About Me


KEBAHAGIAAN DAN KEMARAHAN


Oleh: Kasdikin
(Alumni Ponpes YTP, Kertosono dan Kepala KUA Kec. Rengel, Tuban)

Editor: Sudono Syueb

Harianindonesiapost.com Dalam sebuah acara pernikahan,  kami bersama rombongan pengatin laki-laki  sengaja  berangkat lebih awal karena khawatir terlambat.  Dan sampai ditempat mempelai putri  20 menit lebih awal  dari jam perjanjian pelaksanaan pernikahan. 
Karena rombongan kami sudah 20 menit  menunggu, tuan rumah mulai panik.  Waktu terus berjalan jam sudah menunjukkan pukul 10.10 wib, berarti sudah 30 menit kami menunggu, dan pengiring mulai gerah.
Di kejauhan tampak dua sepeda motor yang dikendarai Penghulu dan Pembantu Penghulu, melaju dengan kencang menuju tempat resepsi, sampailah bapak penghulu di acara itu pukul 10. 15 wib. Artinya bapak penghulu 15  menit lebih lambat dari rencana yang di sepakati. Karena keterlambatan itu  shahibul hajatnya marah-marah,
“ Bapak ini bagaimana,  kita kan sudah ada kesepakatan bahwa pelaksanaan ijab qobul dikasanakan jam 10.00, kenapa bapak terlambat 15 menit, apa bapak tidak tau kalau acara ini sudah disusun rapi dengan berbagai acara, kami mengundang banyak orang, para pejabat, para tokoh masyarakat,  kenapa bapak masih terlambat”. Tuan rumah pun  terus meluapkan kemarahannya pada penghulu.
Tuan Rumah itu menyalahkan penghulu, seolah-olah si penghulu punya banyak pilihan. Dia pikir penghulu memang sengaja untuk menyakitinya, dan memperlambat perjalannya agar acara itu molor.  Seakan-akan penghulu dengan sengaja berkata, “Aha! Aku ada janji penting dengan pengantin, yang mengundang banyak orang. Aku akan memperlambat perjalananku. Aku akan main-main dulu disini dengan orang lain, agar acara itu menjadi kacau. alhamdulillah acaranya kacau,”. 
Kemarahan, berasal dari kata  marah (bahasa Inggris: wrath, anger; bahasa Latin: ira), adalah suatu emosi yang secara fisik mengakibatkan antara lain.  peningkatan denyut  jantung, tekanan darah,  serta tingkat  adrenalin,   dan noradrenalin. Rasa marah menjadi suatu perasaan yang dominan secara perilaku, kognitif, maupun fisiologi saat seseorang membuat pilihan sadar untuk mengambil tindakan untuk menghentikan secara langsung ancaman dari pihak luar. 
Marah merupakan perasaan mendalam sebagai jawaban atas frustasi, sakit hati, kecewa atau terancam. Platt dalam Crossing the line: Anger vs. Rage, mengatakan, marah mempunyai keuntungan dan kerugian. Keuntungannya adalah menyambut rasa takut yang datang dari bahaya dan membangun percaya diri dalam merespon bahaya atau ancaman yang mendorong respon “lari atau lawan”. Sementara kemarahan besar, tantangannya adalah mematikan rasa dan kognisi. Ia mengatakan kalau kita gagal mengenali dan memahami tingkat kemarahan kita, dapat menimbulkan banyak masalah.  Kita dapat melihatnya, kemarahan memicu sakit jantung, kekambuhan asma, darah tinggi, dan banyak lagi.
Banyak filsuf dan penulis telah memperingatkan terhadap kemarahan yang spontan dan tak terkendali, terdapat ketidaksepakatan tentang nilai intrinsik dari kemarahan. Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk tidak marah dalam menghadapi situasi apapun, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh  Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah aku wasiat.” Beliau menjawab, “Janganlah engkau marah.” Lelaki itu mengulang-ulang permintaannya yang sama, (namun) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (selalu) menjawab, “Janganlah engkau marah.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6116] dalam kitab Arbai’in ini hadis yang ke 16.
Marah bukanlah respon yang cerdas dalam mensikapi semua persoalan. Karena Orang bijak selalu bahagia dalam kondisi apapun, dan orang yang bahagia tak akan marah. Marah,  adalah tidak masuk akal bagi orang yang bahagia. Oleh karena itu puasa mengajarkan kita untuk menjadi orang yang cerdas, menjadi orang yang berbahagia, dengan menghidari marah. Wallahu a’lam.

Post a Comment

0 Comments