About Me


Potret Darurat Pendidikan Desa di Tengah Pandemi Covid-19


Oleh: Sadam Hardi

(Ketua Umum PW PII Maluku Utara)

Editor: Sudono Syueb


Harianindonesiapost.com Jauh dari perkotaan, di suatu desa kecil, di tengah garis katulistiwa, segelintir anak-anak negeri yang tersimpul pada wadah Pelajar Islam Indonesia memikirkan dan resah terhadap kondisi pendidikan Indonesia di tengah pandemi covid-19.

Hari pendidikan nasional dan Hari Bangkit ke-73 Pelajar Islam Indonesia tanggal 2 dan 4 Mei 2020 adalah momen  merefleksikan kondisi pendidikan Indonesia di tengah penyebaran covid-19. Kita tahu bersama, 80 lebih negara di dunia seketika memberhentikan aktivitas pembelajaran sekolah maupun kampus. Hal ini mengakibatkan terjadinya darurat pada sektor pendidikan serta diakui telah mengganggu kejiwaan anak bangsa. Masa depan anak bangsa menjadi pertanyaan besar serta menjadi kekehwatiran kita semua.

Pendidikan dan kebudayaan ialah dua pilar yang sangat penting dalam mencipta peradaban yang berkeadaban yang mendorong kemajuan suatu negara. Hal ini diakui oleh seluruh bangsa di dunia. Karena disana terdapat empirium besar yang menuai benih-benih yang akan tumbuh berkembang menebar kebaikan dan menciptakan perubahan. Kita akui, pendidikan adalah sebuah proses mencetak dan menghasilkan generasi baru yang memiliki pengetahuan dan pengalaman guna menjadi motor dalam menggerakkan dan membawa perubahan suatu negara. Bagaimana kita bisa meyakini jika pendidikan yang menjadi mesin pencetak manusia menjadi sempurna dan paripurna telah mati dan tidak bergerak? Keraguah inilah yang menuntut kita selalu berpikir untuk mencari sulusi yang tepat guna mengatasi dilema pendidikan kita di Indonesia.

Sudah mendekati satu abad Perjalanan  Pelajar Islam Indonesia dalam mencetak, mendorong, dan mengawal pendidikan dan kebudayaan di Indonesia baru kali ini memiliki tantangan yang berbeda. Dengan beragam tantangan yang dihadapi PII mulai orde lama, orde baru dan era reformasi, kali ini menuntut PII harus lebih ekstra dan inovatif dalam pergerakan dakwah guna lebih mendekatkan diri pada cita-citanya yakni: Kesempurnaan Pendidikan dan Kebudayaan yang Sesuai dengan Islam Bagi Seluruh Bagsa Indonesia dan Ummat Manusia. Cita-cita luhur yang telah lama melekat serta menjadi bagian dari jiwa Pelajar Islam Indonesia itu tentu membuat setiap kader dan pengurusnya selalu gelisah jika menyaksikan realitas pendidikan di tanah air di tengah pandemi covid-19 saat ini.  

Hari Pendidikan Nasional dan Harba ke- 73 PII tahun 2020 tak sama dengan tahun-tahun kemarin. Seluruh kader dan Pengurus PII se-tanah air menjemput momen kali ini sangat berbeda. Dampak covid-19 bukan hanya dirasakan oleh dunia pendidikan, namun berdampak juga terhadap usaha pergerakan dakwa PII di seluruh tanah air. Masa pengkaderan di periode ini dilewati begitu saja, padahal pengkaderan merupakan jantung yang menentukan keberlangsungan hidup organisasi sebagai mesin pencetak generasi emas.  Liburan kali ini dimanfaatkan untuk di rumah saja tak seperti biasanya. Saat-saat ini biasanya seluruh kader dan pengurus berada di tempat-tempat training, namun tak bisa dipungkiri, kondisi saat ini membuat segala pergerakan tidak bisa dilaksanakan yakni aktivitas dakwah PII.

Seluruh teman-teman PII se-tanah air merayakan Hari Bangkit ke-73 dengan beragam program meski modelnya berbeda. Saya yakini, meski situasi dan kondisi yang terjepit pada saat ini, namun tidak membuat para kader PII tejebak dan mati dalam berpikir. Sebab hakikat dari perjungan adalah terus berpikir, bergerak dan berjuang dalam situsi dan kondisi bagaimanapun dengan mendayagunakan pola dan model perjuangan yang sesuai dengan kondisi.


Saatnya PII mengambil posisi dan peran dalam menjawab problem pendidikan karena pandemi covid-19. Terutama pendidikan yang berada di daerah tertinggal yang prosesnya tidak seimbang dengan kemajuan zaman yang menuntut pada pendayagunaan teknologi. Dampak covid-19 pada sektor pendidikan menuntut para pelajar dan mahasiswa harus belajar dari rumah dengan menggunakan media teknologi dan sistem online. Para pelajar dan mahasiswa dianjurkan menggunakan media elektronik dengan sistem jaringan internet dalam melakukan proses belajar dari rumah. Meski tidak efektif, namun hal ini bisa membantu proses pendidikan di Indonesia. Namun masalahnya bagi para pelajar di desa kecil dan tertinggal yang awam terhadap teknologi serta kesusahan dan mengakses informasi melalui jaringan internet, hal ini berakibat akan terjadinya kemacetan belajar secara total. Belum lagi problem-problem mendasar lain yang mengganggu percepatan kemajuan dan peninggatan pendidikan desa.

