About Me


CELANA CINGKRANG


Oleh: Prof. Dr. Bustami Rahman, M.Sc.

(Pelopor dan Rektor Pertama Universitas Bangka Belitung)

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Bagaimanakah membijaki pandangan  terhadap orang yang bercelana cingkrang? Dan sebaliknya, bagaimanakah membijaki pandangan orang yang bercelana cingkrang terhadap orang yang tidak bercelana cingkrang?

Marilah kita melihat secara 'lebih adil' dari sudut pandang sosiologi (agama). Secara ringkas dan sederhana kita  bahas di bawah ini. Dalam sosiologi akrab dikenal kata 'habit' yaitu artinya kebiasaan. Kalau kita membiasakan sesuatu pada diri kita atau memandang sesuatu secara terus menerus hari demi hari, maka hal itu akan menjadi biasa bagi kita. Dalam ungkapan lama, kita pernah mendengar, 'alah bisa karena biasa' (jika terbiasa lama2 akan bisa). 

Di samping habit atau kebiasaan, sosiologi juga mengajarkan tentang memandang orang lain dari sisi diri sendiri. Sehingga orang itu merupakan cermin dirinya sendiri. Dalam sikap dan perilaku orang Jawa, mirip dengan 'tepo saliro' yakni mengukur orang lain dgmengan ukuran dirinya sendiri. Dalam sosiologi dikenal konsep 'self looking glass' yakni berkaca kepada dirinya sendiri.

Kita mungkin agak sinis memandang orang yang memakai celana cingkrang. Demikian pula orang yang bercelana cingkrang itu mungkin sinis memandang anda yang bercelana biasa. Bagi anda yang bercelana biasa mungkin pula memandang yang bercelana cingkrang sebagai golongan 'ekstrem'. Bahkan curiga jangan2 dari kelompok 'teroris'. Sebaliknya pula, orang yang bercelana cingkrang mungkin memandang orang yang bercelana biasa sebagai kurang 'bertakwa' atau tidak bersunah yang benar, atau kurang mengerti agama. Begitulah kira2..

Sebenarnya secara sosiologis yang terjadi ini apa dan mengapa demikian? Sosiologi memandang hal ini sebagai suatu yang biasa saja. Suatu proses sosial budaya yang wajar saja. Suatu proses aksi reaksi dalam masyarakat yang biasa terjadi dimana pun dan kapan pun. Masyarakat itu hidup dalam nilai yang dia bentuk sendiri. Jika nilai itu dibutuhkannya, maka nilai itu digunakannya. Sebaliknya jika tidak dibutuhkan pasti tidak akan digunakan. Nilai yabg digunakannya itu bisa awet atau bersifat sementara saja tergantung pada kepuasan orang itu. Jika ia puas dengan nilai itu maka akan langgeng lah nilai itu dibutuhkannya dan digunakannya. Sehingga kita mengenalnya sebagai membudaya dalam masyarakat.

Nah, orang yang bercelana cingkrang demikian pula. Pasti ada latar belakang kebutuhannya. Saya mengamati dan mensurvai kecil2an terhadap orang yang bercelana cingkrang, memperoleh pandangan mereka sebagai berikut. Pertama, mereka menganggap itu sunah. Kedua, mereka menganggap itu praktis. Yang manakah antara sunah dan praktis yg paling dominan, masih bersifat variabel. Mungkin sekali 'sunah' juga dikenakan kepada simbol yg lain seperti memelihara janggut dan lain sebagainya. 

Menurut pengamatan ini pula (survai dan self looking glass),  tidak mudah untuk memutuskan bercelana cingkrang itu. Pertama karena pandangan orang terhadap mereka yang dianggap ekstrem itu. Juga yg lebih berat menurut mereka adalah menanggung beban 'sunah', karena orang yang bercelana cingkrang mestilah dipandang juga sebagai muslim yang seharusnya bersikap dan berkelakuan baik, sholat tepat waktu, suka ke masjid dan lain sebagainya. Tentu juga tidak memungkinkan bagi mereka yang mengemban sunah itu utk pergi plesir ke tempat2 maksiat, berjudi dan minum minuman keras dan lain sebagainya.

Bagaimanakah pandangan sampel orang bercelana cingkrang terhadap orang muslim yang tidak bercelana cingkrang? Ternyata mereka tidak menaruh perhatian khusus dan menganggapnya itu sebagai pilihan setiap orang. Bagaimana pula pandangan orang muslim yang tidak bercelana cingkrang terhadap saudaranya yang bercelana cingkrang? Pada awalnya mereka merasa aneh, tetapi lama kelamaan kebiasaan bercelana cingkrang menjadi pandangan biasa. Bahkan beberapa pandangan mengatakan boleh juga ditiru untuk memendekkan celana dalam makna praktis, tidak dalam makna yang religius. Dengan sedikit pendek ukuran celana akan lebih memudahkan utk berwudhu dan sedikit aman di kala jalanan basah karena hujan. Jadi kita melihat proses sosial budaya ini akan berlangsung wajar seperti itu. Tidak usah terlalu 'panik' dengan perubahan sosial budaya, karena proses itu terus berjalan dan akan menemui titik equilibriumnya sendiri sampai kita kiamat kelak.

Cingkrang atau tidak cingkrang, berjanggut atau tidak berjanggut, mereka itu saudara kita sendiri. Yang kita lihat bukan pada pakaian atau janggutnya sebagai simbol. Yang kita nilai adalah iman dan amal sholehnya, karena itulah orang yang sebaik-baik mahluk. "INNAL LADZI NA 'AAMANU WA 'AMILUSHAALIHAATI ULAA IKA HUM KHAIRUL BARIYYAH" 
("SESUNGGUHNYA, ORANG YANG BERIMAN DAN BERAMAL SHOLEH, MEREKA ITULAH  SEBAIK-BAIK MAKHLUK").
Al Bayyinah: 7

Post a Comment

0 Comments