About Me


TES CALON MENANTU


Oleh: Zubaedah Halimi Jazim Hamidi

( Dosen STPI Bina Insan Mulya, Yogyakarta)

Harianindonesiapost.com 
Corona telah menggoyang bumi, meluluh lantahkan sendi sendi kehidupan, banyak kematian dan kesedihan yang menimpa umat manusia .
Disebutkan dalam Al-Qur'an surat Albaqoroh ayat 155, : " Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah buahan .Dan berikanlah berita gembira kepada orang orang yang sabar"

Semua telah berupaya untuk melakukan pencegahan penyebaran Corona yakni dengan diadakan tes (rapidtes). Memang untuk mendapatkan lebel 'lulus' atau tidak dalam mendapatkan baik poin maupun suatu hal, biasanya dengan melalui tes. 
Contohnya saja pemilu, bagaimana untuk mendapatkan hasilnya dengan cepat? tentu bisa menggunakan tes quick count; Bagaimana untuk mengetahui kehamilan?  yah bisa dengan tes kehamilan (tespack untuk hasil cepat) dan banyak model model tes yang lainya.
Contoh lain lagi, suatu saat ada seorang pemuda berjalan gontai dan bersedih, terlihat murung dan tidak berdaya, setelah ditanya kenapa wajahnya murung, ternyata habis ditolak lamaranya oleh bapak Fulan karena tidak lulus tes ( tes untuk jadi menantu ).
Bagaimana tidak, karena yang namanya orang tua khususnya seorang bapak pasti akan merasa sangat berat andaikan putrinya jatuh ke tangan orang yang akan menjadi pemimpin  rumah tangga namun tidak bisa ngaji dan sholat .
Memang sudah sewajarnya pemudalah yang di tes untuk jadi menantu, namun tidak demikian dengan saya, justru sayalah yang di "tes" oleh calon mertua ( Bapak Kyai Jazim Hamidi ). 
Singkat cerita, ketika itu saya diundang oleh Pak Kyai untuk datang ke rumahnya dan saya pun berkunjung ke kediaman pak kyai dengan ditemani oleh adik saya. 
Saya disambut dengan suka cita oleh Pak Jazim. Setelah lama kami mengobrol, kemudian Pak Jazim mengeluarkan kertas putih dengan spidol berwarna hijau, sembari berkata, "Ayo nduk tulisen ayat Qur'an Iki". Seketika itu saya terdiam karena kaget, dalam hati saya berkata "wah di tes ini". Akhirnya, setelah selesai menulis Pak Jazim meminta untuk membacanya dengan suara keras. Di dalam hati, saya berbisik
"wah... di tes maning kiye" (dengan bahasa ngapak)...tambah lama tambah deg degan....khawatir di tes lagi dengan ilmu Nahwu atau Shorofnya. Saya berdoa "ya Allah aku pengin lari ya Allah" dan seketika keringat dingin mulai bercucuran. Dengan perasaan ser- seran dan sambil menunggu aba aba berikutnya. Alkhamdulillah ternyata sudah dianggap cukup dan diminta melanjutkan jamuan minum tehnya.
Sebelum pamit saya memberanikan diri bertanya sambil guyon, "nilainya berapa nggeh wau pak kyai ?" Beliau menjawab nilaimu 70. Saya lalu terdiam dan berpikir dalam hati "daning mung pitung puluh (70) siiih....., perasaane nyong wis fasih macane , wis bener tajwide, tapiiii....ya sudahlah gak apa apa yang penting mudah2an lulus.
Setelah itu dengan pelan, beliau bilang, "sudah cukup nduk , muliho kono."
Akhirnya saya pamit dengan sisa hati yang masih deg deg sir. Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana kalau tidak menjadi menantunya..?(Sudono Syueb/ed)

@ Zubaedah Halimi Jazim  Hamidi.

Post a Comment

0 Comments