About Me


MAAF DAN HARMONI KEHIDUPAN


Oleh: kasdikin

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com

  وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, (QS Annur 24:22)


Kata maaf (al-’afw) terulang dalam al-Quran sebanyak 34 kali, dari semua itu ada 7 kali yang  berbicara tentang pemaafan. Hal tersebut menunjukkan bahwa akhlaq saling memaafkan menjadi bagian terpenting dalam kehidupan seorang muslim. Artinya ada konsekuensi tertentu bila seseorang memaafkan atau tidak memaafkan terhadap seseorang yang pernah berbuat kesalahan kepadanya. Oleh karenanya memaafkan (Al-‘afw)   adalah salah satu sifat orang yang bertaqwa kepada Allah sebagaimana al-Qur’an menjelaskannya dalam QS. Ali ’Imran: 134. Ayat tersebut mendeskripsikan sikap dan cara  seorang Muslim yang bertakwa,  ketika  menghadapi seseorang yang melakukan kesalahan dan  kekeliruan terhadap dirinyanya dengan tiga cara, yaitu menahan amarah, memaafkan, dan berbuat baik terhadap siapapun yang berbuat kesalahan kepadanya.
Maaf (Al-‘afw) memiliki kedekatan makna dengan al-shafh. Dalam al-Mu'jam al-‘Araby al-Asasy, ketika kata al-'afw dimuta'addikan (‘afa-ya’fu- ‘afwan), ia memiliki makna memaafkan (ma'f'uw 'anhn = shafaha 'anhu). Namun ketika dilazim-kan (‘afa-ya’fu-‘afa’an-‘ufwan), ia bermakna hilang atau lenyap (zala, immaha), misalnya 'afa al-atsaru (jejak itu telah hilang). Baik sebagai muta'addi maupun lazim, makna kata 'afw tetap memiliki korelasi yang jelas dan berdekatan yakni menghapus. Bukankah memaafkan seseorang berarti menganggap hilang atau menghapus kesalahannya.
Ketika kita memaafkan orang lain, maka  berarti kita telah mengahapus bekas-bekas luka dihati kita,  yang diakibatkan oleh Tindakan atau perlakukan orang lain.  kalau kita tidak mengapus bekas luka itu, itu artinya kita tidak memaafkannya. Kalau kita tidak melupakan kesalahan dan bekas luka itu,  berarti kita tidak memaafkan, itulah arti maaf. 
Memaafkan itu  lahir dari kesadaran yang ada dalam hati  bahwa setiap orang bisa melakukan kesalahan, setiap orang bisa melakukan kekeliruan. Setiap orang juga bisa  melakukan kehilafan.  Memaafkan juga merupakan kesadaran bahwa Kesalah yang dilakukan oleh orang lain itu,  dapat juga kita lakukan dalam bentuk yang sama persis.  Bahkan kesalahan yang kita lakukan itu bisa juga lebih parah dan lebih buruk dari orang lain lakukan. Oleh karena itu maaf dan memaafkan adalah sangat dibutuhkan demi menjaga, dan  memelihara keharmonisan hubungan antar manusia. 
 Allah akan memuliakan siapapun yang mampu memaafkan kesalahan orang lain, dan ini telah dikabarkan Rasulullah SAW. Beliau bersabda, ‘Tidaklah seseorang memaafkan kecuali Allah akan menambah kemuliaannya.’ (HR Muslim no 2588).”
Redaksi lengkap hadis tersebut sebagaimana riwayat hadis Abu Hurairah berkaitan dengan tiga perkara yang di luar yang tampak. Hadits lengkapnya berbunyi, “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah SWT akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya’.” (HR Muslim no 2588)
Cara memaafkan kesalahan orang  lain itu masih ada yang lebih baik sebagaimana makna asli afwun itu, yaitu dengan membuka lembaran baru. Selembar kertas yang di dalamnya terdapat tulisan dari pensil yang salah, tentu seseorang dapat mengambil penghapus karet untuk menghapusnya. Seperti inilah ketika seseorang melakukan 'afw (memberi maaf). Seandainya kesalahan pada kertas itu ditulis dengan tinta, tentu orang tersebut akan menghapusnya dengan Tipp Ex agar tidak terlihat lagi, dan di sini orang tersebut melakukan takfir atau menutupi. 
Betapapun seseorang menghapus bekas kesalahan, pasti sedikit banyak lembaran tersebut tidak lagi sama sepenuhnya dengan lembaran baru. Bahkan boleh jadi kertas itu menjadi kusut dan tetap terlihat kusut.   Maka  yang lebih baik dari pada memaafkan itu adalah membuka lembaran baru, itu sebabnya berjabat tangan itu diibaratkan seperti membuka halaman baru. Kita saling membuka lembaran baru. Berjabat tangan tidak hanya  menghapus bekas luka dihati, tetapi kita telah menjalin hubungan baik dengan lembaran baru itu, sehingga kita bisa  memberi kebaikan kepada orang yang telah melakukan kesalah kepada kita,. Orang yang semacan inilah yang dinamai oleh al-Quran sebagai al-muksinin orang orang yang berbuat kebajikan yang sangat disukai oleh Allah SWT. 
Mari kita saling meaafkan agar terjalin hubungan yang harmonis,  agar teman lama kita semakin akrab hubungannya dengan kita. Mari kita saling memaafkan dengan orang  yang perna melukai hati kita, dan  beralih menjadi teman akrab kita, sehingga kita dapat bekerja dengan baik,  tanpa terganggu oleh ingatan buruk dari kesalahan orang lain. Mari kita saling memaafkan sehingga kita dapat melangkah lebih harmaonis, sehingga masyarakat akan dapat manfaat dan keuntungan akan keharmonisan antar  masyarakat itu. Itulah maaf dan memaafkan yang dianjurkan oleh al-Quran,  dan itulah sendi dari lahirnya masyarakat yang adil Makmur dan berprikemanusiaan.
Maaf memaafkan sangat kita butuhkan, karena jika  tanpa maaf orang lain,  itu  berarti kita tidak ingin dimaafkan oleh orang lain,  juga kita tidak ingin dimaafkan oleh Allah. dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu,? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.  MOHON MAAF LAIR DAN BATIN. Wallahu A’lam.

Penulis adalah Alumni Ponpes YTP Kertosono dan Kepala KUA Kecamatan Rengel Kab Tuban.

Post a Comment

0 Comments