About Me


PWNU Jatim dan Pemprov Jatim Hadir Mengayomi Umat lslam Yang Bingung Beribadah Dalam Situasi Covid 19


Laporan: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Sejak diberlakukannya PSBB Nasional, umat lslam (terutama di Jatim) merasa resah dan bingung dalam menjalankan ibadah berjamaah meliputi:
1. Sholat berjamaah di masjid
2. Sholat Jum'at di masjid
3. Sholat terawih berjamaah di masjid dan
4. Sholat Idul Fitri di masjid/lapangan.

Kebingungan itu terjadi karena di beberapa daerah  ada beberapa masjid yang dilockdown, ada umat lslam dilarang sholat di masjid bahkan ada yang ngancam, siapa yang ngotot datang ke masjid  mau ditangkap.

Kini keresahan dan kebingungan umat itu jadi lega (terutama di Jatim), tentram dan santui karena PWNU Jawa Timur hadir untuk menenangkan dan mengayomi serta mendukung umat lslam, terutama jam'iyyah NU di seluruh Jawa Timur yang berada di zona aman covid 19 melalui Surat Himbauannya no 672/PW/A-II/L/V/2020 berkaitan dengan ibadah sholat Jum'at, sholat terawih, shalat Id baik ldul Fitri maupun ldul Adha dengan Protokol Covid 19.

 Dilansir dari  
SURYA.co.id, Setelah Majelis Ulama Indonesia (MUl) mengeluarkan fatwa soal pelaksanaan salat Idul Fitri 2020 di saat pandemi Covid-19 atau Corona, kini Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur juga membuat surat imbauan kepada umat muslim.

Dalam surat bernomor 672/PW/A-II/L/V/2020 tersebut, ada beberapa imbauan dari PWNU Jatim yang ditujukan kepada Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama se Jatim.

"Keputusan ini adalah hasil rapat gabungan Harian Syuriyah-Tanfidziyah PWNU Jatim pada tanggal 14 Mei 2020," kata Sekretaris PWNU Jatim, Akh Muzakki, Jumat (15/5/2020).

Imbauan tersebut antara lain agar dilaksanakan relaksasi dan atau pemberian kelonggaran terhadap ibadah salat berjamaah yang meliputi salat tarawih, Jumat dan salat Ied termasuk salat Idul Fitri dan Idul Adha dengan penjaminan penegakan protokol kesehatan secara maksimal.

Selain itu, PWNU Jatim juga mengimbau agar kebiasaan rangkaian kegiatan perayaan Idul Fitri sebagai silaturahmi, dalam bentuk berkunjung ke orang tua, keluarga, sanak famili, tokoh agama atau tokoh masyarakat seperti kiai, dibatasi pelaksanaannya dengan beberapa ketentuan.

"Bila tidak sangat mendesak, perlu dan penting tidak perlu dilakukan secara fisik atau bertemu langsung," kata Muzakki.

Dengan kata lain, silaturahmi cukup dilakukan menggunakan telepon atau melalui pesan di handphone.

Namun jika sangat mendesak, bisa dilaksanakan dengan tetap menegakkan protokol kesehatan cuci tangan secara fisik tidak bersentuhan dan tetap menggunakan masker.

Begitu juga dengan halal bihalal yang melibatkan kehadiran fisik banyak orang, sebaiknya tidak adakan. Kecuali dengan tetap menegakkan protokol kesehatan.

 Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur mengeluarkan surat Himbauan Kaifiat (Cara) Takbir dan ldul Fitri pada tanggal 14 Mei 2020 yang ditanda tangani Sekda Prov Jatim Dr. Ir. Heru Tjajono, MM.
Surat himbauan tersebut berkaitan dengan relaksasi Pelasanaan Protokol Kesehatan dalam pelaksanaan shalat ldul Fitri di kawasan covid 19 yang dilaksanakan secara berjamaah di tanah lapang, masjid, mudhalla, rumah dan ditempat lain, sesuai ketentuan sebagai berikut:
1.Memperpendek bacaan shalat dan pelaksansan khutbah
2. Mencuci tangan dengan sabun serta air nengalir
3. Menggunakan Masker
4. Pengecekan suhu badan
5. Pengaturan shaf dengan jaga jarak +-1,5-2 meter.

Dengan keluarnya surat haimbauan baik dari PWNU Jatim dan Sekda Prov Jatim, maka umat islam di Jawa Timur tidak bingung apa lagi melaksanakan shalat Jumatan, terawih dan shalat ldul Fitri di masjid, lapangan, musholla, rumah dan tempat lain.

Post a Comment

0 Comments