About Me


Pantaskah Kita Mendapat Kebahagiaan?


Oleh: Hj. Dwi Wahyuni, S.Ag.

(Penyuluh Agama Islam Fungsional, KUA Nglipar 
KEMENAG. Gunungkidul, DIY)

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Bila kita menanyakan pertanyaan ini kepada siapapun, baik kepada bapak-bapak, atau Ibu –ibu dan semua kalangan, tua, muda, miskin ataupun kaya, Maka pasti semua spontan menjawab, tidak pantas, kurang pantas  atau belum pantas. Juga mungkin ada yang menjawab sudah pantas, tetapi bila pertanyaanya kita rubah dengan : Inginkah Anda Bahagia? Maka semua pasti spontan menjawab  Ingiiin.
Dan tidak ada satupun orang yang ada di dunia ini yang tidak menginginkan dalam hidupnya memperoleh "Kebahagiaan" dari Allah SWT.
Kalau kita  Muslim , apapun jabatan dan strata sosial kita, pasti menginginkanya, hanya saja kebahagiaan dari Allah SWT itu tidak akan muncul dengan sendirinya, walaupun anda menuggunya bertahun-tahun, tetapi kebahagiaan itu harus dikejar dan dicari, Bagaimana kita  mau mengetam sementara kita  bermalas-malasan, tidak berusaha untuk menanam, bagaimana kita  bisa mendapatkan Emas? Jika anda bermental pemalas.
Sebagai makhluk sosial, kita selalu lapar untuk mencari makna dan esensi dari apa yang dilakukan. Pertanyaan yang mungkin kerap menghampiri adalah apakah kehidupan kta  sudah cukup bahagia, memuaskan, dan sejahtera?
Kebahagiaan pada dasarnya merujuk pada salah satu kata dalam bahasa Arab yang disebut  (سَعَادَة ) Sa’adah adalah kata  Mashdar ( مصدر )  dari سعد  yang berarti bahagia.
Definisi bahagia, dalam tradisi ilmu tasawuf, seperti yang disampaikan Imam al-Ghazali, dalam karyanya yang monumental Ihya Ulumiddin, merupakan sebuah kondisi spiritual, saat manusia berada dalam satu puncak ketakwaan. Bahagia merupakan kenikmatan dari Allah SWT. Kebahagiaan itu adalah manifestasi berharga dari mengingat Allah.
Ternyata, kebahagiaan tak dapat diukur dari takaran materi dan duniawi Semata, Bilal bin Rabah merasa bahagia dapat mempertahankan keimanannya meskipun dalam kondisi disiksa. Imam Abu Hanifah merasa bahagia meskipun harus dijebloskan ke penjara dan dicambuk setiap hari karena menolak diangkat menjadi hakim negara. Dan Banyak lagi Contoh yang lain.

Dan Sekarang Bagaimana Cara meraih dan mendapatkan Kebahagiaan tersebut?
Mengejar kebahagiaan  akhirat  adalah pilihan yang harus dilakukan oleh manusia karena tidak ada lagi tempat dan kembali yang paling membahagiakan selain dari akhirat.  Kebahagiaan Dunia tidak bisa memberikan kepuasan yang haqiqi  dan semakin mencarinya malah akan semakin terperdaya oleh mereka. Seharusnya bukan kitalah yang diperbudak nafsu dunia melainkan kita yang menaklukkannya. Dan Ketika ketika kita berusaha mengejar Kebahagiaan akhirat, in syaa Allah kebahagian dunia pasti bisa kita raih.
Untuk itu, berikut adalah cara agar dapat mengejar kebahagiaan Dunia dan  akhirat, secara umum. Tentunya sebagai umat islam, sudah menjadi keharusan kita untuk mengoptimalkan dan mengusahakan untuk mendapatkannya.
Iman Dan Taqwa Kepada Allah SWT. 

Allah SWT sudah mengingatkan, andaikan penduduk suatu wilayah mau beriman dan bertakwa maka pasti akan dibuka pintu-pintu berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan ajaran-ajaran Allah. Maka Allah mengazab mereka karena perbuatan mereka sendiri (QS al-A’raf [7]: 96).
 وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذۡنَٰهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ٩٦ 
“ Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya
Saudaraku...
Kalau pintu berkah sudah dibuka lebar-lebar oleh Allah SWT. Dari langit dan Bumi, Apalagi yang kita cari, barokah dari Allah adalah sesuatu yang sangat Istimewa, banyak orang yang berlimpah harta dan benda, Rumah mewah , Kendaraan yang serba mewah tetapi hatinya kering kerontang tidak mendapatkan barokah dari Allah SWT. Maka tidak akan bisa menikmati Hidup Yang Indah ini dan tentu saja tidak akan memperoleh Kebahagiaan itu.
Begitu  juga  dalam QS Az-Zumar ayat 10 Disebutkan.
قُلۡ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمۡۚ لِلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٞۗ وَأَرۡضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ ١٠ 
10. Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas

