About Me


MENJAGA KEHORMATAN SESAMA


Oleh: KASDIKIN

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Salah satu kebiasaan yang dilakukan Umar bin Khatab Ra adalah melakukan ronda atau blusukan dalam rangka melakukan mitigasi dan mencari fakta dibalik berita yang berkembang di masyarakat.  Suatu malam Umar bersama Abdullah bin Mas’ud melakukan ronda malam dengan berjalan sampai pada tempat terpencil. Di kejauhan mereka berdua menyaksikan percikan cahaya dan sayup sayup terdengar suara nyanyian, maka bergegaslah  mengikuti arah cahaya dan suara tersebut, kemudian sampailah disebuah rumah. 
Diam-diam Umar menyelinap masuk dan melihat seorang tua sedang duduk santai yang dihadapanya ada secawan minuman,  serta seorang perempuan yang  sedang bernyanyi. Umar pun kemudian mendatangi laki-laki itu dan menghardik “ Hai lelaki tua yang menanti ajal, belum perna aku melihat pemandangan seburuk yang aku lihat malam ini. Hai musuh Allah, apakah kamu mengira  bahwa Allah akan menutup  aibmu padahal kamu berbuat maksiat”.  Orang tua itupun tidak tinggal diam bahkan Kemudian orang tua itu menjawab “Hai Umar jangan tergesa-gesa marah, saya hanya berbuat maksiat sekali, sedangkan engkau menentang firman Allah sampai tiga kali. 
Pertama, engkau melakukan tajassus pada hal Allah melarang “ Janganlah tajassus (Mengintip dan mencari-cari kesalahan orang lain) (QS. Al-Hujurat :12). Kedua, engkau telah memasuki rumahku dengan menyelinap tanpa melalui pintu padahal  Allah berfirman “Masuklah ke rumah-rumah dari pinti” (QS al-Baqarah: 189).  ketiga, anda telah memasuki rumahku  dengan tanpa izin, padahal Allah berfirman “Janganlah engkau memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum kamu meminta izin dan mengucapkan salam pada orang yang ada didalamnya. (QS Annur: 27). Seketika itu Umar mengakui kesalahannya seraya berucap “Kamu benar” dan dengan perasaan sedih Umar keluar, sambil hatinya berbicara dengan dirinya sendiri “Celaka kau umar jika Allah tidak mengampunimu”.
Kemudian beberapa lama orang tua itu tidak perna menghadiri majlis Umar. Pada suatu hari, orang tua itu menghadir majlis Umar dan duduk paling belakang, seakan-akan ia ingin bersembunyi dari pandangan Umar. Tetapi, Umar melihatnya dan memanggilnya. Orang tua itu berdiri dengan rasa khawatir dan takut kalau Umar nanti akan mempermalukan dirinya dihadapan majlis, terhadap apa yang pernah ia lakukan. Umar pun menyuruhnya mendekat “dekatkan telinga mu padaku”, kata Umar.
Lantas Umar berbisik ditelinga orang tua itu “Demi Allah tak seorangpun yang aku beritahu tentang apa yang aku lihat terhadap apa yang engkau perbuat, begitu pula Abdullah bin Mas’ud yang ada bersamaku”. Kemudian orang tua itupun berbisik pada Umar, wahai amiril mukminin, begitu pula aku, “demi Allah saya tidak pernah kembali pada perbuatan itu, sampai aku datang ke majlis ini”. Mendengar bisikan itu, umar mengucapkan takbir dengan suara yang keras, dan orang yang hadir didalam majlis itupun tidak tau sebab apa ia  bertakbir. 
Subhanallah, Allahu akbar, kedua sahabat ini sangat bersyukur dan bergembira, karena keduanya telah berhasil saling menutup aib dan saling menjaga kehormatan keduanya. Cerita ini tertulis dalam  kitab  Hayat al-Shohabah Jilid 2  hal 420-521, serta dalam tafsir al-dur al-mansur tafsir bi al-ma’tsur jilid 7 halam 567-568.
Islam mengajarkan pada umatnya untuk memaafkan kesalahan orang lain  dan pandai menyembunyikan aib atau kesalahan saudaranya sendiri. Tetapi kebanyakan dari manusia lebih banyak mencari kesalahan-kesalahan orang lain. bahkan lebih banyak lagi yang membuka aib  dengan membicarakannya dengan teman, kerabat, bahkan bicara dipublik, lewat media sosial dan semacamnya. Oleh karena itu, dibulan yang penuh berkah ini, hendakah  senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri atau ihtisab. Dengan  sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hati akan menjadi tenteram.  Sebaliknya orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta,   dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya. Wallahu a’lam

Penulis Adalah alumni Pondok Pesantren Arraudlatul Ilmiyah Kertosono, dan Kepala KUA Kecamatan Rengel.

Post a Comment

0 Comments