About Me


LAILATUL QADAR DAN KEDAMAIAN


Oleh: Kasdikin

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Ada malam yang sangat istimewa yang terjadi pada bulan Ramdlan.  Malam tersebut adalah Lailatul qadar (Arab: laylat al-qadr). Dari segi bahasa lail itu  berarti malam, sedangkan Qadar mempunyai beberapa makna. Pertama bermakna, ketetapan atau kepastian,  di malam itu Allah menetapkan hal hal yang sangat istimewa  antara lain dengan turunya alquran. Disebut demikian juga karena orang yang ibadah pada malam itu  memiliki nilai sama dengan nilai ibadah seribu bulan bagi yang mendapatkannya sebagaimana disebut dalam Alquran surat al-Qadar,  Atau kalau saja mau dihitung, seribu bulan itu  sama dengan kurang lebih umur manusia, yakni 80 tahun. 
Dari situ dapat diasumsikan bahwa siapa saja yang mendapatkan malam lailatul qadar, maka akan mendapatkan ketetapan sebuah pengalaman hidup, yakni pengalaman ruhani yang amat berharga dibandingkan dengan hidup 80 tahun. Oleh karena itulah  lailatul qadar sangat ditunggu oleh kaum Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa,  karena malam tersebut jatuh bertepatan pada bulan Ramadlan, maka umat muslim berbondong-bondong dengan bangun malam mengerjakan shalat sunnah, shalat malam, tadarus, membaca dan mempelajari Al-Quran, serta berzikir iktikaf sepanjang malam.

Kedua bermakna  sempit, karena  di malam itu bumi sempit karena banyaknnya malaikat yang  berbondong-bondong turun ke bumi. Maka pada malam tersebut dianjurkan bagi umat muslim untuk banyak berdoa. Allah SWT berfirman:“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.” (Q.S Al-Qadr: 4)

ketiga malam mulia atau kemuliaan dan   dan gambaran  kemuliaannya itu seperti digambar dalam surat al Qadar, dia lebih mulia dari seribu bulan.  Sungguh, telah Kami turunkan (wahyu) ini pada malam yang Agung. Dan apa yang akan menjelaskan kepadamu Malam yang Agung (kemuliaan) itu? Malam yang Agung lebih baik dari seribu bulan (Q., 97: 1-3).

Kapan malam lailatul qadar itu turun, tidak ada seorangpun yang mengetahui. Memang ada beberapa hadits yang menjelaskan tentang turunya lailatul qadar, tetapi tidak satupun memberikan kepastian hari keberapa malam itu turun, salah satu diataranya adalah  hadits yang diriwayatkan oleh  Abu Said Al-Khudri radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah bersabda:

فَإِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَإِنِّي نُسِّيتُهَا وَإِنَّهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فِي وِتْرٍ

 "Seseungguhnya Aku diperlihatkan Lailatul Qadar, dan aku telah dilupakannya, dan saat itu pada sepuluh malam terakhir, pada malam ganjil." (HR. Bukhari No. 638, 1912, 1923). Sabda Nabi tersebut menjelaskan  bahwa sesungguhnya Nabi ingin mengatakan,  tidak ada yang dapat memastikan kapan turunnya lailatul qadar. Agaknya itu dilakukan dan disekenario demikian agar setiap saat sejak awal Ramadlan kita diharuskan selalu siap dan mempersiapkan diri untuk menyambutnya, karena malam itu tidak akan datang mengunjungi siapapun yang tidak mempersiapkan diri untuk menyambutnya.

Dirahasiakan turunnya lalitul qadar menurut tafsir al-fakhr al razi, yang dikutip oleh jalaludin rakhmat dalam Quranic Wisdom, adalah merupak bentuk dari sayang Allah kepada hambanya, Sekiranya malam qadar ini diberikan tahukan, boleh jadi ada orang melakukan maksiat pada malam itu. Dan melakukan maksiat sambil mengetahui keagungan malam itu sangat besar dosanya.

Sambutlah di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadlan ini dengan penuh ketundukan kepada Allah, penuh intropeksi diri Ikhtisaban,  mempersiapkan ruhani untuk menyambut kedatangan lailatul qadar, sehingga dengan sendirinya orang yang tidak memiliki kesiapan ruhani tidak akan mendapatkan lailatul qadar.


Salamun hiya hatta matlail fajr, dia selalu damai, damai dengan dirinya, damai dengan orang lain,  damai dengan lingkungan.  Orang yang bertemu dengan lailatul qadar  selalau hidup dalam kedamaian.  Kedamaian dalam arti Memberi kedamaian bagi orang lain. Atau paling tidak jika tidak damai dengan aktif seperti itu, maka dia akan damai dengan pasif, dalam arti Kalau tidak dapat memberi, maka dia tidak menghalangi orang lain utuk memberi, kalau tidak dapat atau tidak bias  memuji, maka dia tidak mencela, Kalau tidak dapat menyelamatkan orang lain,  maka dia tidak menjerumuskan rang lain. Itulah tanda-tanda orang hidup dalam kedamaian dan seperti itu pula tanda orang-orang yang  bertemu dengan lailatul qadar.Wallahu A’lam

Penulis adalah Alumni  Ponpes YTP kertosono dan Kepala  KUA kecamatan Rengel Kab Tuban

Post a Comment

0 Comments