Potret inilah yang membuat Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia mengambil langkah kerjasama dengan pemerintah desa Gunange Kecamatan Kayoa di momentum Hardiknas dan Harba ke-73 PII untuk menggelar peringatan Hardiknas, Refleksi Harba 73 PII dan Dialog Pendidikan dengan mengangkat tema: "Darurat Pendidikan Desa Ditengah Covid-19" dengan menghadirkan empat narasumber, yakni Bapak Den Muhajir (Kepala Desa Gunange) selaku pemerintah, Bapak Awad Ali (Kepala Sekolah SMP Nurul Hasan) selaku pengambil kebijakan tingkat sekolah, Bapak Abdurrahman Abubakar (Kepala SD N 59 Halsel dan Sadam Hardi (Ketua Umum PW PII Maluku Utara).

Meskipun agenda yang berlangsung sangat serhana, namun memiliki hikmah yang sangat luar biasa dilaksanakan mulai setelah selesai shalat tarawih hingga pukul 24.00. Saya menyadari saatnya PII melihat kondisi pendidikan terutama pendidikan di daerah tertinggal seperti desa saya. PII tidak boleh hanya mengadvokasi dan merespon pendidikan yang telah mapan di kota-kota besar. Namun PII harus melihat kondisi pendidikan di daerah-daerah yang belum maju
Dari situlah PII menemukan tantangan baru serta mencari solusi dan memecahkan masalah yang ditemukannya. PII adalah milik semua pelajar di Indonesia. Oleh karena itu, manfaatnya harus dirasakan oleh seluruh anak bangsa terutama pelajar yang masih jauh dari kemajuan zaman yakni di desa tertinggal.

Potret pendidikan dalam prespektif keempat narasumber. Narasumber pertama, Bapak Den Muhajir selaku pemerintah desa menyatakan bahwa dengan adanya pandemi covid-19 di dunia, membuat seluruh sekolah harus diliburkan terutama sekolah di tingkat desa. Hal ini dalam rangka memutus mata rantai penyebaran virus corona. Pak Kades mengakui bahwa sejauh ini selaku pengambil kebijakan tingkat sekolah, dalam hal ini kepala sekolah belum pernah berkoordinasi dengan beliau guna mencari solusi agar para siswa di desa tetap belajar meski siswa diliburkan sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Bagi orang nomor satu di desa Gunange tersebut bahwa pendidikan yang sebenarnya tidak boleh dibiarkan begitu saja. Apapun yang terjadi, pendidikan tetap dilaksanakan, tinggal bagaimana cara agar tetap dilaksanakan proses belajar mengajar. Beliau menawarkan solusi, jika pemerintah menganjurkan agar segala aktivitas yang bersifat perkumpulan dihindari, maka tentunya proses belajar tetap dilaksanakan meskipun di rumah. Namun hal ini merupakan bagian dari tanggung jawab pengambil kebijakan di tingkat sekolah yakni kepala sekolah serta dibantu oleh para guru. Jika pendidikan ini terus dibiarkan ditengah tekanan covid-19 yang belum tentu kapan berakhir ini maka pendidikan kita terus terlantar dan tidak terurus. Oleh karena itu, bagi pak kades harus kita harus mengisi waktu yang ada dengan upaya-upaya belajar bagi siswa. Karena hakikat dari pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, maka dimana saja dan kapan saja pendidikan itu tidak boleh mati.

Narasumber kedua, Bapak Awad Ali, selaku Kepala SMP Nurul Hasan Desa Gunange menjelaskan kondisi pelajar dalam tataran desa masih jauh dari apa yang diharapkan. Pelajar masih belum tersadar tentang kondisi kesenjangan pendidikan dalam kondisi covid-19. Menghadapi liburan sekolah dalam pandemi covid-19 peserta didik(pelajar) belum diberi pemahaman yang jauh oleh orang tua sehingga mereka menjadikan momen ini sebagai kesempatan bersenang-senang dengan media sosial, yakni facebook dan lain-lain. Pak Awad menjelaskan pendidikan secara umum merupakan tanggung jawab penting orang tua di rumah. Orang tua adalah pendidik yang paling utama dalam memberi pemahaman yang baik terhadap anak. Sehingga ia tumbuh menjadi anak yang baik dalam lingkungannya.  Yang kedua adalah pemerintah selaku pendukung pendidikan yang bisa mendorong kemajuan proses pendidikan. Pemerintah di suatu daerah atau desa seharusnya berperan aktif juga dalam mendorong kemajuan pendidikan melalui berbagai program dan kebijakan dan cara-cara tertentu. 

