About Me


Kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah (Antara Kritik Nalar Taqlidiyah dan Nalar Waqi’iyah)


Bukhori at Tunisi
(Alumni YTP Kertosono dan Penulis buku: “Sayap Liberal, Moderat, dan Literar Pondok Pesantren”)

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Kyai besar, kritikus sosial, penyair, pelukis (pernah melukis Inul Daratista yang di-“halaqahi” para “kyai”), dan sekaligus putra penulis Tafsir “Al Ibriz”, dalam salah satu ceramahnya yang diapload di You Tube, melontarkan kritikan keras, sekaligus sindiran kepada para “pembesar” (akabir), “pendukung” (musyajji’un), dan penganut (muttabi’) slogan “Kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah” (al Ruju’ ila al-Qur’an wa al Sunnah, “Back to the Qur’an and Sunna”) bahwa yang mereka rujuk adalah “Tarjamah Depag RI” yang berbahasa Indonesia, bukan tafsir-tafsir besar yang masyhur dan mu’tabar; juga tidak mengambil dari referensi kitab-kitab gundul standar pesantren salafiyah, dalam bidang fiqih, ushul fiqih, tauhid, kalam, manthiq, balaghah, hadits, ulumul hadits, tafsir dan ushul al tafsir, Nahwu (gramatika), sharaf (morfologi), dan lain sebagainya. Pernyataan dalam salah satu pengajian tersebut menjadi candaan dan tertawaan hadirin yang mendengarnya.

Bagi yang belum melihat tayangan tersebut, tak “berilmu”, biasa saja, tidak menjadi masalah, candaan biasa; sedang bagi yang menyaksikan video tersebut, dengan bekal sedikit ilmu kepesantrenan, tentu sangat miris, menyesakkan, dan menyedihkan. Sedih, karena sindiran tersebut ada benarnya, karena kenyataannya (waqi’iyyah) memang seperti itu, fasih untuk berbicara dengan terjemahan Depag, dan tidak fasih dengan rujukan kitab klasik. Banyak dai, muballig, dan pesohor yang mengajak kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah, tidak menguasai ilmu-ilmu klasik Islam. 

Sedih, karena yang tahu dan banyak ilmu klasik keislaman, “tidak faham” makna, isi, dan tujuan slogan “Kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah”. Padahal slogan al Ruju’ ila al-Qur’an wa al Sunnah sudah diucapkan oleh Baginda Nabi Muhammad di saat akhir “bi’tsah”-nya. Sedih, karena Allah dan Rasul-Nya sendiri yang mengajak untuk kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya, dibuat tertawaan dan gurauan. Padahal, tokoh-tokoh yang mengajak juga bukan dari kalangan sembarangan, mulai dari para Imam Madzhab, Ahli Hadits, tokoh Abad Pertengahan, hingga akhir Abad ke-20. Mulai Imam Abu Hanifah, Maliki, Syafi’i, Hanbali, Imam Bukhari, Muslim, hingga Abu Dawud al-Zhahiri, Ibn Hazm, Ibn Taimiyah, Muhammad ibn Abdil Wahhab, Sayyid Ahmad Khan, Afghani, Abduh, Ridla, Kandahlawi, Dahlan, Abid Jabiri, Hassan Hanafi, hingga Munawar Khalil. Bahkan ada disertasi yang ditulis oleh mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga, yang sekarang menjadi kepala BPIP, membahas tentang: “The Slogan Back to the Qur’an an the Sunna, A Comparative Study of Responses of Hassan Hanafi, Muhammad Abid al-Jabiri, and Nurcholish Madjid” yang dipertahankan di McGill University, Canada. Berarti slogan tersebut menarik dan mempunyai nilai, bukan sesuatu yang kosong, nihil makna.

