About Me


Kesenangan dan Kebahagian: Antara Leisure and Happiness


Oleh: Delianur

Redaktur: Misbah
Editor: Sudono

Harianindonesiapost.com Dilahirkan di London pada 15 Februari 1748, Jeremy Bentham dikenal sebagai anak cerdas. Lelaki yang meninggal pada 6 Juni 1832 (84 tahun) masuk Oxford umur dua belas tahun dan lulus pada usia lima belas tahun. Setelah itu Bentham mempelajari Ilmu Hukum.

Bentham dikenal sebagai pemimpin freethinker yang dianggap tidak beragama. Karenanya Bentham tidak diperkenankan masuk Oxford dan Cambridge. Bentham sendiri mengkritik kedua universitas tersebut. Selain karena biaya pendidikannya tinggi, waktu itu keduanya mempunyai kaitan erat dengan gereja di Inggris sehingga hanya kalangan tertentu yang bisa kuliah di sana. Karenanya Bentham dan teman-temannya mendirikan universitas baru; University College London (UCL). Bentham ingin pendidikan bukan hanya tersedia untuk kalangan tidak mampu, tapi juga untuk semua kalangan. Tidak melihat pada afiliasi gereja. Di UCL figur Bentham diabadikan. Jasadnya dibalsem dan dipajang dalam kotak kaca. 

Sebagai sarjana hukum, Bentham melihat kekeliruan dalam sistem hukum Inggris. Sistemnya tidak manusiawi, dan tidak adil. Sulit dipraktekan baik secara teori maupun prosedur. Karenanya Bentham pun terlibat dalam reformasi sistem hukum di Inggris. 
Menurut Bentham, ada dua prinsip dasar moralitas yang mestinya ada dalam setiap tindakan manusia. Pertama adalah prinsip konsekuensionalis atau teleologis. Bahwa setiap perbuatan itu harus mempunyai tujuan dan konsekuensi yang baik. Tindakan yang baik adalah tindakan menghasilkan konsekuensi yang juga baik. Seperti aktivitas menyantuni orang miskin disebut baik, karena aktivitas tersebut sangat membantu. 

Sementara prinsip kedua adalah prinsip utilitas atau hedonis. Bahwa moral setiap tindakan mesti membuat orang senang dan mengurangi penderitaan mereka. Patokannya adalah “Maximize pleasure and minize suffering”. Karenanya menyantuni menjadi tindakan yang baik, karena telah membuat orang senang dan mengurangi kesusahan mereka. 

Karenanya bagi Bentham, penegakan hukum pada dasarnya bukan untuk hukum itu sendiri tapi untuk menegakan keadilan sosial. Karena itulah tujan atau teleologis hukum. Karena itu pertanyaan besarnya bukan apakah hukum sudah ditegakan atau belum, tapi apakah keadilan sosial sudah terwujud. Masalahnya bukan apakah seorang koruptor atau seorang nenek yang mencuri karena kelaparan sudah diproses sesuai hukum atau belum, tapi apakah proses hukum itu sudah mencerminkan rasa keadilan masyarakat atau belum.

Ketika pikiran Bentham dibawa ke wilayah kehidupan beragama, muncul istilah Tuhan atau Agama tidak perlu dibela. Karena selain Tuhan itu maha kuasa, Agama itu ada untuk mengatur manusia bukan manusia untuk Agama. Karena itu yang diperlukan bukanlah front pembela Agama atau fron pembela Tuhan, tapi front pembela manusia. 

Bila prinsip utilitarinisme ini menjadi patokan kebijakan publik, maka kebijakan yang baik adalah kebijakan yang akan menyenangkan bagi sebagaian besar orang. Sementara kebijakan buruk adalah kebijakan bagi segelintir orang saja. Berdasar pikiran inilah pemerintah Inggris mengenal prinsip The greatest good of the greatest number. Bahwa kebijakan publik terbaik adalah kebijakan untuk kebaikan orang banyak. 