Sementara narasumber ketiga yakni bapak Abdurrahman Abubakar (Kepala SD Negeri 59 Halsel) Menjelaskan kondisi pendidikan ditengah pandemi covid-19 sebetulnya ada tiga peran individu guna menopang proses pendidikan. Yakni masyarakat, orang tua murid dan pemerintah. Tika komponen inilah yang dapat mendorong kemajuan pendidikan. Masyarakat harus juga memahami pendidikan sehingga dapat berpartisipasi mendorong pelaksanaan pendidikan. Orang tua murid juga harus menyadari akan tugas dan tanggung jawab sehingga berperan di rumah guna selalu memberikan didikan secara terus-menerus sehingga mendorong kemajuan pendidikan. Pemerintah sebagai lembaga pengambil kebijakan harusnya lebih mendorong pada sektor pendidikan. Ketiga komponen ini jika bekerjasama secara baik maka akan mencipatakan peningkatan pendidikan.

Selanjutnya narasumber keempat, Sadam Hardi (Ketua Umum PW PII Maluku Utara) menjelaskan pendidikan dalam potret peran PII. Kondisi pendidikan dalam pandemi covid-19 membuat PII semakin merenungi akan sejauh mana perannya sebagai wadah alternatif dalam mendorong pendidikan dan budaya guna tercipta pendidikan Indonesia  yang berkeadaban. Sudah 73 tahun usaha PII dalam membina anak bangsa lewat beragam program dan tingkatan-tingkatan pentraningannya, yakni mulai Leadership Basic Training, Leadership Intermediate Training, dan Leadership Advance Training serta masih banyak kursus dan latihan nyata yang dirasakan oleh setiap pengurus di seluruh tanah air. Di situasi pandemi covid-19 bangsa ini baru sadar tentang tanggung jawab dan proses pendidikan sejatinya bukan hanya di sekolah, namun diproses lewat organisasi eksternal di luar lingkungan sekolah juga sangat penting. Saat pandemi covid-19, semua sekolah dan kampus diliburkan hingga pada waktu yang tidak ditentukan. Hal ini membuat para pelajar se-Indonesia harus memperoleh pendidikan dimana dan seperti apa? Semua orang bingun dimana anak mereka memperoleh pendidikan. Kebingunan ini pasti dirasakan oleh semua pihak, baik guru, orang tua bahkan pemerintah.


Organisasi sebagai wadah yang menampung anak bangsa diluar jam sekolah dan kampus, organisasi dapat mecetak generasi bangsa sehingga bisa berhasil dan memiliki kemampuan intelektual, emosional dan spritual. Realitas yang terjadi di sekitar kita, para pelajar tidak tahu arah kemana ia harus berekspresi. Kebingunan inilah yang membuat para pelajar membawa dirinya ke arah yang sia-sia. Fungsi control pendidikan formal telah hilang. Pendikan formal sebagai andalan dalam memproses seorang anak manusia kini tidak bisa berbuat apa-apa lagi di tengah mewabahnya coronavirus. Seketika seluruh sekolah di Indonesia diliburkan sampai waktu yang tidak ditentukan. Semua proses belajar sekarang hanya menggunakan sistem darring yakni penggunaan aplikasi zoom dengan belajar di rumah masing-masing melalui media elektronik dan sistem jaringan internet. Namun sangat disayangkan bagi para pelajar yang berada di desa-desa terpencil dan jauh dari jangkauan jaringan internet serta pemahaman penggunaan teknologi masih minim, tentunya nasib pendidikannya sudah jauh dari apa yang diharapkan. Menghadapi tantangan saat ini tentunya bangsa ini belum siap dalam mejemput dan menerima abad 21 sebagai era revolusi baru serta menyambut era industri 4.0. Bagaimana mungkin bangsa ini bisa siap menerima hal ini jika pemahaman tentang kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi masih sangat minim.

Jangankan soal pemahaman teknologi, soal budaya bangsa ini dalam menyesuaikan perkembangan zaman pun masih minim. Budaya belajar siswa bersama temannya di sekolah jika berpindah tempat pada budaya belajar di rumah sungguh tidak bisa dilakukan. Siswa lebih terbiasa belajar di sekolah ketimbang belajar di sekolah. Inilah problem kebudayaan yang mendasar di dunia pendidikan, padahal belajar bukan hanya di sekolah, namun dimana saja berada, bisa dilakukan proses belajar. Belum lagi kita lihat dari tantangan-tantangan yang lain yang menghambat kemajuan pendidikan itu sendiri. Membaca pendidikan desa di tanah kelahiran memang sangat jauh berbeda dengan pendidikan yang ada desa-desa yang lain. Dari sisi sarana dan prasarana saja sudah sangat ketinggalan jauh. Hal ini memerlukan kerjasama dari segala komponen yakni pemeritah, guru, maupun masyarakat, apalagi dalam kondisi pandemi covid-19. Jika semua pihak saling mendukung dan mencari solusi maka darurat pendidikan bisa ditangani secara baik. Karena hakikat belajar bukan hanya diharapkan di sekolah dengan merujuk pada kurikulum pendidikan yang dibuat oleh pemerintah, namun sejatinya bisa dilakukan dimana saja, dengan merujuk pada kurikulum kehidupan.

Gunange, 6 Mei 2020

Post a Comment

0 Comments