Ajakan untuk kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah, bukan monopoli kelompok dan organisasi tertentu. Slogan itu milik semua, karena notabenenya merupakan seruan Allah dan Rasul-Nya. Sehingga dari kelompok dan organisasi mana pun, memiliki kewajiban yang sama dalam menegakkan nilai, doktrin, dan sumber Agama Islam, yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah, dan merujuk kepada kedua sumber tersebut. Hal yang sama juga, semuanya harus punya ghirah yang sama untuk kembali doktrin dasar Islam: al-Qur’an dan al-Sunnah. Siapa pun, 

Dan, tak seorang pun berhak mengklaim sebagai kelompok yang paling absah sebagai penafsir resmi doktrin yang dikehendaki al-Qur’an dan al-Sunnah; begitu juga, tak seorang pun berhak mengklaim sebagai kelompok luar yang tak memiliki wewenang untuk menamakan diri sebagai pemegang otoritas untuk merujuk kepada al-Qur’an dan al-Sunnah. Semuanya sama, punya hak dan kewajiban yang sama untuk berpegang teguh, mempertahankan, dan memperjuangkan “Kalam” Allah dan Sunnah Nabi-Nya, sebagai petunjuk, rujukan, dan pedoman segala masalah ukhrawi dan duniawi.

Jadi, klaim slogan: al Ruju’ ila al-Qur’an wa al Sunnah bukan dinisbatkan ke dalam kelompok dan persyarikatan tertentu, namun sudah menjadi milik publik global, baik yang menggunakan bahasa Arab, Urdu, Indonesia, Inggris, Prancis, dan lainnya. Karena itu sebagai bagian dari “dlaruriyyah” (kebutuhan dasar) untuk “refresh” keberagamaan Islam.

Kembali kepada Qur’an dan Sunnah, Perintah Syar’i

Pertama, Slogan Kembali kepada Qur’an dan Sunnah, al Ruju’ ila al-Qur’an wa al Sunnah, datang dari al-Qur’an sendiri. Kata Allah:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٞ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا ٥٩ 

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Ajakan untuk kembali kepada Qur’an dan Sunnah, adalah Qur’ani. Ia murni seruan Tuhan, ajakan Allah SwT, bukan seruan dari syetan, iblis, berhala, thaghut, atau orang-orang tersesat dari kebenaran. Seruan itu selalu relevan dan up to date, shalih li kulli zaman wa makan (صالح لكل زمان ومكان), tidak akan basi. Karena pasang dan surut pemikiran Islam pasti terjadi, karena ia bersifat dinamis, berkembang, tidak statis, tidak stagnan. Ia butuh penyegaran (refresh), pembaruan (tajdid), modernisasi (tahdits), sofistikasi (kecanggihan) untuk tetap “shalih” (baik), manfaat dan mashlahat untuk semua.

Kedua, pada saat Haji Wada’, Nabi pun berpesan kepada para Sahabatnya untuk: “Berpegang teguh kepada al-Qur’an dan al-Sunnah, agar tidak sesat”. Mafhum mukhalafahnya: Jika keluar dari garis yang ditunjukkan Allah  dan Rasul-Nya, pasti sesat. 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ النَّاسَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ، فَقَالَ: ( ... إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوا أَبَدًا كِتَابَ اللَّهِ ، وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ) رواه الحاكم في "المستدرك"

“Dari Ibn Abbas, Bahwa Rasulullah saw. Berkata saat khutbah pada Haji Wada’, Sabda Nabi, “Sungguh aku tinggalkan “sesuatu” pada kalian, jika kamu berpegang kepadanya, kalian tidak akan sesat selamanya, yaitu Kitab Allah (Al-Qur’an) dan sunnah Nabi saw.”
Sesat (ضال) itu bertingkat, ada yang berat hingga yang ringan. Ada yang menggunakan bahasa “kasar”,  ada yang pakai bahasa “keromo”, “halus”. Ada tingkat tinggi, ada kelas bawah. Ada yang terang terangan ada yang samar-samar (khafi). Segala penyimpagan adalah kesesatan, namun kadar kesesatannya, tergantung kadar penyimpangannya.

Sikap ambigu, ragu, mendua, adalah pangkal “ketidak percayaan” (unbelief, kufr), dan itu bagian dari ksyirikan. sedangkan “syirik” pangkal segala dosa, Tuhan diduakan termasuk syirik. Tuhan dimadu juga syirik. Tuhan disejajarkan dengan makhluk ciptaan-Nya, juga syirik. Sikap mendua itulah, menjadikan pandangan mata, pendengaran telinga, perasaan hati jadi mati. Mata buta, telinga tuli, mulut bisu, hati tak punya rasa, sehingga menjadi gelap, suram, tak tahu arah kebenaran. Yang benar ada yang diakuinya, yang tidak cocok dengan aku, bukan minni, tapi munhu, atau minka. Jadi, ashabiyah lahir dari penolakan terhadap adanya sumber kebenaran tunggal, yaitu Allah, yang menurunkan firmannya berupa wahyu, dan “diterjemahkan” oleh nabiNya melalui “sunnah” yang dilaluinya. 

