About Me


OLENGNYA, KAPAL PESIAR


Karya :
MASYKUR SARMIAN
( Alumni YTP, Kertosono )

Harianindonesiapost.com 
Badai ini...
Tidak saja menakutkan species manusia...
Tapi sudah menghantui Kapal Pesiar...
Kapal ini mulai oleng...
Bahkan limbung sudah...
Tidak jelas arahnya...
Mau dibawah kemana tidak jelas...
Juga tidak jelas akan bersandar dimana, kapan...
Kapal Pesiar makin kehilangan orientasinya...
Kini ia bergerak sepertinya tanpa mengikuti arah kompas...
Kompas sudah tak diperlukan lagi...
Ada Nakhoda...
Tapi sepertinya tidak
Sibuk mengatasi dahsyatnya badai dan gelombang...
Mungkin lagi sibuk main kartu...

Mungkin juga sedang sibuk menghitung untung besar bisnis "Momentum" 
bersama orang-orangnya...
Dan mungkin juga sedang sibuk menyiasati regulasi untuk kepentingan Melanggengkan Kerajaan bisnis, kekuasaan, kroni dan kepentingan lainnya...
Hanya si "serakah" Sang ABK yang sangat didengar suaranya...
Sementara teriakan Penumpang diabaikannya...
Walau mungkin benar...
Betapapun nyaring dan telah
Memekakkan telinga...
Bahkan riuh rendahnya penumpang sudah diabaikannya...
Kesabaran penumpang sudah mulai tak terbendung lagi...

Ransum yang harusnya jadi hak penumpang tak segera dibagi-bagi...
Ada dibagi tapi tak  jelas polanya,
Hati sebagian penumpang tersayat-sayat dibuatnya...
Teriris-iris dipolanya...
Ada yang harusnya berhak...
Mendapat ransum, tapi dilewatinya...
Ada yang sudah dapat malah, diberi lagi...
Terkesan pilih kasih...
Penumpang yang belum dapat hanya bisa mengurut dada...
Padahal mereka sama2... Membeli tiket dengan harga yang sama...
Kapal pesiar ini mulai Bergoyang-goyang, Menghempas dengan dahsyat...

Harusnya, Komando Nakhoda dan wakil satu suara...
Memandu ABK...
Melindungi pelanggan
Menentramkan semua penumpang...
Dan yang penting
satu hati...,
Satu kata...,
Dan satu perbuatan...,
Tidak plintat plintut...
Itulah kekuatan Leadeship...
Satu hal lagi...
Saat Kapal Pesiar ini terhempas...
Mestinya..., Kau buka...
Kau suruh orang-orang terbaik untuk merayu, meminta kepada Sang Pemilik kehidupan, agar badai ini cepat berlalu...
Kalau perlu Kau ikut hanyut dalam aktifitas itu...
Dalam protokol yang ketat...
Karena itu sumber kekuatanmu...

Sumber kekuatan Spiritual kita... bukannya malah kau penuh nafsu menutupnya...
Karena itu benteng terakhir kekuatan kita, untuk meminta kepada sang Penolong kita dari badai dan bencana...
Soal yg lain, itu soal tekhnis...
Kapal Pesiar lain yang Nakhoda dan ABKnya atheis saja, mulai percaya pada sumber kekuatan spiritual... Sebagai cara untuk menyelamatkan kapal...
Ini malah Konser yang didukung, dieluh-eluhkan...,
Bahkan Kau terlibat di dalamnya...
Kau..., makin sombong makin angkuh dan makin menjauh dari Pusat Sumber Kekuatan itu.. 
Berhati-hatilah.(Sudono Syueb/ed)

Samarinda, 28 Ramadhan 1441 H

Post a Comment

0 Comments