Sementara dalam kehidupan sehari-hari, pada dasarnya orang sangat familir menerapkan prinsip utilitas Bentham ini. Mahasiswa belajar sungguh-sungguh karena selain ingin mendapat nilai baik yang menghasilkan kesenangan, juga masa depan yang menggembirakan dan sedikit kesusahan. Begitu juga orang beragama. Orang rajin beribadah karena ingin hidup senang dan menghindari kesulitan di dunia dan akhirat. 

Sebagaimana biasanya sebuah pemikiran, pandangan Bentham ini bukan berarti tanpa sanggahan. Kritik paling mendasar tercermin dari pandangan yang menyebutkan bahwa utilitarinisme Bentham ini tidak lebih dari Pig Philosophy atau Filsafat Babi. Bahwa moralitas Babi, lebih mulia daripada moralitas Socrates. Sebagaimana diketahui, bahwa Babi adalah hewan yang hidupnya terlihat senang-senang saja. Meski makanannya sampah dan tidurnya diatas kotoran sendiri. Sementara Socrates, meski sudah mencerahkan dan mendidik banyak orang, tapi hidupnya sulit dan matinya mengenaskan karena meminum racun.  

selain itu, utilitarianisme dianggap akan melahirkan sikap No-Rest Objection. Seorang utilitarionist selalu harus berpikir panjang bila akan mengerjakan sesuatu. Karena dia harus mengkalkulasi konsekuensi segala tindakannya. Mencari mana yang lebih baik dan mana tidak. Akhirnya orang jadi tidak melakukan apa-apa karena terlalu banyak kalkulasi konsekuensi. Utilitarionisme juga melahirkan absurditas. Jujur dan bohong menjadi sama ketika keduanya sama-sama membuat orang senang  

Mungkin sanggahan mendasar terhadap utilitarinisme datang dari Immanuel Kant. Guru besar logika dan metafisika Universitas Konigsberg, yang lahir di Prusia pada 22 April 1724. Kant adalah penganut agama Pietist. Suatu agama di yang mendasarkan keyakinannya pada pengalaman religious dan studi kitab suci.

Menurut Kant, tujuan atau konsekuensi tidak bisa dijadikan patokan moralitas. Karena konsekuensi itu terjadinya di akhir dan moralitas itu diawal. Manusia hanya bisa mengontrol motif, tidak bisa mengontrol konsekuensi. Memberi mungkin tindakan baik karena konsekuensinya telah membuat orang senang. Tapi bukankah banyak orang yang merasa dilecehkan dan dihina karena menerima pemberian orang lain. Atau bagaimana kalau memberi menjadikan orang senang tapi juga menjadikan orang malas untuk berusaha?

Sesuatu tindakan dianggap bermoral karena melihat pada tindakan itu sendiri. Karena bagi Kant, dalam kehidupan ada norma obyektif yang berlaku mutlak dan itu wajib dilakukan. 

Kewajiban adalah peraturan dan peraturan adalah moralitas. Kita melakukan kewajiban bukan hanya karena kewajiban tersebut memiliki nilai dan menguntungkan tapi karena kewajiban memang harus dilakukan. Kesadarn akan hukum moral tersebut lah yang menentukan. Patokannya bukan pada tujuan, tapi pada akal sehat. Orang tidak perlu mencari alasan bermacam-macam untuk melakukan sesuatu karena orang mempunyai akal sehat yang menuntunnya kepada kebenaran.  

Kant menyebut tiga hal yang menjadi pijakan etikanya. Pertama, bahwa orang bisa mesti mempunyai kebebasan ketika melakukan sesuatu. Orang yang melakukan kejahatan karena keterpaksaan, tidak bisa dinilai tidak bermoral. Kedua adalah penghormatan. Bahwa setiap orang harus diperlakukan sebagai tujuan bukan alat. Ketiga adalah kewajiban. Bahwa perilaku moral adalah sesuatu yang harus dilakukan karena ada prinsip-prinsip nilai tertentu bukan karena konsekuensinya. 