Ketiga, Saat Mu’adz ibn Jabal diutus ke Yaman, juga diindoktrinasi Nabi untuk berpegang teguh kepada al-Qur’an dan al-Sunnah. Jika tidak mampu menemukan dari 2 (dua) sumber pokok tersebut, Muadz disuruh untuk berijtihad dengan “ra’yu”-nya.

: عن الحارث بن عمرو ابن أخي المغيرة بن شعبة عن أناس من أهل حمص من أصحاب معاذ بن جبل أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لما أراد أن يبعث معاذا إلى اليمن قال: كيف تقضي إذا عرض لك قضاء؟ قال: أقضى بكتاب الله، قال فإن لم تجد في كتاب الله؟ قال فبسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال فإن لم تجد في سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ولا في كتاب الله؟ قال أجتهد رأيي ولا آلو؟ فضرب رسول الله صلّى الله عليه وسلّم صدره وقال: الحمد لله الذي وفّق رسول رسول الله لما يُرضي رسول الله

 “Dari Haris ibn Amr, dari Ibn Akhi al-Mughirah ibn Syu’bah, dari Anas, dari penduduk Hamsh, para Sahabat Mu’adz ibn Jabal. Bahwa Rasulullah saw., saat hendak mengutus Muadz ke Yaman, Nabi bertanya, “Bagaimana caranya kamu menetapkan suatu keputusan yang diajukan kepada kamu?” Mu’adz menjawab, “Aku akan menetapkan hukum berdasarkan Kitab Allah.” Nabi bertanya, “Bagaimana jika di dalam Kitab Allah tdak kamu temukan?” Dia menjawab, “Aku akan menetapkan hukum sebagaimana “sunnah” Rasulullah saw.” Nabi bertanya, “Jika kamu tidak menemukan di dalam sunnah Rasulullah saw dan juga Kitab Allah? Dia menjawab, “Aku akan berijtihad dengan ra’yuku....” Lalu Rasulullah menepuk dada Mu’adz, seraya berkata,”Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan pemahaman kepada utusan Rasulullah atas apa yang diridlai oleh Utusan Allah”

Jadi, Mu’dz ibn Jabal sendiri, dalam menetapkan sebuah keputusan hukum, rujukan utamanya adalah Kitab Allah, lalu Sunnah Rasul, kemudian Ra’yu (ijtihad). Itulah fi’liyah shahabat dalam memutus suatu perkara hukum. Itu adalah tradisi sahabat (عادة الصحابة) yang ditaqrir Nabi, yang turun temurun hingga muslim sekarang. “Turats” yang baik itu bukan barang baru. Ia klasik dengan sendirinya, namun “antiq” dan menjadi mahal harganya, karena unik, berkualitas, dan bernilai tinggi, di tengah derasnya budaya lokal dan modern. Dengan demikian, kewajiban muslim untuk mentaati dan menjalan “sunnah” Nabi tersebut.

Keempat, peristiwa Tahkim zaman Khalifah Ali saat berperang melawan Mu’awiyah, Ali menerima ajakan arbitrase tersebut, karena akan merujuk “Kitab Allah” sebagai rujukannya. Walaupun di Meja Perundingan, utusan Ali: Abu Musya al-Asy’ari dipecundangi Amr ibn al-‘Ash. Peristiwa “ketakjujuran” Tahkim tersebut juga yang menimbulkan kelompok sempalan (khawarij” karena kecewa sikap “munafiq” atas kekacauan politik dengan tidak menyandarkan tahkim kepada Kitab Allah [dan Rasul-Nya], namun menyandarkan kepada “siyasah”.

