About Me


Membaca Ulang NKRI


Oleh: Nasrullah Larada
Ketua Umum 
PP KB PII

Harianindonesiapost.com Alhamdulillah, segala puji bagi Allah patut  kita panjatkan pada kehadirat Allah SWT atas segala nikmat yang telah kita dapatkan selama ini. Sholawat beserta salam saya panjatkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW yang telah menyelamatkan kita semua dari jaman kegelapan kepada cahaya Islam. Aamiin Ya Rabbal ‘Aalamiin.

Beberapa pekan yang lalu saudara Ahmad Murjoko menghubungi saya bahwa tesisnya yang berjudul Mosi Integral Natsir 1950 di Pasca UI akan diterbitkan oleh PERSISPERS dan berharap pada saya selaku Ketua Umum Pengurus Pusat Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (PP KB PII) dapat memberikan kata sambutan dan pendapatnya. Dimana saudara Ahmad Murjoko juga tercatat sebagai Ketua Bidang Organisasi dan Pembinaan Wiayah. 

Sebagaimana kita ketahui bahwa Mosi Integral Natsir 1950 adalah gagasan brilian dari seorang negarawan Mohammad Natsir yang menginginkan kokohnya sendi-sendi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Gagasan Natsir tersebut menjadi salah satu bukti dari rentetan sumbangsih Umat Islam Indonesia terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang sangat tidak terbilang banyaknya dan sangat monumental.

Sumbangsih umat Islam terhadap Bangsa dan Negara Indonesia tidak akan pernah berhenti selama negara ini berdiri. Karena membicarakan kedaulatan NKRI maka tidak akan terlepas dari peran Umat Islam selama ini bahkan jauh sebelum NKRI merdeka. 

Antara Islam dan NKRI bagikan dua sisi dari satu mata uang yang sama. Karena jika membicarakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) maka mau tidak mau harus membicarakan peran dan posisi Umat Islam yang mayoritas di negeri ini. 

Namun dalam beberapa bulan lalu terutama menjelang tahun politik baik pada saat Pemilihan Umum maupun Pemilihan Kepala Daerah. Suhu politik Indonesia khususnya Daerah Khusus Ibukota Jakarta selalu memanas. 

Demi mengalahkan kelompok Islam maka kalangan anti Islam menuduh kelompok Islam sebagai kelompok yang tidak Nasionalis, tidak Pancasilais dan tidak cinta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Terkesan kelompok-kelompok anti Islam menuduh secara tidak langsung kelompok Islam adalah yang anti NKRI.

Asumsi ini tentu saja jauh panggang dari api. Ini adalah pandangan yang dapat mengelabui generasi muda yang tidak mengetahui sejarah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tersebut.

NKRI yang yang kita nikmati hari ini adalah hasil jerih payah salah satu tokoh besar Islam Indonesia yaitu Mohammad Natsir, anggota DPR RIS dari Partai Masyumi, Ketua Umum Partai Politik Islam Indonesia Masyumi dan Ketua Persatuan Islam (Persis) sekaligus pendiri Dewan Dawah Islamiyah Indonesia (DDII). 

Mengapa Natsir ?

Dalam konteks ini Mohammad Natsir ditonjolkan tidak bermaksud mengabaikan peran tokoh-tokoh bangsa lainnya. Karena ketika proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 ternyata tidak serta merta menjadikan Indonesia benar-benar sebagai negara yang merdeka dari penjajahan.

Bahkan Mesir sebagai negara Islam pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia setelah 5 (lima) tahun berikutnya yakni pada tahun 1950. 

Sementara itu setelah proklamasi kemerdekaan ternyata penjajah Belanda masih leluasa melakukan Agresi militernya berkali-kali yakni tanggal 12 Juli 1947 dan 19 Desember 1948 di Yogyakarta yang secara vulgar dipertontonkan pada masyarakat dunia.

Hampir saja negara Indonesia tenggelam dan menghilang dengan adanya agresi militer Belanda tersebut. 

