About Me


PUASA DAN KESHALEHAN SOSIAL


Oleh: KASDIKIN

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Pada waktu bersama sahabat-sababatnya, Rasullullah SAW mengawali  majelisnya dengan mengingatkan para sahabat tentang pentingnya menjaga persaudaraan dan persatuan serta melarang umatnya untuk saling menyakiti satu sama lain dengan cara apun. Selain itu Nabi juga mengingatkan untuk mengubur perangai dan sikap jahiliyah seperti menghina, menjatuhkan martabat, rasisme, atau berkata dusta.
Beliau juga menegaskan makna kehati-hatian (wara'). Sebab, setiap manusia pasti kelak akan dibangkitkan setelah kematiannya di dunia. Kehidupan tidak hanya sekarang, tetapi juga kelak di akhirat sana. Allah SWT akan menjadi Hakim yang memutuskan dengan maha adil setiap perkara yang telah terjadi di dunia. 
Rasulullah SAW pun bertanya kepada para sahabat, wahai sahabatku “Tahukah kalian, siapakah orang yang bangkrut (muflis) itu?” Para sahabat menjawab, “Menurut kami, orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta kekayaan.” Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan (pahala) shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia sering mencaci-maki, menuduh, dan makan harta orang lain serta membunuh dan memukul orang lain. Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka hingga pahalanya habis, sementara tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi. Selanjutnya, sebagian dosa dari setiap orang dari mereka diambil untuk dibebankan kepada orang tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke neraka.” (HR Muslim 8/18 Sanad dari abu hurairah)
Hadits ini mengubah cara pandang para  sahabat tentang kebangkrutan yang sesungguhnya itu bukanlah karena harta,  melainkan ketidak seimbangan antara keshalehan individual dan keshalehan sosial.  Pahala yang banyak dan menggunung, tidak berarti apa-apa,   jika tanpa diikuti aklak yang baik. Baiknya pemahaman agama harus diikuti pula  dengan akhlak dan prilaku yang baik.
Pada hakekatnya tidak ada orang yang mau mengalami kebangkrutan,  baik di dunia maupun di akhirat,  tetapi kenyataan itu akan terjadi sebagaimana yang diceritakan hadits diatas, bahwa ada orang yang shalih secara ritual, dengan terbukti dia membawa pahala kebaikan,  amal ibadah shalat, puasa, zakat dan haji, tetapi kesholehan individual itu tidak diimbangi dengan keshalehan sosial. Mereka lalai dari menjaga perasaan dan kehormatan orang lain, dengan suka mencaci maki, memfitnah, makan harta orang lain secara tidak sah, menumpahkan darah orang yang dilindungi, serta suka melakukan tindak kekerasan memukul orang lain yang tanpa bersalah.
Islam mengajarkan,  bahwa seluruh amalan ibadah ritual selalu berhimpitan dengan tanggungjawab sosial, seperti shalat yang diawali  dengan takbir dan ditutup dengan salam adalah gambaran keterkaitan antara keshalehan pribadi dan sosial.  Shalat  tidak sah dan batal,  ketika pada rakaat terakhir tidak ditutup dengan salam. Salam itu adalah bentuk dari tanggungjawab secara sosial dan komitmen batin untuk menjaga keselamatan dan kesejahteraan orang yang ada di kanan,  kiri dan sekeliling. Atau jika boleh, ibadah shalat itu diterjemahkan dalam bahasa manusia, maka seakan-akan Allah berkata bahwa, baiklah kamu sudah berberhubungan baik dengan Ku, berkomunikasi baik dengan Ku, sekarang coba buktikan dan  lihatlah orang yang ada di sekeliling, dan bantulah  merekah,  selamatkanlah mereka.
Puasa misalnya, setelah kita menjalankan ritual puasa selama sebulan penuh selalu kita akhiri dengan memberikan zakat kepada orang yang tidak mampu sebagai komitmen dan tanggungjawab sosial terhadap sesama. Artinya bahwa setiap seluruh aspek ibadah kita selalu menuntut bukti kepekaan dan kepedulian sosial kita, setiap keshalihan  pribadi, masih harus dibuktikan dengan keshalihan sosial. Wallahu a’lam.

Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Kertosono dan Kepala KUA Kecamatan Rengel Kab. Tuban

Post a Comment

0 Comments