Kaum Khawarij adalah kaum yang memperjuangkan tegaknya al-Qur’an dan al-Sunnah. Bila di kemudian hari kemudian menempuh jalan kekerasan dalam menyelesaikan konflik, maka itu merupakan “kecelakaan” sejarah. Sebagaimana yang lain juga melakukan kecelakaan sejarah, namun tidak disudut-sudutkan, tidak disalah-salahkan dan tidak diekstem-ekstremkan, karena memiliki kekuasaan. Padahal kelompok kekuasaan, juga banyak melakukan noda hitam, melebihi kelompok “sempalan”. Semangat kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah Nabi pun tidak harus diidentikkan dengan kaum sempalan (khawarij), karena ia genuine dari Islam itu sendiri. Jika pun khawarij mengusung itu murni tanpa kekerasan, maka sikapnya benar. Yang salah adalah kekerasannya dan sikap ekstremnya yang datang kemudian, sebagai upaya “pembinaan” dan kesetiaan kelompok. Doktrin “ekstrem” pun sebenarnya juga dipinjam oleh setiap kelompok, organisasi, atau jam’iyah apa pun. Cuma disamarkan dan diperhalus. Kekerasan mayoritas, sering dibenarkan padahal salah, sedang kekerasan minoritas, disalahkan karena tak punya kuasa. Jadi core-nya ada kekuasaan. Siapa pemegang tampuk kekuasaan, maka di situ produk kebenaran diproduksi, sedang kebenaran minoritas, dipersalahkan, karena periferal.

Nalar “taqlidiyah” (tradisionalis).

Pertama, Nalar kelompok tradisionalis (التقليدية) cenderung mempertahan kemapanan (status quo), karena dengan posisi yang ada sudah “nyaman”. Logikanya, sudah enak dan nyaman kenapa harus berubah? Padahal perubahan belum tentu menghasilkan kenyamanan. Bukankah hidup yang dicari adalah kenyamanan. Hidup adalah mencari yang pasti, bukan mencari yang tidak pasti. Mencari kenyataan, bukan mencari angan-angan. Makan singkon beneran, bukan makan roti, tapi impian. Oleh sebab itu, bagi kaum tradisonalis, perubahan (taghyir, change) adalah barang tabu, yang tidak laik untuk dibicarakan. “Kita, tugasnya melestarikan (muhafazhah) tradisi yang telah berjalan mapan dan sudah teruji.

Padahal, secara alamiah, alam saja selalu melakukan pembaharuan. Bumi berberak memperbaharui dirinya, baik melalui pergeseran lempeng, gunung meletus, gempa, dan lainnya. Pohon, tumbuhan, binatang, dan lainnya, tumbuh berkembang, hilang berganti. Ia bergerak dan tumbuh untuk memenuhi hajatnya. Jika tetap bertahan pada kondisi lama, tentu akan “termakan” waktu dan tempat. Tidak bisa bertahan. Yang tidak bisa bertahan, akan punah.

Kedua, karena itu, kaum tradisionalis, cenderung anti perubahan, tidak mau mengikuti perubahan zaman. Yang dikaji dari doeloe, ya itu itu meloeloe. Dari doeloe pakai kertas kuning, hingga sekarang kertas kuning. Sehingga kitab-kitab modern seperti Tafsir al-Manar, Risalah Tuhid, di beberapa tempat diharamkan untuk dibaca dan diajarkan, karena pakai “kertas putih”. Kertas putih, identik dengan kaum modernis, orang sekolahan, bukan pesantren.

Ketiga, Tertutup, tidak mau menerima pandangan dari yang lain. Cukup dengan yang diterima dan dikasih oleh guru, kyai, syaikh, dan panutannya.

Keempat, karena itu, ia Nerimo ing pandum. Apa yang telah ada sejak dulu, diterima apa adanya, dan diterima semuanya sebagai kebenaran. Karena kesalihan, kewara’an, keáliman, dan kedalaman pengetahuan ulama’ dahulu, maka cukup itu saja. Tidak perlu yang baru dan perubahan.
Kelima, Romantis, cenderung mempertahankan “indah”-nya masa lampau (al muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih). Jika pun menerima yang baru, jika “akabiruhum” menerima pembaruan itu.

Keenam, ciri yang kontradiktif: Kritis ke luar, pasif ke dalam. Kaum tradisionalis sangat kritis kepada pemikiran dan budaya “dari luar” kelompoknya. Bila ada pendapat, pemikiran dari luar, maka akan dianalisa, dipilah, namun belum tentu dipilih apa mereka analisa. Namun tidak kritis ke dalam, malah anti kritik jika “ke dalam”. Cakap untuk menganalisa dengan keilmuan tradisonal yang dikuasai, namun tidak digunakan untuk “menguliti” faham-faham yang ada di luar, tetapi tidak untuk ke dalam.

