About Me


Rangkuman Khutbah di Masjid Baitul Mahmud: Pintu Surga Ada di Rumah Kita


Disampaikan: Drs. HM. Faishol Hadi, M.Pd.

Ditulis & dikembangkan: Sudono Syueb:

Harianindonesiapost.com
Hadirin yang dimulyakan Allah.

Allah SWT menyuruh kita hanya beribadah kepada-Nya semata, tidak musyrik dan harus berbuat baik kepada kedua orang tua. Allah berfirman:

وَا عبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـئًـا ۗ وَّبِا لْوَا لِدَيْنِ اِحْسَا نًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَا لْيَتٰمٰى وَ الْمَسٰكِيْنِ وَا لْجَـارِ ذِى الْقُرْبٰى وَا لْجَـارِ الْجُـنُبِ وَا لصَّا حِبِ بِا لْجَـنْبِۢ وَا بْنِ السَّبِيْلِ ۙ وَمَا مَلَـكَتْ اَيْمَا نُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَا نَ مُخْتَا لًا فَخُوْرَا ۙ 
"Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri,"
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 36)

Siapapun orang tua kita, apakah mereka bodoh, miskin, jahad sama kita, berakhlak buruk, ibadahnya kurang sempurna dll, mereka adalah orang tua kita. Mari kita cintai, kita sayangi, kita mulyakan, kita kasih makan kenyang, kita pandangi dengan cinta dan kasih sayang. Ajaklah hidup bersama kita, di rumah kita. Karena mereka itu adalah Pintu Surga bagi kita, anak anaknya, jika mereka bersama kita, jika kita malukan birrul walidai kepda mereka.

Alkisah ada  seorang tabi'in yang mulia, namanya Iyas bin Mu'awiyah rahimahullah,  menangis sejadi-jadinya ketika meninggal salah satu dari orang tuanya, maka sahabatnya bertanya  pada beliau : "Mengapa anda menangis sedemikian rupa" ?

Beliau menjawab: "Tidaklah aku menangis karena kematian, karena yang hidup pasti akan mati... Akan tetapi yang membuatku menangis karena dahulu aku memiliki dua pintu ke surga, maka tertutuplah satu pintu pada hari ini dan tidak akan di buka sampai hari kiamat, aku memohon pada Allah Ta'ala agar aku bisa menjaga pintu yang ke dua...".

Hadirin yang dimulyakan Allah...
Kedua orang tua adalah dua pintu menuju surga, yang kita dapat menikmati bau harumnya setiap pagi dan petang, jika kita berbakti kepada keduanya. Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda:

الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوْ احْفَظْهُ
"(Berbakti kepada) Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah, maka jika engkau menghendaki sia-siakan pintu itu atau jagalah ia" (HR. Tirmidzi dan di shahihkan syaikh Al-Albani rahimahullah).


Betul, pintu surga yang paling tengah, yang paling indah, yang paling elok...
Maka masihkah engkau sia-siakan pintu surga itu...?

Bahkan engkau haramkan dirimu tuk memasukinya...? Dengan mengangkat suaramu di hadapannya...? Dengan membentaknya di kala tulang-tulangnya semakin lemah karena di makan usia...

Sementara tubuhmu yang berotot kekar, dahulu telah di basuh kotorannya dengan tangannya yang kini tak bertenaga...

Duhai sungguh ruginya..

Celaka ! Celaka ! Celaka Kalian !
Jika kalian berani durhaka kepada keduanya !

Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ )) - رواه مسام -
“Celaka, celaka, dan celaka, (shahabat) bertanya: Siapa ya Rasulullah? : “Siapa yang mendapatkan kedua orang tuanya di masa tua, salah satunya atau keduanya tapi dia tidak masuk surga“ (HR. Muslim).

Ya Allah, berilah kami taufiqMu dan bantulah kami untuk dapat berbakti kepada kedua orang tua kami, dan kumpulkanlah kami bersama mereka di surgaMu..

 Hadirin kaum muslimin rahimakumullah.....