Berikutnya pada masa-masa tersebut Belanda juga melakukan tipu muslihat dengan politik "devide et impera" nya menjadikan Indonesia sebagai negara boneka mereka.

Berbagai perjanjian dan tipu muslihat Belanda dilakukan untuk menggapai ambisi tersebut dimulai dari Konferensi Malino pada bulan Juli 1946. Kemudian dilanjutkan diadakan Persetujuan Linggarjati pada bulan Nopember 1946.

Masih belum puas juga Belanda meminta diadakan Perjanjian Renvile pada bulan Desember 1947 dan terakhir dipaksakanlah Konferensi Meja Bundar (KMB) pada bulan Desember 1949. 

Maka Indonesia saat itu benar-benar berubah secara keseluruhan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi Negara Republik Indonesia Serikat (RIS).

Namun disaat-saat genting seperti itu, tampilah sosok Mohammad Natsir menyelamatkan NKRI dari menjadi negara boneka seutuhnya Belanda menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kembali.

Hal-hal tersebut telah diungkapkan dalam Tesisnya saudara Ahmad Murjoko di Pasca Sarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia tahun 2004.

Dan selanjutnya Tesis tersebut akan diterbitkan oleh PERSISPERS pada 16 (enam belas) tahun berikutnya seperti yang pembaca nikmati sekarang ini.

Maka dengan diterbitkannya buku Mosi Integral Natsir tahun 1950 tersebut diharapkan dapat menurunkan kembali suhu yang selalu panas menjelang tahun-tahun politik secara nasional. 

Dan diharapkan dapat menyatukan kembali seluruh anak bangsa untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari rongrongan pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

Selanjutnya dengan mengambil spirit Mosi Integral Natsir tersebut diharapkan akan melahirkan gerakan persatuan nasional (rekonsiliasi nasional) seluruh anak bangsa yang berlatar belakang Suku, Agama maupun Ras yang berbeda-beda menuju Bhineka Tunggal Ika seutuhnya. 

Dan secara internal dikalangan umat Islam juga akan menumbuhkan gerakan persatuan secara massif yang dilandasi ukhuwah Islamiyah, beberapa organisasi islam maupun partai politik Islam yang mengalami dualisme kepengurusan segera bersatu kembali. 

Berikutnya untuk melestarikan spirit persatuan dan kesatuan dari Mosi Integral Natsir tahun 1950 tersebut maka perlu langkah-langkah tindak lanjut berikutnya yakni : 

1. Perlu mengajukan tanggal 3 April sebagai hari NKRI.

2. Mensosialisasikan gagasan Mosi Integral Natsir 1950 masuk dalam kurikulum nasional terutama mata pelajaran Sejarah Indonesia secara lengkap dan benar. 

3. Mensosialisasikan sejarah Biografi Mohammad Natsir dalam bentuk-bentuk kreatif lainnya seperti Film Pendek, Lomba Pidato Mosi Integral, Puisi Cinta Natsir maupun Komik dan lain sebagainya. Sehingga dapat mengundang daya tarik dikalangan generasi milenial,

4. Menerbitkan dan mencetak ulang buku-buku karya Mohammad Natsir dan atau karya-karya orang lain tentang Natsir. 

5. Melakukan pendekatan pada pimpinan Perpustakaan Nasional, Perpustakaan DPR RI, dan Perpustakaan Lemhanas, Lembaga Arsip Nasional dan Perpustakaan Daerah maupun perpustakaan beberapa Kementerian seperti Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Agama, Kementerian Hukum Dan HAM agar memberikan jalan dengan membuat katalog tersendiri atas nama buku-buku Mohammad Natsir.

6. Meminta pada Pemerintah agar membuat nama jalan dengan nama Mohammad Natsir baik di pusat maupun di daerah secara nasional terutama di jalan Kramat Raya persis di depan kantor pusat Dewan Dawah Islamiyyah Indonesia (DDII).(Sudono Syueb/ed)

Jakarta, 3 April 2020

Nasrullah Larada, S.IP. M.Si.
Ketum PP KB PII

Sumber: facebook.com

Post a Comment

0 Comments