Nalar “waqi’iyah” (realitas)

Kitab Allah dan Sunnah RasulNya, merupakan “warisan Nabi Muhammad saw.” Yang harus dipegang-teguh. Keduanya merupakat wasiat Nabi yang disampaikan Nabi saat mau mengakhiri bi’tsahnya. Keduanya harus dipelihara oleh ummatnya. Dari golongan, organisasi, persyarikatan atau jam’iyyah apa pun, harus memiliki keyakinan tersebut. Salah satu dari keduanya tidak boleh dipisahkan, menerima satudari dua itu, dikatagorikan kufur oleh Allah SwT (QS. 4:150).

Dalam kenyataannya (waqi’iyah), memang ada jarak keilmuan, antara pengusung al Ruju’ ila al-Qur’an wa al Sunnah, Back to the Qur’an an the Sunna, dengan kelompok al Muhafazhah ‘ala al-Qadim al-shalih. Sebenarnya, sebanding saja, setali tiga uang. Ibarat piramida, maka di pucuk piramid, hanya ada segelintir tokoh saja yang qualified keilmuannya, yang lain tentu ada di bawahnya. Sedang yang paling bawah, sedikit pengetahuannya, juga tak jauh berbeda. Maka penyebutan tidak punya ilmu, dan hanya merujuk Qur’an terjemah Depag RI, tentu hanya ada pada level dasar Piramida, bukan pada puncaknya. Karena juga ada yang menjabat di puncak, juga tidak menguasai kitab kuning, namun menguasai kitab putih saja. Pada dua mainstream, dua-duanya ada. Namun pada banyak kasus, memang kelompok “baru”, banyak belajar dari “Mbah Goegle”, daripada kepada “Mbah Yai” (Syaikh). Dalam bahasa Ustadz Adi Hidayat atau Gus Baha’, keilmuannya tidak punya sanad, karena tidak punya riwayah yang muttashil dengan perawi yang memiliki otoritas keilmuan yang dibacakan atau diterimakan. Belajarnya otodidak. Untung jika benar, jika salah, maka tidak ada yang membenarkan, mengoreksi, dan menyalahkan.

Namun pada kelompok al Muhafazhah, juga sebatas mustami’in saja, bukan berada di level “pembaca”. Dalam hal ini, di kalangan bawah, justru kaum al Ruju’, lebih “terdidik” dibandingkan dengan kaum al Muhafazhah. Sehingga mereka lebih kritis dan terbuka. Namun dalam segi tahfizh, kaum al Muhafazhah lebih banyak “rapalan”-nya dibandingkan dengan kaum al Ruju’, sehingga kelihatan lebih “nyantri”.

Dalam satu vidio malah dishare perdebatan alumni pondok pesantren dengan seorang yang mengusung al Ruju’... dengan membawa kitab gundul, Cuma berwarna putih. Yang satu merendahkan lainnya, “...Karena baca kitab gundul saja gak becus, kok ngritik pendapat kyai.” Yang satu berkata, “Sudah tahu salah kok ya tetap tak berubah pada kesalahananya.” Andai dua-duanya, saling terbuka, maka akan ada “titik temu” (kalimah sawa’”) untuk kemajuan ummat. Ibarat perbedaan Umar dengan Abu Bakar dalam masalah “tadwin”, kulminasinya adalah ditulisnya al-Qur’an dalam “satu mushaf” resmi.

Realitas (waqi’iyah) itu harus diterima, bila mau meningkatkan grade kelasnya. Baik dari kelompok al Ruju’ maupun dari kelompok al Muhafazhah. Dua-duanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Adanya keterbukaan untuk menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing, insyaallah, akan meningkatkan “nilai tambah” ummat Islam.

Yang ahli tidak perlu jumawa karena menguasai keilmuan tradisonal Islam, lalu menolak pembaharuan, karena tidak ada teks dalam kitab-kitab klasik. Yang punya girah tinggi untuk kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah, jangan Cuma belajar ke Mbah Goegle, sehingga keilmuannya harus ditingkatkan pada penguasaan kitab-kitab klasik. Dua-duanya jika bertemu dalam satu “belanga”, tentu enak untuk memakannya. Karena sudah diracik dengan bumbu yang pas sesuai takarannya (epistemologi).

Post a Comment

0 Comments