About Me


Pendidikan Untuk Merdeka


Prof. Dr  Daniel Mohammad Rosyid

Harianindonesiapost.com Tanggal 2 Mei 2020 Sabtu besok bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional sekaligus 9 Ramadhan 1441H, 75 tahun Kemerdekaan RI. PSBB ini memberi waktu dan kesempatan untuk sungguh-sungguh melakukan refleksi. Penting diingat bahwa pendidikan sejak awal oleh Ki Hadjar Dewantoro dijadikan *strategi untuk menyediakan syarat budaya bagi bangsa yang merdeka*. 

*Tujuan pokok pendidikan cuma satu yang  penting : membangun jiwa merdeka*. Yang lain seperti kompetensi, daya saing,  kemampuan berpikir kritis, bahkan akhlaq mulia pun tidak terlalu penting. Mengapa ? Karena semua hasil belajar  tersebut hanya bisa tumbuh subur dan kokoh di atas jiwa yang merdeka. Ki Hadjar membangun strateginya di atas 3 pusat pendidikan : keluarga, masyarakat, dan perguruan. 

Sayang sekali, sejak 1970an, misi pendidikan tidak lagi seperti cita-cita para pendiri bangsa. Pendidikan dirumuskan sebagai instrumen teknokratik melalui persekolahan paksa massal untuk menyiapkan tenaga kerja murah bagi investasi asing. Pendidikan, melalui persekolahan itu, dijadikan sebuah proyek penjongosan besar-besaran untuk kepentingan industrialisasi. Yang dikorbankan adalah keluarga dan masyarakat pertanian, demi kelahiran masyarakat industri. *Seiring dengan proyek persekolahan itu adalah urbanisasi berskala besar*. Korban industrialisasi besar-besaran itu adalah lingkungan yang rusak, serta keluarga yang retak. Pandemi ini memberi kesempatan bagi lingkungan untuk kembali lebih sehat dan *mereposisi peran keluarga di rumah*.  

Pandemi Covid-19 memaksa kita untuk kembali ke keluarga di rumah. *Belajar dari rumah akan segera bergeser menjadi belajar di rumah*. Inilah Merdeka Belajar yang sesungguhnya. Belajar di rumah bisa lebih efisien, bermakna dan mendewasakan. Kurikulum disusun secara luwes bersama orang tua dan tetangga,  disesuaikan dengan bakat, minat dan potensi lokal di sekitar rumah. Potensi-potensi agromaritim kita begitu melimpah yang selama ini terbengkalai oleh persekolahan. 

Bekerja dari rumahpun akan berubah menjadi bekerja di rumah, bukan sebagai buruh, tapi sebagai pengusaha kecil. UMKM berskala rumah tangga perlu diperkuat. *Baik ketrampilan maupun sikap enterpreneurial dibangun di rumah*. Pergeseran ini penting kita sadari dan kita optimalkan untuk kepentingan membangun masa depan yang lebih sesuai dengan cita-cita kemerdekaan di mana ekonomi disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas azas kekeluargaan. 

Sekolah dan guru perlu mereposisi perannya dalam dunia baru pasca Covid-19 ini. Sekolah akan berperan lebih sebagai *pusat sumberdaya belajar masyarakat* ( _community learning resource centre_) yang berinteraksi erat dengan semua potensi agromaritim di sekitarnya. *Sekolah buka dari pagi hingga malam, melayani masyarakat secara lebih terbuka*.  Bersama keluarga, dan masyarakat, sekolah dapat memperluas kesempatan belajar untuk melahirkan generasi muda yang lebih cakap mengelola potensi agromaritim daripada generasi pendahulunya. Sekolah bukan lagi menjadi pendorong urbanisasi. 

Selamat Hari Pendidikan yang Memerdekakan !

Rosyid College of Arts
Gunung Anyar, 1/5/2020

Post a Comment

0 Comments