Pengertian Birrul Walidain

Secara syar’i, birrul walidain adalah berbuat baik kepada kedua orang tua, merendahkan diri di hadapan mereka, berlemah-lembut kepada mereka, menaruh perhatian terhadap kondisi mereka, tidak menyakiti mereka, dan selalu memuliakan kawan mereka sesudah keduanya wafat.

Keutamaan Berbakti kepada Kedua Orang Tua

Dilansir dari buletin.muslimah.or.id, berbakti kepada kedua orang tua adalah sebuah nilai luhur yang telah Allah Ta’ālā sejajarkan dengan ketaatan dan peribadatan kepada Allah Ta’ālā. Allah Ta’ālā berfirman, “Beribadahlah kepada Allah dan jangan kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tuamu…” (QS. An-Nisā`: 36).

Keutamaan berbakti kepada kedua orang tua juga telah disampaikan oleh Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam beliau bersabda, “Dia celaka! Dia celaka! Dia celaka!” Lalu beliau ditanya, “Siapakah yang celaka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Barangsiapa yang mendapati kedua orang tuanya (dalam usia lanjut), atau salah satu dari keduanya, tetapi dia tidak berusaha masuk surga (dengan berusaha berbakti kepadanya dengan sebaik-baiknya),” (HR. Muslim). Berdasarkan hadits tersebut kita dapat mengambil pelajaran bahwa jika kita berusaha berbakti kepada kedua orang tua kita yang telah berusia lanjut, maka kita dapat meraih surga Allah Ta’ālā lantaran hal tersebut. Abu Darda` radhiyallāhu ‘anhu juga meriwayatkan bahwa ada seseorang yang mendatanginya seraya berkata, “Sungguh aku mempunyai seorang istri dan ibuku menyuruhku untuk menceraikannya.” Abu Darda` berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah (paling baik). Jika engkau mau, sia-siakan saja pintu itu atau engkau akan menjaganya,” (HR. Tirmidzi).

Kita wajib berbuat baik kepada kedua orang tua dalam kondisi apapun meskipun keduanya zhalim. Sebagaimana hadits yang disampaikan Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhu, “Tidaklah seorang muslim yang memiliki kedua orang tua yang muslim, setiap hari ia berbuat baik kepada keduanya, kecuali Allah Ta’ālā akan membukakan baginya dua pintu (surga). Kalau orang tua itu tinggal seorang diri, maka satu pintu yang Allah Ta’ālā bukakan. Kalau dia membuat marah salah satu dari keduanya, maka Allah Ta’ālā tidak akan ridha hingga orang tuanya ridha.” Seseorang berkata, “Seandainya kedua orang tuanya zalim?” Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhu menjawab, “Walaupun orang tuanya zalim.”


Masih dari lansiran buletin.muslimah.or.id, Bentuk-bentuk Berbakti kepada Kedua Orang Tua

1. Berkata lemah lembut kepada keduanya

 Ibnu ‘Umar radhiyallāhu ‘anhu berkata, “Dosa besar itu ada sembilan macam, yaitu syirik kepada Allah, membunuh jiwa tanpa kehalalannya, melarikan diri dari pertempuran/jihad, menuduh wanita baik-baik lagi suci telah berzina, memakan riba, memakan harta anak yatim secara zalim,  melakukan pembangkangan di Al-Majidil-Haraam, melakukan sihir, dan membuat kedua orang tua menangis karena kedurhakaan.” Ziyaad berkata, “Thaisalah berkata, “Ketika Ibnu ‘Umar melihat ketakutanku (atas dosa yang aku perbuat), ia berkata, “Apakah engkau khawatir masuk neraka ?”. Aku menjawab, “Benar.” Ia berkata, “Dan engkau ingin masuk ke dalam surga?” Aku menjawab, “Benar.” Ia berkata, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup ?” Aku berkata, “Aku masih punya seorang ibu,” Ia berkata, “Demi Allah, apabila engkau melembutkan perkataanmu terhadapnya dan memberi makan kepadanya, niscaya engkau akan masuk surga, selama engkau meninggalkan dosa-dosa besar,” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabariy 8/239-240 no. 9187, shahih).

