About Me


KEBAIKAN ITU TIDAK PERNAH SIA SIA


Oleh: Kasdikin

(Alumni Ponpes YTP, Kertosono dan Kepala KAU Kecamatan Rengel, Kab. Tuban)

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Suatu hari,  seorang anak lelaki miskin yang hidup dari menjual asongan dari rumah ke rumah, ia menemukan bahwa dikantongnya hanya tersisa beberapa uang saja, dan saat itu dia sangat lapar. Anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya, hanya untuk menutupi rasa laparnya. Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saat seorang ibu muda yang cantik membuka pintu rumah.
Anak itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya punya keberanian meminta segelas air untuk menghilangkan dahaganya. Ketika ibu muda tersebut melihat sianak itu, dalam hatinya ia berkata bahwa anak lelaki tersebut pastilah sangat lapar,  oleh karena itu, ia mencari makanan di dapur, di kulkas, tapi ia tidak menemukan makanan apapun, maka    ia hanya bisa membawakan segelas  susu. Kemudian diberikanlah kepada anak lelaki itu, dan anak itu meminumnya dengan lambat, dan berhenti minum, hanya untuk  bertanya,  “Berapa uang yang harus saya bayar untuk segelas besar susu ini bu?” Ibu itu menjawab, “Kamu tidak perlu membayar apapun”. “Orang tua kami mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk sebuah kebaikan, Agama kami juga mengajarkan agar ihlas dalam menolong orang, “Kata ibu muda itu menambahkan. Anak lelaki itu kemudian menghabiskan susunya dan berkata, “Dari dalam hatiku yang paling dalam aku berterima kasih.” 
Selang bebera tahun  kemudian, ibu muda dahulu  (yang kini sudah lanjut usianya), ia mengalami sakit yang sangat kritis. Balai pengobatan di daerahnya sudah tidak sanggup menangani penyakit komplikasi yang dideritanya,  dan akhirnya si ibu ini dirujuk  ke sebuah rumah sakit, dimana terdapat dokter spesialis bernama dokter  Sobur Nur Zaman Ali, maka tibalah giliran   dipanggil untuk melakukan observasi. Pada saat ia mendengar nama kota asal si ibu tersebut. Segera ia bangkit dan bergegas turun melalui ruang rumah sakit, menuju kamar si ibu tua tersebut. Dengan jubah kedokterannya ia menemui si ibu itu.  Dokter itu kemudian kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan upaya dan tindakan  yang terbaik untuk menyelamatkan hidup ibu itu. Mulai hari itu, Ia selalu memberikan perhatian khusus pada penanganan ibu itu.
Setelah beberapa minggu dengan melalui perjuangan yang panjang, akhirnya ibu ini  dinyatakan sembuh. Dokter meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya untuk minta persetujuan. Dokter melihatnya, dan menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan, dan kemudian mengirimkannya ke kamar pasien. Ibu tua itu takut untuk membuka amplop tagihan tersebut, ia sangat yakin bahwa dirinya tak akan mampu membayar tagihan tersebut sekalipun ia harus mencicil seumur hidupnya. Akhirnya Ia memberanikan diri untuk membaca tagihan tersebut, dan berulangkali ia membacanya  ibu ini menangis, bahkan hampir pinsan, karena begitu banyaknya tagihan yang harus dibayar. Sebelum dia menutup kembali lipatan kertas tagian itu, ibu ini  melihat  sesuatu tulisa di pojok atas lembar tagihan tersebut.  Ia membaca sebuah tulisan yang halus yang berbunyi. “TELAH DIBAYAR LUNAS DENGAN SEGELAS  SUSU.”  TERTANDA, dokter Sobur Nur Zaman Ali. 
Air mata kebahagiaan membanjiri mata ibu ini, ia ingat pada peristiwa beberapa tahun lalu. Ia kemudian berdoa, “Tuhan, terima kasih, bahwa cintamu telah memenuhi seluruh bumi melalui hati dan tangan manusia.” (cerita ini sangat populer, dan banyak ditulis di media, juga terdapat didalam sebuah buku, Setengah lsi Setengah Kosong  Hal; 26 karya Parlindungan Marpaung)
Cerita ini memberikan gambaran bahwa sekecil apapun  kebaikan yang kita lakukan pasti akan dibalas Oleh Allah, dengan cara Nya sendiri. Kebaikan yang kita lakukan tidak akan pernah sia-sia. Dan kita harus  percaya bahwa kebaikan-kebaikan   akan kembali pada kita, sebagaimana Firman Allah “jika kamu tekun melkukan kebaikan, kamu melakukan kebaikan untuk dirimu sendiri (QS al Isra’ 17:7)
Setiap kebaikan yang kita berikan sekecil apapun, cepat atau lambat akan dibayar lunas oleh Allah, bahkan balasanya akan lebih baik dari apa yang kita perbuat, sebagaimana firman Allah “ Adapun siapa saja   mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An-Nahl: 97). 
Ramadlan adalah bulan penuh berkah, dimana setiap kebaikan yang kita lakukan akan dilipatgandakan balasanya. Cerita diatas seharusnya bisa menginspirasi, dalam hidup ini, bahwa tidak ada kebaikan yang sia-sia, teruslah beramal, teruslah berbuat baik, ihlaskan apa yang kita lepas, karena Allah tidak akan pernah ingkar janji. Wallahu A’lam.

Post a Comment

0 Comments