About Me


MUBALLIGH dan DA 'I


Oleh: Abdullah Mukti

Bismillaahirrohmaanirrohiiim.

Harianindonesiapost.com Seorang da'i atau muballigh itu adalah sama sama sebagai GARDA  TERDEPAN pejuang  Islam untuk menyelamatkan manusia dari api neraka. Akan tetapi dalam geraknya ada sedikit perbedaan. Hal ini dikarenakan ada beberapa firman Alloh di antaranya :

1. وما على الرسول الا البلاغ    المبين. 
Dan tidak lain kewajiban rosul itu melainkan menyampaikan (amanat Alloh) dengan terang.
QS. An Nur 54. 

2. وما علينا الا البلاغ المبين
Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Alloh) dengan jelas.
QS. Yaasiiin 17. 

3. ولتكن منكم آمة يدعون الى الخير ويآءمرون بالمعروف وينهون عن المنكر وآولئك هم المفلحون .
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebaikan , menyeru kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang orang yang beruntung.
QS. Ali 'Imron 104.

4. ادع الى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتى هى احسن.
Serulah (manusia) kepada  jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.
QS. An Nahl 125.

5. Hadits Nabi yang populer sebagai berikut :  
بلغوا عنى ولو آية .
Sampaikan dari aku walaupun satu ayat.

Seorang da'i saya ibaratkan seperti orang tua. Dalam menjalankan tugasnya didorong karena merasa bertanggung jawab, cinta, kasian, sayang sehingga da'wahnya ini dilaksanakan dengan sebaik baiknya. Modal atau bekal seorang da'i tidak cukup hanya mengandalkan ilmu(agama) dan pandai menguraikan materi da'wahnya (ceramahnya)saja, tapi dibutuhkan modal harta, kekuatan fisik,kekuatan mental, berjiwa sabar,pemaaf dan penyayang, ulet dan tlaten, tahan banting bahkan nyawapun juga perlu dipertaruhkan untuk mencapai keberhasilan.Dan tak kalah pentingnya dengan modal di atas yaitu harus bisa memberi contoh melakukan apa yang disampaikan sebagai uswatun hasanah. Seorang da'i sulit berhasil jika hanya mengandalkan ceramah saja. Justru da'i seperti ini pasti akan sering menemukan kegagalan dan cemoohan dari masyarakat. Maka untuk mencapai keberhasilan da'wah harus dibentuk (terdiri dari sekelompok atau sebagian kelompok masyarakat) dengan menyiapkan modal atau bekal seperti tersebut di atas dan harus dilaksanakan secara continue(terus menerus) sampai waktu ditentukan (berhasil atau tidak) da'wahnya itu. 
Cara seperti  ini bukan berarti da'wah tidak boleh(tidak bisa) dikerjakan sendirian. Malah sangat bagus sehingga orang yang dituju itu cepat memperoleh bimbingan secara cepat.
Seorang da'i pasti merasa menyesal,kecewa dan sedih jika da'wahnya gagal. Kita lihat wajah orang tua bila gagal mendidik anak anaknya pasti menangis dan terus berjuang sampai waktu ditentukan. Juga para guru zaman dahulu(waktu saya di SR, Sekolah Rakyat) bila murid muridnya belum atau tidak mengerti apa yang diajarkan, atau soal yang diberikan belum bisa dikerjakan  dengan baik, saya melihat wajah mereka muram,sedih yang akhirnya seorang guru rela mengorbankan apa saja demi keberhasilan murid muridnya. Seorang guru rela tidak pulang dulu karena memberikan les (nambah jam belajar) dengan gratis karena tidak rela kalau murid muridnya menemui kegagalan.

Kalau seorang muballigh, maaf  saya ibaratkan seperti seorang yang bertugas untuk  menyampaikan barang(surat). Karena tugas ini boleh dan bisa dikerjakan sendirian, maka yang penting barang sudah disampaikan. Soal nanti diapakan terserah yang menerimanya, yang penting sudah disampaikan. Tugas selesai, pulang. Maaf, mungkin seperti (sebagian) guru zaman now, yang penting semua tugas sudah dikerjakan (disampaikan sesuai kurikulum), soal nanti terserah murid muridnya. 
Jadi bedanya seorang da' i dengan muballigh adalah pada tugas dan tanggungjawabnya. 
Mungkin karena sangat beratnya tugas dan tanggungjawab seorang da'i, zaman now banyak ormas atau sekelompok umat Islam memilih menggunakan istilah muballigh. 

Di waktu saya dipercaya 
 menempati posisi sebagai bagian tabligh PCM Kertosono periode tahun 1975 - 1985 (waktu itu masih menggunakan bagian belum majlis) , yang ketuanya adalah saudara Ali Hamdi Mudaim almarhum, maaf waktu itu beliau belum mempunyai gelar Kyai, tidak menggunakan istilah bagian tabligh, tapi bagian da'wah. Dengan beliau inilah (dua orang) bergerak bersama gp. Anshor untuk berda'wah.

Berselang beberapa tahun setelah saya berumah tangga, saya mengenal adanya suatu lembaga yaitu DDII (Dewan Dakwah Islam Indonesia) yang sukses di berbagai bidang karena da'wahnya menyeluruh  artinya dijalankan billisan, bilmal, bilhal, bahkan bil anfus. dan bekerjasama dengan kelompok lain. DDII menggunakan falsafah " pohon bambu ". yang bisa menyentuh tetangga kanan kiri dengan tidak pandang bulu, tetapi punjernya(dongkelnya)tidak bergeser sedikitpun dari tempatnya.

Untuk itu saya menghimbau kepada para pejuang Islam baik yang merasa dirinya sebagai da'i atau sebagai muballigh, dalam kondisi saat ini (pandemi corona) apalagi di bulan romadlon yang mana semua amal sholih dilipat gandakan pahalanya, jangan berhenti berda'wah, jangan berhenti bertabligh walaupun masjid ditutup, dengan cara apapun tetap berda'wah untuk mensuport masyarakat supaya lebih banyak beramal sholih dan beristighfar  serta melakukan taubatan nasuha agar corona segera dipanggil Alloh Dzat yang memilikinya. Jangan sibuk dan bersitegang dengan perbedaan pandangan ulamak. Mereka yang ke masjid sudah mengikuti protokol kesehatan dan faham zona daerahnya  masing masing . Yang tidak mau ke masjid, hendaknya dipantau terus menerus dan diarahkan tetap menjalankan ibadahnya, jangan sampai mengatakan ibadah bisa di rumah tapi kluyuran. Fokuskan hati dan keyakinan kita kepada Alloh swt. dengan memohon ampunan dan  bencana ini segera diangkat dari bumi Indonesia khususnya dan dari bumi kaum muslimin pada umumnya. Aamiiiin.(Sudono Syueb/ed)

فاستبقوا الخيرات 

Post a Comment

0 Comments