2. Merendahkan diri di hadapan keduanya.

Hendaknya kita mendahkan diri kita di hadapan mereka berdua dengan cara mendahulukan segala urusan mereka, membentangkan dipan untuk mereka, mempersilahkan mereka duduk di tempat duduk yang empuk, menyodorkan bantal, serta tidak mendahului makan dan minum mereka berdua.

3. Menyediakan makan dan minum untuk mereka

Menyediakan makan juga termasuk bentuk berbakti kepada kedua orang tua, termasuk jika menyediakan makanan dengan tenaga dan jerih payahnya sendiri. Jadi, sepantasnya diberikan kepada kedua orang tua kita makanan dan minuman terbaik dan lebih didahulukan daripada diri sendiri atau anggota keluarga yang lain.

4. Senantiasa mendoakan kebaikan untuk keduanya

Sebagai seorang anak yang telah dilahirkan oleh seorang ibu dan telah dinafkahi oleh seorang ayah, hendaknya kita selalu mendoakan kebaikan kepada keduanya, sekalipun keduanya adalah orang-orang yang pernah melakukan kemaksiatan kepada Allah Ta’ālā. Berdoa untuk keduanya dilakukan baik ketika keduanya masih hidup maupun keduanya telah meninggal dunia.

5. Memberikan nasehat kepada keduanya

Sebagai seorang anak kita wajib mengajak mereka untuk kembali kepada Allah Ta’ālā jika keduanya adalah orang-orang yang belum mendapat hidayah dari Allah Ta’ālā.

6. Meringankan beban keduanya

Meringankan beban kedua orang tua dalam artian tidak selalu membuat keduanya repot,  membantu melakukan pekerjaan rumah yang biasa dilakukan oleh ibu atau membantu ayah dalam mencari nafkah yang halal.

7. Meminta ijin kepada keduanya jika hendak pergi, walaupun perginya untuk berjihad

Hal ini sebagaimana dalam sebuah riwayat bahwa ada seorang laki-laki datang menemui Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, bolehkah aku berjihad?”. Beliau balik bertanya, “Apakah kamu masih memiliki kedua orang tua?” Laki-laki tersebut menjawab, “Masih.” Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Berjihadlah (dengan cara berbakti) kepada keduanya,” (HR. Bukhari dan Muslim).

8. Menanyakan kabar keduanya jika dalam keadaan jauh
Menanyakan kabar jika sedang bepergian atau sedang tidak berada di sisinya adalah salah satu wujud berbakti kepada kedua orang tua. Ini adalah salah satu bentuk bakti yang sering kita remehkan dan kita lupakan. Sebagai seorang anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya, hendaknya kita memberi kabar kepadanya dan menanyakan kabarnya. Dengan demikian, kedua orang tua akan terobati rasa kerinduannya dan akan hilang rasa was-was yang senantiasa menyelimutinya ketika buah hatinya tidak ada di sisinya.

9. Memberikan harta kepada kedua orang tua menurut jumlah yang mereka inginkan

Diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki yang berkata kepada Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam, “Ayahku ingin mengambil hartaku.” Beliau bersabda, “Kamu dan hartamu milik ayahmu.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ibnu Jami’ dalam Shahih Jami’).

10. Memberi perhatian khusus kepada ibu
Kedudukan ibu dalam Islam lebih didahulukan dari pada kedudukan ayah dalam hal hak mendapat bakti dari sang anak, karena ibu telah memikul beban yang berat ketika harus mengurusi anak-anaknya. Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?” Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab, “Ibumu.” Dan orang tersebut kembali bertanya, “Kemudian siapa lagi?” Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab, “Ibumu.” Orang tersebut bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Orang tersebut bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?” Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab, “Kemudian ayahmu,” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits tersebut menunjukkan bahwa perbandingan kedudukan ibu dan ayah adalah tiga banding satu. Maksud lebih mendahulukan bakti kepada ibu adalah lebih bersikap lemah, lembut, berperilaku baik, dan memberikan sikap yang lebih halus daripada ayah. Hal ini apabila keduanya di atas kebenaran.

Sebagai seorang anak kita wajib mengajak mereka untuk kembali kepada Allah Ta’ālā jika keduanya adalah orang-orang yang belum mendapat hidayah dari Allah Ta’ālā.

Post a Comment

0 Comments