About Me


Rekonstruksi Sistem Pendidikan


Oleh: Prof. Dr. Daniel Mohammad Rosyid
(Ketua YPTDI, Jawa Timur)

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Pandemi ini membuka kesempatan bagi rekonstruksi pendidikan nasional yang lebih memberdayakan ummat Islam secara ekonomi dan politik. Saat sistem global goyah dan sedang menemukan bentuk dan keseimbangannya yang baru, ummat Islam perlu bergerak cepat untuk membangun sistem baru ini. Karena pendidikan bertugas terutaman menyediakan syarat2 budaya (sistem nilai) bagi peran ekonomi dan politik yang baru bagi ummat Islam ini, maka kita perlu berlapang dada untuk kehadiran sistem pendidikan  yang baru ini. 

Bangunan ekonomi nasional saat ini sangat kapitalistik, _urban-industrial_ dan ribawi. Sumberdaya ekonomi dikuasai oleh sekelompok elit pemilik modal dan tanah. Ini mungkin terjadi karena proses2 politik pun telah dijadikan arena transaksional dimana uang lebih berbicara daripada kompetensi ataupun akhlaq. Sektor2 agromaritim terbengkalai karena kawasan pertanian dan pesisir semakin tidak mampu menyediakan kesempatan proses nilai-tambah bagi warga muda. Kerusakan lingkungan, keretakan keluarga, degradasi moral, dan urbanisasi besar2an terjadi selama 40 tahun terakhir ini. 

Bagi ummat Islam, perombakan sistem pendidikan ini harus dimulai dari perombakan institusional yang bertugas melakukan pelembagaan nilai2 baru yang lebih Islami. Virus lama yang menghinggapi Sisdiknas adalah persekolahan yang memonopoli secara radikal Sisdiknas ini dan nilai-nilai sekuler. Persekolahan paksa massal hanya menjadi instrumen teknokratik pemerintah dalam sekulerisasi dan penyediaan tenaga kerja trampil yang dibutuhkan para investor, terutama investor asing.  Ini harus dikoreksi karena tidak sesuai dengan amanah Pembukaan UUD1945, terutama dengan "mereposisi peran persekolahan, keluarga dan masyarakat". Monopoli persekolahan, seperti monopoli2 lainnya, telah berakibat buruk pada kinerja pendidikan warga belajar. Secara umum, "masyarakat kita menjadi dungu" ( _dumb_), bukan cerdas.  Keluarga dan masyarakat (masjid, satuan2 sosial-ekonomi lain di masyarakat) harus diberi peran yang lebih bermakna daripada saat ini agar kecerdasan bangsa tumbuh subur kembali merata di seluruh pelosok tanah air, tidak hanya di kawasan perkotaan saja. 

Sistem pendidikan yang baru ini memberi kesempatan luas bagi ummat Islam dalam "pembentukan warga muda muslim/muslimah yang mandiri, bertanggungjawab, sehat dan produktif" di berbagai sektor ekonomi, terutama agromaritim sebagai basis pangan ummat. Ketergantungan pada hutang dan riba dihilangkan secepat mungkin. 'Agenda perang melawan riba" ini harus menjadi bagian tak terpisahkan dalam merekonstruksi Sisdiknas. 

Gunung Anyar, 8/5/2020

Post a Comment

0 Comments