatul Muhammadiyyin di Hari Kemerdekaan Indonesia)

Laporan: Sudono Syueb

Bismillahirrahmanirrahim

Surabaya, harianindonesiapost.com-Bulan Agustus ini bangsa Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan yang ke 75, dan Majelis 
Ilmu Nahdlatul Muhammadiyyin memperingati Milad ke-9. Kita semua patut bersyukur karena 
bisa menyaksikan begitu banyak karunia Allah SWT yang diberikan kepada bangsa Indonesia 
selama 75 tahun, setelah secara resmi menyatakan merdeka dari penjajahan bangsa lain. Kita 
juga bersyukur karena selama 9 tahun telah bisa merasakan nikmatnya berfikir merdeka 
bersama Majelis Ilmu Nahdlatul Muhammadiyyin.
Untuk ini kita ingin memajukan cara berfikir kita dengan memasuki cara berfikir kritis. 
Misalnya, kalau selama ini banyak yang berfikir bahwa merdeka adalah kata benda, bahkan 
ada yang membayangkan mirip gelas keramat yang bisa diisi dengan air kepentingan maka 
Nahdlatul Muhammadiyyin memandang dan menyadari bahwa merdeka itu sesungguhnya kata 
kerja.
Merdeka berarti terus menerus melakukan tindakan memerdekakan diri. Proses memerdekakan 
diri ini tidak dibatasi waktu dan sektor atau ruang karena upaya untuk menjajah dan menjajah 
kembali bangsa Indonesia juga tidak dibatasi oleh waktu, sektor dan ruang. Ini merupakan level 
tertinggi dari merdeka, merdeka pada level substansi dan hakekat fungsi merdeka itu sendiri. 
Jika kita sebagai bangsa konsisten dan setia menekuni kerja-kerja merdeka ini maka segala 
bentuk penjajahan dan penindasan di muka bumi dapat dilenyapkan, sebagaimana termaktub 


dalam amanat Pembukaan UUD 1945.
Nahdlatul Muhammadiyyin menyadari bahwa menuju masyarakat kesadaran yang memandang 
dan menghayati merdeka sebagai kata kerja ini tidak mudah. Level tertinggi dari substansi dan 
hakikat fungsi merdeka masih jauh dari jangkauan, masih perlu kita dekati lewat jalur sejarah 
yang mendaki. Untuk mencapai level tertinggi ini jelas memerlukan perjuangan bersama 
sebagai bangsa, bangsa Indonesia. Dan hadirnya pandemi Coronavirus sekarang ini justru 
membuka peluang bagi kita untuk melakukan itu. Dalam bahasa sederhana dan kontekstual, 
upaya memerdekakan diri tahun ini, di tahun ke 75 kemerdekaan ini perlu diberi makna sebagai 
tindakan untuk memerdekakan diri dari penjajahan virus COVID-19 dengan segala instrumen 
penjajahan ekonomi, kesehatan, politik, budaya yang melingkupi. Memang diperlukan upaya 
instrumental untuk mewujudkan itu, misalnya berupa kerja dan tindakan mengokohkan 
ekosistem kesehatan, ekosistem ekonomi, ekosistem politik dan ekosistem budaya kita sendiri 
yang mandiri dan berdaulat penuh.
Nahdlatul Muhammadiyyin memandang dan menyadari bahwa senantiasa memfungsikan 
merdeka sebagai kata kerja berupa tindakan-tindakan untuk memerdekakan diri dari berbagai 
bentuk penjajahan, untuk menuju kualitas merdeka yang sejati yang diproses secara bersama 
oleh keluarga besar bangsa Indonesia merupakan hal yang amat sangat strategis untuk hari ini 
dan untuk masa depan. Menurut pandangan dan kesadaran Nahdlatul Muhammadiyyin, upaya 
yang amat sangat strategis ini bisa menghindarkan kita dari tindakan yang hanya bersifat artifisial dan ornamentalik ketika memperingati hari kemerdekaan. Secara internal, dalam 
mensyukuri Milad ke-9, Nahdlatul Muhammadiyyin hendaknya melakukan hal yang sama. 
Dengan memahami dan menyadari bahwa ada muatan maksud tersembunyi dari kata Milad. 
Dalam konteks ini milad bukan sekedar hari lahir, tetapi hendaknya disadari dan difahami 
untuk senantiasa melahirkan diri sendiri. Melahirkan ide-ide baru, melahirkan pemikiran baru, 
melahirkan tindakan strategis baru, dan melahirkan alternatif bagi tindakan srawung-tepung-
tetulung-adiluhung bagi keselamatan manusia, bangsa, masyarakat dan umat sehingga 
kesejahteraan bersama menjadi bermakna dan nyata.
Semoga Allah SWT senantiasa meredlai perjuangan kemanusiaan kita.
Hasbunallaha wa ni'mal wakiil ni'mal maula wa ni'man nashir.
Nasrun minallahi wa fathun qoriib.

Yogyakarta, 17 Agustus 2020.

Ketua Majelis Ilmu Nahdlatul Muhammadiyyin:

KH Marzuki Kurdi
Mustofa W Hasyim.

Post a Comment

0 Comments