Bersyukur dan  Tidak mengkufuri Nikmat-Nikmat Allah SWT.
Sejatinya nikmat Allah  yang dilimpahkan pada hambanya tidaklah terhitung jumlahnya. Bukan hanya dalam bentuk materi, nikmat Allah  banyak sekali bentuknya, bisa berupa nikmat kesehatan, ketenangan, kebahagiaan, dan lainnya. 
Alih-alih bersyukur, manusia malah sering membandingkan diri sendiri dengan orang lain dan tidak melihat pada nikmat yang Allah  berikan pada dirinya sendiri, sehingga mereka malah lebih banyak mengeluh.
Padahal kita sebagai umat manusia kita senantiasa di perintahkan untuk selalu bersyukur. Bahkan perintah syukur disebutkan berkali-kali dalam Al-Qur'an dan Al-Hadist.  
 QS. Ibrahim Ayat 7
وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ ٧ 
7. Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih"

   قال رسولُ اللَّه ﷺ: انْظُرُوا إِلَى مَنْ هو أَسفَل مِنْكُمْ وَلا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوقَكُم؛ فهُوَ أَجْدَرُ أَن لا تَزْدَرُوا نعمةَ اللَّه عَلَيْكُمْ متفقٌ عَلَيْهِ،    
"Rasulullah SAW. Bersabda : Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kalian dan janganlah memandang kepada orang yang lebih tinggi dari kalian, sebab hal itu lebih baik agar kalian tidak menghina nikmat Allah"

QS An-Nahl ayat 112
 وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا قَرۡيَةٗ كَانَتۡ ءَامِنَةٗ مُّطۡمَئِنَّةٗ يَأۡتِيهَا رِزۡقُهَا رَغَدٗا مِّن كُلِّ مَكَانٖ 
فَكَفَرَتۡ بِأَنۡعُمِ ٱللَّهِ فَأَذَٰقَهَا ٱللَّهُ لِبَاسَ ٱلۡجُوعِ وَٱلۡخَوۡفِ بِمَا كَانُواْ يَصۡنَعُونَ  

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan dengan sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah. Allah memberikan kepada mereka pakaian, kelaparan, dan ketakutan disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS an-Nahl [16]: 112).
Ketiga Ayat dan satu Hadits diatas  membuka mata kita lebar-lebar, betapa kita harus banyak besyukur, karena semakin kita mensyukurinya maka Allah Semakin menambah karunianya kepada kita, tetapi karunia Allah yang begitu besar, rezeki yang berlimpah ruah, tetapi seketika dihilangkan dan diganti allah dengan kelaparan dan ketakutan karena mereka tidak  mensyukurinya dan justru mereka mengingkari Nikmat-Nikmat Allah SWT. Bagaimana mungkin sesorang akan mendapatkan kebahagiaan, kalau dalam hati mereka selalu was-was, Takut, gundah Gulana, atau galau dan  merasa kelaparan?
Hidup dengan aman merupakan nikmat terbesar, bahkan sangat dibutuhkan oleh setiap manusia. Coba saja, kalau kamu tidak hidup dengan aman, maka kamu tidak akan bisa makan dan minum dengan perasaan tenang.
Amal Sholih yang dilandasi Iman.
Orang yang beriman dan beramal sholeh, merekalah yang sebenarnya merasakan manisnya kehidupan dan kebahagiaan karena hatinya yang selalu tenang, berbeda dengan orang-orang yang lalai dari Allah yang selalu merasa gelisah. Walaupun mungkin engkau melihat kehidupan mereka begitu sederhana, bahkan sangat kekurangan harta. Namun jika engkau melihat jauh, engkau akan mengetahui bahwa merekalah orang-orang yang paling berbahagia.  
Allah Ta’ala berfirman QS An-Nahl ayat 97
 مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٩٧ 
97. Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan

4. Memperbanyak Istighfar dan Taubat Kepada Allah SWT.
Memperbanyak Istigfar ( Mohon Ampun) kepada Allah dan kembali ke jalan yang benar menurut Allah dan Rasulnya adalah juga termasuk jalan untuk meraih kebahagiaan yang haqiqi.
Dalam QS Huud Ayat 3 dijelaskan
وَأَنِ ٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِ يُمَتِّعۡكُم مَّتَٰعًا حَسَنًا إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗى وَيُؤۡتِ كُلَّ ذِي فَضۡلٖ فَضۡلَهُۥۖ وَإِن تَوَلَّوۡاْ فَإِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٖ كَبِيرٍ ٣ 
“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat


Saudaraku...
Inilah beberapa langkah yang mesti kita lakukan dan kita usahakan, supaya kita mendapatkan kebahagiaan yang haqiqi dari Allah, dan ternyata letak kebahagiaan bukanlah dengan memiliki istana yang megah, mobil yang mewah, harta yang melimpah. Namun letak kebahagiaan adalah di dalam hati, yang selalu  dekat dengan Allah, Iman, Taqwa,  Amal sholih, selalu bersyukur dan tidak kufur atas nikmat Allah serta  banyak istighfar adalah kunci sukses bahagia Dunia Dan Akhirat, Bersukurlah pasti kita akan Bahagia.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Yang namanya kaya (ghina) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina  adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hati yang selalu merasa cukup itulah yang lebih utama dari harta yang begitu melimpah.
رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

“Wahai Robb kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. Al Baqoroh [2] : 201)
Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita dan memberikan kebahagiaan     yang haqiqi  fid Dunya wal Akhiroh, dengan memiliki hati yang taqorrub dan bersandar pada-Nya. Aamin Ya Mujibas Sa’ilin.

Post a Comment

0 Comments