About Me


SHOLAT IDUL FITRI LUAR BIASA


Oleh Murib llham

(Alumni Ponpes YTP, Kertosono)

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Pulang sholat ld senyum senyum sendiri, ada yang menggelitik, terasa geli, seumur umur baru kali ini sholat ldul Gitri di masjid, kebetulan jadi khotib lagi, khotbah ld di masjid Pabrik Gula Pajarakan kurang lebih 20 km arah timur dari kota Probolinggo.

Dahulu kita teriak teriak sholat ld di masjid bukan sunnah Nabi, membuat aturan ibadah seenaknya sendiri, itu bid'ah malah saking emosinya ditakkid bid'ah dlolalah, apa ada bid'ah selain dlolalah, barang kali ini yang dikatakan orang "maling teriak maling" berteriak teriak tapi  melakukan juga.

Seminggu sebelum hari H panitia memberitahukan sholat ld batal dilaksanakan di lapangan hanya boleh di masjid, saya sarankan di halaman barat masjid tanahnya cukup luas dipaving cocok untuk sholat id, namun menurut panitia "aturan Bupati melarang sholat ld di ruang terbuka yang mengundang kerumunan jamaah lebih banyak, sholat id hanya boleh dilaksanakan di masjid dengan jamaah yang terbatas dari masyarakat sekitar masjid, jika tidak sebaiknya sholat ld di rumah saja"

Melaksanakan sholat ldul Fitri di masjid apalagi di rumah, apalagi boleh  berjamaah boleh munfarid (sendiri) menjadi persolan tersendiri bagi yang biasa sholat ldul Fitri di lapangan.

Di zaman Rasulullah sholat ldul Fitri dilaksanakan di masjid karena hujan lebat yang menghalangi sholat ld dilaksanakan di lapangan juga air hujan yang menggenangi semua tanah lapang yang tidak memungkinkan bisa ditempati sholat ld.

Namun di saat pandemi, sholat  ldul Fitri dilaksanakan di masjid atau di rumah masing masing, karena aturan maupun kebijakan. PP Muhammadiyah misalnya mengeluarkan surat edaran tertanggal 14 maret 2020 nomor: 04/EDR/1.0/E/2020 tentang Tuntunan sholat ldul Fitri dalam kondisi darurat covid 19 yang intinya sholat idul fitri harus dilaksanakan di rumah.

Dalam SE tersebut, ada perintah pimpinan pusat yang sangat ketat bahwa semua level pimpinan Muhammadiyah harus mengikuti garis kebijakan organisasi untuk berada dalam satu barisan yang kokoh, jika ada yang bandel masih tetap menyelenggarakan sholat idul fitri di lapangan maupun di masjid maka dianggap melakukan pembusukan dari dalam dan mencidrai Muhammadiyah dari berbagai sisi diantaranya:
Pertama, menyalahi asas kepatuhan, melakukan pembangkangan terhadap Maklumat PP Muhammadiyah.
Kedua, melecehkan ketua umum PP. Muhamadiyah.
Ketiga, melecehkan Majlis Tarjih dan Tajdid.
Keempat, menyia nyiakan perjuangan Muhammadiyah dalam memutus rantai penyebaran covid 19.
Kelima, meragukan kompetensi ke-ulama-an anggota Majlis Tarjih dan Tajdid yang telah melakukan ijtihad dengan mempertimbangkan salah satu maqosid syariah yaitu hifdzun nufus.

Kebijakan Muhammadiyah tetsebut, ternyata lebih fleksibel Fatwa MUI  nomor 28 tahun 2020 yang pada pokoknya:
Pertama, MUI  membolehkan sholat idul fitri dilaksanakan dengan cara berjamaah di tanah lapang, Masjid, Musholla atau tempat lain bagi umat islam dengan ketentuan:

- Umat islam berada di kawasan yang SUDAH TERKENDALI, indikasinya salah satunya ditandai dengan angka penurunan covid 19 menunjukkan cenderung menurun dan sudah ada kebijakan pelonggaran aktifitas sosial yang memungkinkan terjadinya kekerumunan, berdasarkan ahli yang kredibel dan amanah.

- Umat islam berada di kawasan TERKENDALI atau kawasan yang bebas covid 19 dan diyakini tidak ada penularan, seperti di Pedesaan terpancil atau perumahan terbatas yang homogen, tidak ada yang terinfeksi dan tidaj ada yang keluar masuk yang diduga menjadi carrier (pembawa virus).

Kedua, MUI membolehkan sholat idul fitri dilaksanakan di rumah dengan berjamaah bersama anggota keluarga atau munfarid (sendiri) bagi umat islam yang berada di kawasan penyebaran covid 19 yang belum terkendali.

Senada dengan maklumat PP Muhammadiyah adalah kebijakan Pemerintah Daerah yang mengharuskan sholat idul fitri dilaksanakan di rumah, jika memaksa boleh di masjid atau di musholla dengan jamaah yang terbatas dari kalangan sendiri di sekitar masjid dan wajib menerapkan protokol kesehatan.
Sementara di tanah lapang tidak diperbolehkan sebab akan mengundang kerumunan banyak orang yang rawan  penularan covid 19.

Zaman Rasulullah melaksanakan sholad idul fitri di masjid karena hujan dan zanan pandemi melaksanakan sholat idul fitri di masjid karena aturan, jika dikomperasikan kedua duanya mempunyai illat (sebab) yang sama, hujan menyebabkan tanah lapang tidak memungkinkan ditempati sholat id, demikian pula aturan menyebabkan tanah lapang tidak bisa ditempati sholat id karena dilarang.
Oleh karenanya sholat idul fitri di masjid di saat pandemi karena aturan yang melarang, bisa dianalugkan (kiyas) kepada sholat idul fitri di masjid di zaman Rasulullah karena hujan.
Dengan demikian sholat idul fitri di masjid disaat pandemi hukumnya sah sesuai dengan sunnah Nabi.
Wallahu A'lam.


Probolinggo, 2 Syawal 1441

Post a Comment

0 Comments