About Me


PWNU Jawa Timur Mendukung Shalat Jum'at, Terawih dan Idul Fitti/Adha di Masjid


Laporan: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Ketika kami ditakut takuti agar tidak datang ke masjid untuk sholat wajib 5 waktu, sholat Jumat dan terawih berjamaah di masjid (kami sempat goyah) karena ada pandemi corona. Tidak ada Ormas atau ustadz yang membela kami. Jika toh ada satu dua orang ustadz. Akibatnya para ustadz itu bernasib sama dengan kami, dubully juga. Mereka membully  kami sebagai orang yang sok tawakkal, mabuk agama, Jabariyah bodoh dll. 
Mereka menciptakan opini seolah olah datang ke masjid untuk sholat itu sebagai sok tawakkal, mabuk agama dan sebuah kebodohan.
Mereka bangun opini seolah olah masjid yang dipenuhi jamsah itu sumber penularan covid19. 
Kami sempat bingung, ragu ragu dan sedikit ketakutan. Kendati begitu, kami bersama teman teman tetap ke masjid, menjaganya dan memberikan pelayanan ibadah pada  umat lslam, walau kami dicibir orang, dirasani orang, dilecehkan orang dalam diam, dikerdip kerdipi orang. 
Sekitar 2 bulan suasana seperti itu kami alami setiap hari.
Kini kami merasa tenang, nyaman dan tidak takut lagi karena engkau wahai para ULAMA kami yang ALLAMAH yang  tergabung dalam Ormas PWNU Jatim  di tengah tengah kami untuk menghilangkan ketakutan kami, mendukung kami untuk tetap memakmurkan masjid dan mengayomi kami supaya bisa beribadah di masjid dengan tenang lewat Surat Himbauan panjenengan para Allamah Ulama PWNU Jatim ke umat lslam melalui surat no 672/PW/A-II/L/V/2020 tentang relaksasi pelaksanaan shalat Jum'at dan terawih di masjid dan shalat ldul Fitri/Adha di tengah tengah pandemi dan PSBB dengan catatan tetap memperhatikan protokol oenvegahan covid 19 secara ketat

Dilansir dari kumparan.com, Pengurus Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur mengeluarkan surat imbauan pelaksanaan salat Idul Fitri berjemaah dan rangkaian perayaannya. Surat itu dikeluarkan pada 14 Mei 2020 dengan Nomor 672/ PW/ A-II/L/V/2020.

Sekretaris PWNU Jatim KH Muzaki membenarkan surat tersebut. "Iya, (benar)," kata Muzaki saat dihubungi, Jumat (15/5).

Imbauan itu merujuk pada keputusan Batsul Masail PWNU Jatim Nomor 643/PW/A-II/L/III/2020 tertanggal 18 Maret 2020 tentang COVID-19, surat PWNU Jatim Nomor 651/PW/A-II/L/III/2020 tanggal 30 Maret 020 tentang panduan praktis salat Jumat di tengah pandemi COVID-19, hingga surat keputusan rapat gabungan Harian Syuriyah-Tanfidziyah PWNU Jatim 14 Meret 2020.

Dalam surat itu, PWNU Jatim mengimbau kepada warga Nahdliyin untuk melakukan salat Idul Fitri berjemaah 1441 Hijriah di tengah pandemi dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dengan catatannya, tetap memperhatikan protokol pencegahan COVID-19 secara ketat.

"Dilaksanakan relaksasi atau pemberian kelonggaran terhadap ibadah salat berjemaah yang meliputi salat tarawih, Jumat dan aid (al-fitri dan al-adha) dengan penjaminan penegakan protokol kesehatan secara maksimal," tulis dalam surat tersebut.

Selain itu, surat imbauan itu juga berisi pembatasan perayaan hari raya Idul Fitri dalam bentuk kunjungan tau silaturahmi kepada kiai-ulama, keluarga hingga teman. Termasuk, peniadaan kegiatan halal bi halal ataupun open house.

"Kegiatan seremonial halal bi halal yang melibatkan kehadiran fisik banyak orang ditiadakan kecuali dengan tetap menegakkan protokol kesehatan, mulai cuci tangan, jaga jarak fisik, tidak bersentuhan dan menggunakan masker," jelasnya.

Masih dari lansiran kumparan.com, 
Sebelumnya, MUI Jatim juga menganjurkan agar salat Idul Fitri berjemaah di masjid. Asalkan, dengan pelaksaan protokol pencegahan COVID-19 yang maksimal.

“Kami menganjurkan di masjid tetap dilaksanakan tapi tidak usah di lapangan supaya lebih mudah pengendalian jemaahnya tapi tentu protokol COVID-19 tetap dilaksanakan jadi, yang ikut salat semua diharuskan memakai masker kalau di lapangan susah untuk memastikannya di masjid wilayahnya lebih kecil,” kata Ainul saat dihubungi, Kamis (14/5)

Post a Comment

0 Comments