Dalam bahasa Kant, kewajiban muncul dalam dua istilah; Imperatif hipotetis dan Imperatif Kategoris. Imperatif hipotetis adalah pelaksanaan kewajiban karena ada syarat. Seperti orang mengasihi orang lain karena mengasihi akan selalu mendatangkan kebaikan bagi dirinya. Sementara Imperatif kategoris adalah pelaksanaan kewajiban tanpa syarat. Seperti orang mengasihi orang lain bukan karena berharap dikasihani lagi oleh orang lain, tapi karena keyakinan bahwa mengasihi orang lain adalah kebaikan. Dalam bahasa Agama, Imperatif kategoris bisa disebut dengan ikhlas. Melakukan sesuatu tanpa syarat.  

Apa yang diungkap Kant pun pastinya menimbulkan kritik balik. Seperti dianggap terlalu fokus pada akal dan mengabaikan rasa. Etika Kant juga dianggap menuntut pemahaman intelektual yang tinggi. Menjadi bermasalah bila dihadapkan kepada masyarakat yang daya pikirnya rendah. 

Dalam dinamika politik kita, etika Bentham dan etika Kant bisa dilihat ketika Presiden Jokowi berjanji akan buy back Indosat yang sudah dikuasai asing. Namun sebagaimana diketahui, Presiden tidak melaksanakan janjinya itu karena beberapa hal. Bagi oposisi, Presiden sudah melakukan tindakan tidak etis karena melanggar janji. Karena janji adalah janji dan itu harus dipenuhi. Namun bagi pendukungnya, Presiden tidak melanggar etik. Karena pembatalan janji berdasar tujuan yang lebih baik. Bila oposisi menerapkan Etika Kant, maka pendukung memakai Etika Bentham. Adapun perihal Presiden yang membatalkan janjinya karena berbagai alasan, itu adalah bab lain dari etika situasional yang mesti dibahas lebih khusus.   

Namun diluar kontroversi etika Bentham versus etika Kant, hal menarik adalah ketika menyimak tanggapan John Stuart Mill atas etika utilitarionisme Bentham. Mill sendiri adalah anggota parlemen Inggris dari Partai Liberal. Ayah Mill, John Mill, dikenal kawan dekat Bentham dan Mill sendiri adalah seorang utilitarionist seperti Bentham. Karenanya apa yang diungkap Mill lebih bisa dianggap sebagai revisi terhadap pemikiran Bentham.

Menurut Stuart Mill, problem Bentham adalah tidak membedakan antara kesenangan dan kebahagiaan. Kesenangan itu bersifat fisikal sementara kebahagiaan itu non fisikal. Mestinya kedua hal itu dipilah dan diberi peringkat. 

Bagi Mill, kesenangan itu bersifat badani dan durasinya sementara. Seperti kesenangan makan, minum atau seks. Sementara kebahagiaan itu durasinya lebih panjang dan sifatnya non fisikal. Kebahagiaan itu adalah hal-hal yang sifatnya spiritual, intelektual dan estetik. Dalam pandangan Mill, kesenangan non fisik itu lebih mulia dibanding kesenangan fisik karena bersikap lebih lama dan abadi. 

Merujuk kepada konsepsi hedonis Mill, maka dalam relasi laki-laki dan perempuan ada pernikahan dan ada perkawinan. Hubungan pernikahan dianggap lebih tinggi dibanding hubungan perkawinan. Karena yang pertama non fisikal sementara yang kedua bersifat fisikal.

Konon dalam konsep ini ada sebuah guyon tentang seorang Kyai yang mengingatkan murid-murid nya yang sudah atau mau menikah. Kyai tersebut mengingatkan santri-santrinya untuk tidak mengorbankan nikmat perkawinan yang hanya satu jam dengan nikmat pernikahan yang berjalan lama dan seumur hidup. 

Mendengar Kyai nya mengingatkan nikmat perkawinan yang berlangsung satu jam, tiba-tiba salah seorang santri nya bertanya, “Pak Kyai, bagaimana caranya bisa merasakan nikmat perkawinan dalam satu jam?”

Delianur Mantan Ketua Umum PB PII Periode 2004-2006

Post a Comment

0 Comments